klasifikasi bunyi
Tugas linguistik klasifikasi bunyi
nama:Desi Ratnasari
Nim:1955042013
Bagan Vokal Bahasa Indonesia
Hampar
|
Bulat
|
Hampar
|
Bulat
|
||||
Tinggi
|
t
|
i
|
U
|
i
|
u
|
||
k
|
i
|
U
|
|||||
Tengah
|
t
|
e
|
o
|
||||
t = tegang k = kendur
| |||||||
Posisi
Artikulasi
Cara
Artikulasi
|
Bilabial
|
Labio-dental
|
Dental
|
Alveolar
|
Palatal
|
Sentrodomal
|
Dorso Velar
|
Uvular
|
Faringal
|
Glotal
|
|
Hambat
|
tb
|
p
|
t
|
ṭ
|
K
˂
|
k
|
Q
|
?
|
|||
b
|
b
|
d
|
ḍ
|
g
˂
|
g
|
G
.
|
|||||
Frikatif
|
tb
|
f
|
θ
|
s
|
š
|
x
<
|
x
|
X
.
|
Ħ
|
Ħ
|
|
b
|
ᵦ
|
v
|
Ỗ
|
z
|
ž
|
y
<
|
y
|
Y
.
|
H
|
||
Afrikat
|
tb
|
c
|
č
|
||||||||
b
|
z
|
ǰ
|
|||||||||
Lateral
|
tb
|
ɫ
|
ɫ
.
|
Iᵞ
|
|||||||
b
|
I
|
ḷ
|
Iᵞ
|
||||||||
Nasal
|
m
|
n
|
ṇ
|
ṅ
|
Ŋ
<
|
||||||
Luncuran
|
w
|
y
|
|||||||||
getar
|
r
|
R
|
|||||||||
· BAGAN KONSONAN
Dari peta konsonan di atas, bunyi konsonan dibedakan berdasarkan 3 ktiteria, yaitu:
1). Berdasarkan tempat artikulasinya
a. bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir; bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [p], dan [m]. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bunyi [p] dan [b] adalah bunyi oral, yaitu yang dikeluarkan melalui rongga mulut, sedangkan [m] adalah bunyi nasal, yaitu bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.
b. labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas; gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].
c. laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan jusi; dalam hal ini, daun lidah menempel pada jusi. Yang termasuk konsonan laminoalveolar adalah bunyi [t] dan [d].
d. dorsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].
2). Berdasarkan cara artikulasi
a. hambat (letupan, plosif, stop). Yaitu artikulatornya menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu.Kemudian penutupan dibuka secara tiba-tiba kemudian menyebabkan letupan. Yang termasuk konsonan letupan antara lain: bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].
b. geseran atau frikatif. Artikulator aktif medekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Yang termasuk konsonan geseran antara lain: bunyi [f],[s], dan [z].
c. paduan atau frikatif. Artikulator aktif menghambat semua aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Yang termasuk konsonan paduan adalah bunyi [c] dan [j].
d. sengauan atau nasal. Artikulator menghambat semua aliran udara melalui mulut. Tetapi membiarkannya keluar dengan bebas melalui rongga hidung. Yang termasuk konsonan sengauan yaitu bunyi [m], [n], dan [ƞ].
e. getaran ( trill). Artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi terjadi berulang-ulang. Yang termasuk konsonan getaran yaitu bunyi [r].
f. sampingan (lateral). Artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Yang termasuk konsonan sampingan yaitu bunyi [l].
g. hampiran (aproksiman).Artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka (semi vokal). Yang termasuk konsonan hampiran yaitu bunyi [w ] dan [y].
3). Berdasarkan posisi pita suara
Dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara.
• Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi bersuara antara lain: bunyi [b], [d], [g], dan [c].
• Bunyi tidak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi tidak bersuara antara lain: [s], [k], [p], dan [t].
· BAGAN VOKAL
Bunyi vokal biasanya di klasifikasikan dan diberi nama sesuai posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah tersebut bisa bersifat vertikal dan bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya bunyi (i) dan (u); vokal tengah misalnya bunyi (e) dan (∂); dan vokal rendah misalnya bunyi (a). Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya bunyi (i) dan (e); vokal pusat misalnya bunyi (∂); dan vokal belakang misalnya bunyi (u) dan (o). Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal (o) dan vokal (u). disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak membundar, melainkan melebar, pada waktu mengucapkan vokal tersebut misalnya vokal (i) dan vokal (e).
Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut itulah kemudian kita memberi nama akan vokal-vokal itu, misalnya:
[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar
[e] adalah vokal depan tengah tak bundar
[ǝ] adalah vokal pusat tengah tak bundar
[o] adalah vokal belakang tengah bundar
[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar
KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
1. Vokal, konsonan, dan Semi-Vokal
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas : vokal, konsonan, dan semi vokal. Pembedaannya bedasarakan pada ada tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara.
a. Bunyi disebut vokal apabila terjadinya tidak ada hambatan (proses artikuliasi) pada alat bicara.
b. Bunyi disebut konsonan apabila terjadinya dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi.
c. Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni, maka bunyi-bunyi itu disebut semi-vokal atau semi-konsonan.
2. Nasal dan Oral
Bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi nasal (segau) dan oral. Pembedaan ini didasarkan pada keluarnya atau disertainya udara melalui rongga hidung.
a. Apabila udara keluar atau disertai keluarnya udara melalui rongga hidung, dengan cara menurunkan langit-langit lunak beserta ujung anak tekaknya, maka bunyi itu disebut bunyi nasal atau sengau.
b. Apabila langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menaik menutupi rongga hidung sehingga udara hanya melalui rongg mulut saja, maka bunyi yang dihasilkan disebut bunyi oral.
3. Keras (Fortes) dan Lunak (Lenes)
Bunyi bahasa dibedakan atas bunyi keras (fortes) dan lunak (Lenes). Perbedaan ini didasarakan pada ada tidaknya ketegangan kekuatan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan. Bunyi bahasa disebut keras bila pada waktu diartikulasiakan disertai ketegangan kekuatan arus udara. Jika tidak disertai ketegangan kekuatan arus udara disebut bunyi lunak.
4. Bunyi Panjang dan Pendek
Bunyi bahasa dibedakan atas bunyi panjang dan pendek. Perbedaan ini didasarakan pada lamanya bunyi itu diucapkan, atau lamanya bunyi itu diartikulasaikan.
5. Bunyi Rangkap dan Tunggal
Bunhi dibedakan atas bunyi rangkap (padu, ganda) dan tunggal.
a. Bunyi rangkap adalah bunyi yang terdiri dari dua bunyi dan terdapat dalam suatu suku kata.
b. Jika terdapat dalam dua suku kata yang berbeda bukan bunyi rangkap melainkan bunyi tunggal saja.
Bunyi rangkap vokal disebut diftong, sedangkan bunyi tunggal vokal disebut monoftong. Ciri diftong ialah keadaan posisi lidah dalam mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan yang lain salig berbeda. Diftong dibedakan atas diftong naik dan diftong turun.
6. Bunyi Nyaring dan Tidak Nyaring
a. Vokal
Bunyi dibedakan atas bunyi nyaring (lantang) dan tidak nyaring pada waktu terdengar oleh telinga. Jadi pembedaan bunyi berdasarkan derajat kenyaringan itu sebenarnya adalah tinjauan menurut aspek auditoris. Derajat kenyaringan itu sendriri ditentukan oleh luas sempitnya atau besar kecilnya resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan. Makin luas resonansi saluran bicara yang dipakai pada waktu membentuk bunyi bahasa makin tinggi derajat kenyaringannya. Sebaliknya, semakin sempit ruang resonansinya makin rendah derajat kenyaringannya. Diantara vokal-vokal maka vokal yang paling tinggi justru derajat kenyaringan (kalantangan, sonorotas)-nya paling rendah. Karena ruang resonansinya pada waktu diucapkan paling sempit jika dibandingkan dengan muka lain. Semakin kebawah derajat kenyaringan untuk vokal itu berturut-turut dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi ialah : vokal tertutup, vokal semi tertutup (semi terbuka), vokal terbuka.
b. Konsonan
Dibandingkan dengan vokal, bunyi-bunyi konsonan karena terbentuknya disertai dengan hambatan alat bicara pada saluran bicara sebagian ruang resonansi, maka derajat kenyaringannya lebih rendah. Konsonan letup tak bersuara adalah yang paling rendah sedangkan yang paling tinggi adalah konsonan geletar. Derajat kenyaringan untuk konsonan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi berturut-turut adalah sebagai berikut: konsonan letup tak bersuara, geseran tak bersuara, letup bersuara, geseran bersuara, nasal, sampingan, dan geletar.
7. Bunyi dengan Arus Udara Egresif dan Bunyi dengan Arus In-gresif
Arah arus udara dalam pembentukan bunyi bahasa dapat dibedakan atas egresif dan in-gresif. Dalam kebanyakan bunyi bahasa, pembentukan bunyi itu dilaksanakan dengan arus udara keuar dari paru-paru, arus udara demikian disebut egresif. Namun, dalam bahasa-bahasa tertentu dapat juga bunyi itu terbentuk dengan arah udara masuk kedalam paru-paru, jika demikian arah udara itu disebut in-gresif. Arus udara egresif dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu egrsif pulmonik dan egresif glotalik. Begitu juga arus udara in-gresif dapatdibagi menjadi dua yaitu, in-gresif glotalik dan in-gresif velarik.
a. Egresif pulmonik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara egresif (keluar) dengan mekanisme pulmonik. Mekanisme udara pulmonik ialah udara dari paru-paru sebagai sumber utamanya dihembuskan keluar dengan cara mengecilkan ruangan paru-paru, otot perut dan rongga dada.
b. Egresif glotalik adalah bunyi yang terbentuk dengan arus udara egresif (keluar) dengan mekanisme glotalik. Mekanisme glotalik terjadi dengan cara merapatkan pita-pita suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup rapat sekali.
c. Ingresif glotalik adalah bunyi bahasa yang terbentuk dengan arus udara ingresif (masuk) dengan mekanisme glotalik. Bunyi dengan arus udara ingresif mekanisme glotalik ini mungkin secara sempurna prosesnya sama dengan egresif glotalik diatas. Jadi, merapatkan pita-pita suara sehingga glotis tertutup rapat sekali.Hanya bersama-sama dengan itu rongga pangkal tenggorok yang disempitkan itu diturunkan tidak dinaikan, kemudian udara masuk.
d. Ingresif velarik adalah bunyi bahasa yang terbentuk dengan arus udara ingresif (masuk) dengan mekanisme velarik.mekanisme udara velarik terjadi dengan menaikkan pangkal lidah ditempelkan pada langit-langit lunak. Bersama-sama dengan itu kedua bibir ditutup rapat kemudian ujung lidah dan kedua sisi lidah merapat pada gigi atau gusi dalam itu dilepaskan turun serta dikebelakangkan, bibir dibuka sehingga ada kerenggangan ruangan udara pada rongga mulut. Dengan demikian memungkinkan udara luar untuk mesuk.
Komentar
Posting Komentar