Tugas 4 Klasifikasi bunyi bahasa
Nama : Fahri
Nim : 1955042020
Prodi : PBSD B
Klasifikasi bunyi bahasa
BUNYI VOKAL
Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan melibatkan pita-pita suara tanpa penyempitan atau penutupan apa pun pada tempat pengartikulasian mana pun. Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara, setelah arus udara keluar dari glotis (celah pita suara), lalu arus ujar hanya “diganggu” atau diubah oleh posisi lidah dan bentuk mulut. Misalnya, bunyi [i], bunyi [a], dan bunyi [u].
Bagan vokal
hampar
|
bulat
|
hampar
|
bulat
| |||||
tinggi
|
t
|
i
|
Ǖ
|
֗ǝ
|
і
|
u
| ||
k
|
i
|
U
| ||||||
tengah
|
t
|
e
|
ö
|
ǝ
|
ë
|
o
| ||
k
|
є
|
ɔ̈
|
ᶺ
|
ɔ
| ||||
rendah
|
ӕ
|
a
| ||||||
depan
|
pusat
|
belakang
| ||||||
Beberapa jenis vokal
1. Vokal tinggi, vokal rendah dan vokal tengah
Penggolongan ini adalah penggolongan menurut tinggi rendahnya vokal, yaitu menurut tinggi rendahnya posisi lidah terhadap langit-langit. Misalnya untuk mengucapkan [a] seperti dalam kata asuh posisi lidah adalah rendah terhadap langit-langit. Dalam mengucapkan [i] (hidup) lidah posisinya tinggi, dekat pada langit-langit sedangkan dalam mengucapkan [Ə] (lebih) posisi lidah adalah sekitar ditengah posisi tinggi dan posisi rendah.
2. Vokal depan, vokal belakang, dan vokal madya
Bila lidah itu “datar” permukaan nya, vokal adalah vokal depan seperti halnya [a] dan [i] sebaliknya, apabila lidah lebih rendah dibelakang maka vokalnya merupakan vokal belakang seperti dengan [o] dalam kata obat dan dengan [ὸ] dalam kata pokok. Posisi lidah menurut depan belakangnya dapat juga berupa kurang lebih diantara depan dan belakang dan vokal dengan posisi lidah tersebut adalah vokal madya, misalnya seperti [ә] dalam kata tengah dan [ʌ] dalam kata Inggris but.
3. Vokal bundar dan vokal tak bundar
Perbedaan bundar tak bundarnya berdasarkan dari kedua bibir. Misalnya vokal [i] merupakan vokal yang tak bundar dan bila posisi lidah menurut tinggi rendahnya serta menurut depan belakangnya dipertahankan tetapi dengan memperbundar kedua bibir, maka hasilnya adalah vokal [ȕ] seperti dalam kata jerman grȕn ‘hijau’.
4. Vokal panjang dan vokal pendek
Perbedaan ini menyangkut lamanya atau kuantitas pelafalan vokal, lamanya adalah relative. Misalnya [ù] dalam kata Inggris full adalah pendek, sedangkan [u] bergaris bawah dalam kata Inggris fool adalah vokal panjang.
5. Vokal nasal (vokal sengauan) dan vokal oral
Dalam pengucapan vokal oral, seluruh arus udara keluar melalui mulut, dan rongga hidung tertutup (dengan menggerakkan langit-langit lunak ke dinding belakang rongga kerongkongan), sebaliknya dalam pengucapan vokal sengauan ialah sebagian dari arus udara yang keluar melalui rongga mulut, sebagaian yang lain melalui rongga hidung (langit-angit lunak dirturunkan sedikit untuk memungkinkan bangun mulut yang demikian). Contoh dari vokal nasal banyak ditemukan dalam bahasa Prancis : [ә] bergaris bawah dalam kata un “satu”; [o] bergaris bawah dalam kata oncle “paman”; [a] bergaris bawah dalam kata bande “rombongan” dan terakhir [ӕ] dalam ainsi “demikian”.
6. Vokal tunggal dan vokal rangkap dua atau diftong
Dalam pelafalan [a] bangun mulut sama dari permulaan sampai akhir, vokal seperti itu disebut vokal tunggal. Sedangkan dalam pelafalan vokal rangkap dua atau yang biasa dikenal dengan sebutan diftong, maka setengah lamanya pelafalan vokal, bangun mulut di ubah. Misalnya [aᵤ] dalam kalau adalah diftong; pelafalannya mulai dengan bangun mulut rendah-depan dan berakhir dengan bangun tinggi-belakang. Sebuah diftong tidak sama dengan dua vokal tunggal berturut-turut; misalnya meskipun [aᵤ] dalam kalau berupa diftong , [a]+[u] dalam baur merupakan deretan dua buah vokal tunggal.
BUNYI KONSONAN
Konsonan terjadi setelah arus ujar melewati pita suara diteruskan ke rongga mulut dengan mendapat hambatan dari artikulator aktif dan artikulator pasif. Misalnya, bunyi [b] yang mendapat hambatan pada kedua bibir; bunyi [d] yang mendapat hambatan pada ujung lidah (apeks) dan gigi atas; atau bunyi [g] yang mendapat hambatan pada belakang lidah (dorsum) dan langit-labgit lunak (velum). Apabila dalam pengartikulasian konsonantal pita-pita suara dipakai untuk menghasilkan suara, maka konsonan itu adalah konsonan bersuara. Bila peranan pita-pita suara tidak ada, konsonan yang bersangkutan adalah konsonan tidak bersuara.
Bagan konsonan
posisi arti-kulasi
cara
artikulasi
|
bilabial
|
labiodental
|
dental
|
alveolar
|
palatal
|
sentrodomal
|
dorsovelar
|
Uvular
|
faringal
|
glotal
| |
hambat
|
tb
|
p
|
t
|
k
|
?
| ||||||
b
|
b
|
d
|
g
| ||||||||
frikatif
|
tb
|
s
| |||||||||
b
|
h
| ||||||||||
afrikat
|
tb
|
c
| |||||||||
b
|
j
| ||||||||||
lateral
|
tb
|
i
| |||||||||
b
| |||||||||||
nassal
|
m
|
n
|
n
|
n
| |||||||
luncuran
|
w
|
y
| |||||||||
getar
|
r
| ||||||||||
Beberapa jenis konsonan
Menurut cara pengartikulasiannya, kita dapat membedakan konsonan sebagai berikut :
1. Konsonan Letupan
Konsonan letupan adalah konsonan yang dihasilkan dengan menghambat arus udara seluruhnya ditempat artikulasi tertentu secara tiba-tiba dan alat bicara ditempat tersebut lalu dilepaskan kembali. Disini artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat dibelakang tempat penutupan itu. Tahap pertama disebut “hambatan” atau “implosi” dan tahap kedua disebut “letupan” atau “eksplosi”. Kedua tahap konsonan letupan dapat dihasilkan pada berbagai tempat artikulasi :
Di antara bibir : hasilnya [p] atau [b] ( paman; Batak ); antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya [t] atau [d] (tari; dari);
Antara ujung lidah dan langit-langit keras: hasilnya [ t ] dan [ d ] yang retrofleks itu (Jawa penthung ‘tongkat’; Jawa dhateng ‘datang’);
Antara tengah lidah dan langit-langit keras: hasilnya [c] dan [j] (catat; jari );
Antara pangkal lidah dan langit-langit tekak: hasilnya [k] dan [g] (karang; gerbang).
Letupan tidak dapat dilanjutkan pelafalannya; sekali diucapkan, pelafalannya selesai.
2. Konsonan Kontinuan
Konsonan kontinuan adalah semua konsonan yang bukan letupan. Disebut “kontinuan” karena dapat dilanjutkan pelafalannya. Meliputi beberapa jenis : konsonan sengau, konsonan sampingan, konsonan geseran, konsonan paduan, konsonan getaran dan konsonan aliran.
3. Konsonan Sengau
Konsonan sengau yang dihasilkan dengan menutup arus udara keluar melalui rongga mulut, dengan membuka jalan agar dapat keluar melalui rongga hidung.
Diantara bibir, hasilnya [m] (masih);
Antara ujung lidah dan ceruk, hasilnya [n] (namun);
Antara tengah lidah dan langit-langit keras, hasilnya [ ] (nyamuk)
Antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, hasilnya [ ] (pangkal).
4. Konsonan Sampingan
Konsonan sampingan adalah konsonan yang dihasilkan dengan menghalangi arus udara sedemikian rupa sehingga dapat keluar hanya melalui sebelah atau kedua belah sisi lidah saja. Tempar artikulasi adalah antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya [l] (melamun).
5. Konsonan Geseran atau Frikatif
Konsonan geseran atau frikatif adalah konsonan yang dihasilkan oleh alur yang amat sempit sehingga sebagian besar arus udara terhambat. Disini artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit sehingga ketika udara melewati tempat tersebut akan mendapat ganguan dicelah itu. Penghambatan dapat terjadi:
Secara faringal : hasilnya [h] (hamil);
Antara pangkal lidah dan anak tekak: hasilnya [ r ] (rumah) (dalam pelafalan orang Sumatra);
Antara akar lidah dan langit-langit lunak: hasilnya [x] (ichwal);
Antara daun lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya [s] dan [z] (sabar; zaitun);
6. Konsonan Paduan atau Afrikat
Konsonan paduan atau afrikat dihasilkan dengan menghambat arus udara pada salah satu tempat artikulasi secara implosif, lalu melepaskannya secara “frikatif”. Implosi dan pelepasan dapat terjadi :
Antara tengah lidah dan langit-langit keras
Antara daun lidah dan lengkung kaki gigi
Disini artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara sehingga embentuk celah kecil yang biasa disebut dengan artikulator pasif. Yang termasuk konsonan paduan antara lain [c] dan [j].
7. Konsonan Getaran
Konsonan getaran adalah konsonan yang pelafalannya terdiri atas pengulangan cepat dari apa yang apat disebut “pengartikulasian dasar“. Contoh yang terpenting adalah [r], namanya “r getar”, yang diartikulasikan secara apiko-alveolar; artinya, ujung lidah menyentuh gusi sebentar, lalu dilepaskan lagi, lalu menyentuhnya lagi dan seterusnya. Konsonan getar dapat dipandang sebagai bentuk “campur“ dari konsonan frikatif dan konsonan letupan.
8. Konsonan Alir(an)
Konsonan alir(an) adalah konsonan yang tidak frikatif atau paduan. Demikian, misalnya konsonan sengau dan konsonan sampingan adalah konsonan alir(an).
9. Konsonan Kembar atau Jeminat
Konsonan kembar atau jeminat adalah konsonan yang diperpanjang pelafalannya. Perpanjangan itu berbeda-beda sifatnya menurut golongan artikulatoris konsonan yang bersangkutan: untuk segala macam kontinuan, lamanya pelafalannya di perpanjang; untuk segala macam letupan, yang diperpanjang adalah lamanya waktu antara implosi dan eksplosi.
Konsonan jeminat terdapat dalam banyak bahasa, misalnya dalam bahasa Itali cappa ‘jubah’ dilafalkan dengan ‘berhenti’ sebentar antara implosi dan eksplosi. Dalam bahasa Inggris abad pertengahan kata ‘soone’ matahari (o-nya di ucapkan seperti vokal dalam kata Inggris modern book) dilafalkan dengan mempertahankan sebentar pengartikulasiannya.
Dari sudut fonetik tak ada perbedaan, dalam hal pelafalan, antara konsonan jeminat yang merupakan hanya satu unsure saja (secara fonologis), seperti dalam contoh-contoh tadi, dan konsonan tunggal yang berurutan, seperti halnya dalam Inggris penknife ‘pisau lipat’; dalam kata tersebut, pelafalan dua kali [n] itu juga merupaka perpanjangan lamanya antara implosi dan eksplosi dalam pelafalan [n] itu.
10. Konsonan Sampingan atau Lateral
Konsonan sampingan atau lateral disini artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contohnya adalah konsonan [l].
Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.
Berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara. Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi bersuara antara lain bunyi [b], [d], [g] dan [c] sedangkan bunyi tak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi tak bersuara antara lain, bunyi [s], [k], [p] dan [t].
Berdasarkan tempat artikulatornya terbagi menjadi 4 macam :
Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir; bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b] [p] dan [m] . dalam hal ini perlu diperhatikan bunyi [p] dan [b] adalah bunyi oral, yaitu yang dikeluarkan melalui rongga mulut, sedangkan [m] adalah bunyi nasal, yakni bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.
Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].
Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoalveolar adalah bunyi [t] dan [d].
Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].
Komentar
Posting Komentar