Klasifikasi bunyi Bahasa

Nama :Nur Atirah
prodi :PBSD B
Nim  :1955041021

Tugas ke-4
Mencari klasifikasi bunyi bahasa


KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
DIFTONG, VOKAL DAN KONSONAN

A.Diftong
     Pada beberapa bunyi vokal, luncuran komponennya sangat dominan sehingga vokal tersebut
tidak dapat diidentifikasi sebagai satu jenis vokal meskipun tetap terdengar seperti satu bunyi.
Bunyi yang demikian dinamakan diftong, (Clark dan Yallop:1995). Dalam kamus linguistik,
Kridalaksana (2009:49) mendefinisikan diftong adalah bunyi bahasa yang pada waktu
pengucapannya ditandai oleh perubahan gerak lidah dan perubahan tamber satu kali, dan yang berfungsi sebagai inti dari suku kata. Contoh diftong yang ada pada bahasa Indonesia misalnya /oy/, /ay/, /aw/ dan sebagainya.
Menurut Alwi dkk (2010:27) yang dimaksud dengan diftong adalah gabungan bunyi dalam satu suku kata, tetapi yang digabungkan adalah vokal dengan /w/ atau /y/. Jadi, /aw/ pada /kalaw/
dan /baŋaw/ adalah diftong, tetapi /au/ pada /mau/ dan /bau/ bukanlah diftong. Fonem /aw/
pada kata kalau dan bangau termasuk dalam satu suku kata, yakni masing-masing /ka-law/ dan
/ba-ŋaw/; fonem-fonem /a/-/u/ pada kata mau dan bau masing-masing termasuk dalam dua
suku kata yang berbeda, yakni /ma-u/ dan /ba-u/.Konsep diftong berkaitan dengan dua  buah vokal dan yang merupakan satu bunyi dalam satu silabel. Namun, posisi lidah ketika mengucapkan ber-geser ke atas atau ke bawah. Karena  itu, dikenal adanya tiga macam dif-tong, yaitu diftong naik, diftong tu-
run, dan diftong memusat. Yang ada dalam bahasa Indonesia tampaknya 
diftong naik. 

(1) Diftong naik 
       Diftong naik terjadi jika vokal yang kedua diucapkan dengan posisi lidah menjadi lebih tinggi daripada yang pertama. Contoh. [ai] <gulai>, [au] <pulau>, [oi] <sekoi>, [ i] <esei>. 

(2) Diftong turun 
      Diftong turun terjadi apabila vokal kedua diucapkan dengan posisi lidah lebih rendah daripada yang pertama. Bahasa Jawa merupakan bahasa ya-ng terdapat diftong turun. Contoh-
nya: [ua] pada kata <muarem> <uanteng> 
(3) Diftong memusat 
      Diftong ini terjadi apabila vokal kedua diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih tinggi dan juga diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih rendah. Dalam bahasa 
Inggris, ada diftong [o ], seperti pada kata <more> dan kata <floor>. Ucapan kata <more> ada-a <floor>adalah [flo ];


      Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas : vokal, konsonan, dan semi vokal. Pembedaannya bedasarakan pada ada tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara.
a. Bunyi disebut vokal apabila terjadinya tidak ada hambatan (proses artikuliasi) pada alat bicara.
b. Bunyi disebut konsonan apabila terjadinya dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi.
c. Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni, maka bunyi-bunyi itu disebut semi-vokal atau semi-konsonan. Nasal dan Oral Bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi nasal (segau) dan oral. Pembedaan ini didasarkan pada keluarnya atau disertainya udara melalui rongga hidung.

a. Apabila udara keluar atau disertai keluarnya udara melalui rongga hidung, dengan cara menurunkan langit-langit lunak beserta ujung anak tekaknya, maka bunyi itudisebut bunyi nasal atau sengau.
b. Apabila langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menaik menutupi rongga hidung sehingga udara hanya melalui rongg mulut saja, maka bunyi yang dihasilkan disebut bunyi oral. Keras (Fortes) dan Lunak (Lenes) Bunyi bahasa dibedakan atas bunyi keras (fortes) dan lunak (Lenes). Perbedaan ini didasarakan pada ada tidaknya ketegangan kekuatan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan. Bunyi bahasa disebut keras bila pada waktu diartikulasiakan disertai ketegangan kekuatan arus udara. Jika tidak disertai ketegangan
kekuatan arus udara disebut bunyi lunak.

Bunyi Panjang dan Pendek
Bunyi bahasa dibedakan atas bunyi panjang dan pendek. Perbedaan ini didasarakan pada lamanya bunyi itu diucapkan, atau lamanya bunyi itu diartikulasaikan. Bunyi Rangkap dan Tunggal Bunhi dibedakan atas bunyi rangkap (padu, ganda) dan tunggal.
a. Bunyi rangkap adalah bunyi yang terdiri dari dua bunyi dan terdapat dalam suatu suku kata.
b. Jika terdapat dalam dua suku kata yang berbeda bukan bunyi rangkap melainkan bunyi tunggal saja. Bunyi rangkap vokal disebut diftong, sedangkan bunyi tunggal vokal disebut monoftong. Ciri diftong ialah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan yang lain salig berbeda. Diftong dibedakan atas diftong naik dan diftong turun. Bunyi Nyaring dan Tidak Nyaring

B. Vokal
      Bunyi dibedakan atas bunyi nyaring (lantang) dan tidak nyaring pada waktu terdengar oleh telinga. Jadi pembedaan bunyi berdasarkan derajat kenyaringan itu sebenarnya adalah tinjauan menurut aspek auditoris. Derajat kenyaringan itu sendriri ditentukan oleh luas
sempitnya atau besar kecilnya resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan. Makin luas resonansi saluran bicara yang dipakai pada waktu membentuk bunyi bahasa makin tinggi derajat kenyaringannya. Sebaliknya, semakin sempit ruang resonansinya makin rendahsuara.
Bunyi vokal dibedakan berdasarkan posisi tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang
bergerak, struktur, dan bentuk bibir. Dengan demikian, bunyi vokal tidak dibedakan
berdasarkan posisi artikulatornya karena pada bunyi vokal tidak terdapat artikulasi.
Artikulator adalah bagian alat ucap yang dapat bergerak. Klasifikasi vokal sebagai berikut :
1. Vokal berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah.
Vokal Tinggi = [ i ], [ I ], [ u ], [ U ]
Vokal Madya = [ e ], [ �� ], [ e ], [ o ], [ c ]
Vokal Rendah = [ aderajat kenyaringannya. Diantara vokal-vokal maka vokal yang paling tinggi justru derajat kenyaringan (kalantangan, sonorotas)-nya paling rendah. Karena ruang resonansinya pada waktu diucapkan paling sempit jika dibandingkan dengan muka lain. Semakin kebawah derajat kenyaringan untuk vokal itu berturut-turut dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi ialah : vokal tertutup, vokal semi tertutup (semi terbuka), vokal terbuka.
2. Vokal berdasarkan bagian lidah (depan, tengah, belakang) yang bergerak (gerak naik
turunnya lidah).
Vokal Depan = [ i ], [ I ], [ e ], [ �� ], [ a ]
Vokal Tengah = [ a ]
Vokal Belakang = [ o ], [ c ], [ u ], [ U ]
3. Vokal berdasarkan posisi strukturnya
Struktur adalah keadaan hubungan posisional artikulator aktif dan artikulator pasif.
Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak menuju alat ucap yang lain saat membentuk
bunyi bahasa. Artikulator pasif adalah alat ucap yang dituju oleh artikulator aktif saat
membentuk bunyi bahasa.
Dalam bunyi vokal tidak terdapat artikulasi, maka struktur untuk vokal ditentukan
oleh jarak lidah dengan langit-langit. Menurut strukturnya, vokal dapat dibedakan seperti
uraian berikut.
a. Vokal tertutup (close vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat setinggi
mungkin mendekati langit-langit. Vokal tertutup antara lain [ i ], [ u ].
b. Vokal semitertutup (half-close) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam
ketinggian sepertiga di bawah tertutup atau dua per tiga di atas vokal terbuka. Vokal
semitertutup antara lain [ e ], [ o ], [ I ], [ U ].
c. Vokal semiterbuka (half-open) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam
ketinggian sepertiga di atas terbuka atau dua per tiga di bawah vokal tertutup. Vokal
semiterbuka antara lain [ a ], [ �� ], [ c ].
d. Vokal terbuka (open vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi
serendah mungkin. Vokal terbuka adalah [ a ].
4. Vokal berdasarkan bentuk bibir saat vokal diucapkan.
Vokal tidak bulat/unrounded vowels (bibir tidak bulat dan terbentang lebar) = [ i ], [ I ], [ e ], [
�� ], [ e ]
Vokal netral/neutral vowels (bibir tidak bulat dan tidak terbentang lebar) = [ a ]
Vokal bulat/rounded vowels (bibir bulat) Terbuka bulat = [ c ]
Vokal bulat/rounded vowels (bibir bulat) Tertutup bulat = [ o ], [ u ], [ U ]Bunyi vokal dapat diucapkan dengan memanjangkan atau memendekkan vokal tersebut.
Pemanjangan dan pemendekan pengucapan vokal dapat mengubah maksud pembicaraan.
Pemanjangan vokal diberi tanda [ . . . ] di atas bunyi yang dipanjangkan atau tanda [ . . . : ] di
samping kanan bunyi yang dipanjangkan.
Contoh:
Frasa tatap muka [ t a t a p ] [ m u k a ] bila vokal [ u ] dilafalkan pendek maka akan
bermakna bertemu . Namun, jika vokal [ u ] dilafalkan memanjang [ t a t a p ] [ m u : ] [ k a ]
maka akan menimbulkan makna menatapmu dan bunyi [ k a ] seakan-akan menghilang.
Dalam kehidupan sehari-hari pemanjangan dan pemendekan vokal jarang ditemui.
Pemanjangan dan pemendekan vokal biasa ditemui dalam dunia hiburan, seperti pada
dagelan atau acara humor dan komedi.







C. Konsonan
Dibandingkan dengan vokal, bunyi-bunyi konsonan karena terbentuknya disertai dengan hambatan alat bicara pada saluran bicara sebagian ruang resonansi, maka derajat kenyaringannya lebih rendah. Konsonan letup tak bersuara adalah yang paling rendah sedangkan yang paling tinggi adalah konsonan geletar. Derajat kenyaringan untuk konsonan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi berturut-turut adalah sebagai berikut: konsonan letup tak bersuara, geseran tak bersuara, letup bersuara, geseran bersuara, nasal, sampingan, dan geletar. Bunyi dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus In-
gresif Arah arus udara dalam pembentukan bunyi bahasa dapat dibedakan atas egresif dan in-gresif. Dalam kebanyakan bunyi bahasa, pembentukan bunyi itu dilaksanakan dengan arus udara keuar dari paru-paru, arus udara demikian disebut egresif. Namun, dalam bahasa-bahasa tertentu dapat juga bunyi itu terbentuk dengan arah udara masuk kedalam paru-paru, jika demikian arah udara itu disebut in-gresif. Arus udara egresif dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu egrsif pulmonik dan egresif glotalik. Begitu juga arus udara in-gresif dapatdibagi menjadi dua yaitu, in-gresif glotalik dan in-gresif velarik.

a. Egresif pulmonik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara egresif (keluar) dengan      mekanisme pulmonik. Mekanisme udara pulmonik ialah udara dari paru-paru sebagai sumber utamanya dihembuskan keluar dengan cara mengecilkan ruangan paru-paru, otot perut dan rongga dada.
b. Egresif glotalik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara egresif (keluar) dengan mekanisme glotalik. Mekanisme glotalik terjadi dengan cara merapatkan pita- pita suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup rapat sekali.
c. Ingresif glotalik adalah bunyi bahasa yang terbentuk dengan arus udara ingresif (masuk) dengan mekanisme glotalik. Bunyi dengan arus udara ingresif mekanisme glotalik ini mungkin secara sempurna prosesnya sama dengan egresif glotalik diatas. Jadi, merapatkan pita-pita suara sehingga glotis tertutup rapat sekali.Hanya bersama-sama dengan itu rongga pangkal tenggorok yang disempitkan itu diturunkan tidak dinaikan, kemudian udara masuk.
d. Ingresif velarik adalah bunyi bahasa yang terbentuk dengan arus udara ingresif (masuk) dengan mekanisme velarik.mekanisme udara velarik terjadi dengan menaikkan pangkal lidah ditempelkan pada langit-langit

Samsuri (1994:95) membagi lima jenis artikulasi yang menjadikan bunyi konsonan, yaitu:
a. HAMBAT. Apabila terdapat hambatan menyeluruh pada salah satu tempat antara paru-paru
dan udara luar, sehingga jalan arus udara tertutup. Misalnya: p, t, k, b, d, g, Ɂ, di dalam kata-kata /papa/, /tata/, /baba/, /dada/, /gagu/, /anak/.b. NASAL. Jalan arus udara di mulut mungkin seperti pada (a), tetapi dengan membuka jalan ke rongga hidung. Misalnya: m, n, ñ, ŋ, di dalam kata-kata /mana/, /nama/, / ñ ata/, / ŋ a ŋ a/.
c. SPIRAN/GESER. Jalan arus udara mungkin dihalangi pada salah satu tempat, sehingga hanya merupakan sebuah lubang kecil yang berbentuk sebagai lembah panjang atau sebagai celah yang dilalui oleh udara itu. Misalnya: f, s, sy di dalam kata-kata /fakta/, /sama/, /syarat/.
d. LATERAL. Garis tengah jalan di mulut mungkin terhambat, tetapi sebuah lubang mungkin
tinggal sepanjang sebelah atau kedua belah sisi yang dilalui arus udara. Misalnya: l, yang
terdapat dalam kata /lalat/.
e. GETAR. Arus udara yang lalu itu mungkin menyebabkan sebuah alat yang elastis bergetar
dengan cepat. Misalnya: r yang terdapat dalam kata /rata/.
Berdasarkan alat ucap atau artikulatornya dibagi menjadi lima, yaitu:
a. LABIAL. Bunyi-bunyi yang dibentuk oleh bibir bawah. Jika bibir bawah menyentuh bibir atas, bunyi-bunyi itu disebut BILABIAL, dan bila bibir bawah menyentuh gigi atas, bunyi-bunyi itu disebut LABIODENTAL.
b. DENTAL. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan pada tepi bagian depan gigi atas atau di antara gigi atas dan bawah, dan pada bagian dalam gigi atas.
c. PALATAL. Bunyi-bunyi yang dihasilkan dengan bagian depan lidah dengan langit-langit keras.
d. VELAR. Bunyi-bunyi yang dibentuk dengan dorsum. Dorsum adalah bagian belakang dari lidah yang memanjang kira-kira empat sentimeter dari apex sampai bagian belakang mulut.
e. GLOTAL. Bunyi yang pengucapannya dilakukan terutama oleh selaput suara. Bunyi-bunyi ini umpamanya hambat glotal (hamzah) /h/ dan /h/ yang bersuara atau digumamkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT UCAP PADA MANUSIA.

Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus beserta contohnya dalam bahasa Makassar

tugas ke 4 (Klasifikasi Bunyi)