KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
Nama: Sinarwati
Nim. :1955041024
KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
Pengertian vokal:
Vokal adalah jenis bunyi bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar ke luar dari glotis tidak mendapat hambatan dari alat ucap, melainkan hanya diganggu oleh posisi lidah, baik vertikal maupun horizontal, dan bentuk mulut. Bunyi vokoid dihasilkan dengan udara yang keluar dari paru-paru tanpa adanya hambatan. Proses terjadinya vokal, selain oleh hambatan udara, dipengaruhi pula oleh gerakan bibir dan gerakan lidah.
Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
· tinggi-rendahnya posisi lidah (tinggi, sedang, rendah)
· bagian lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang)
· bentuk bibir pada pembentukan vokal itu (normal, bundar, lebar/terentang)
4.2 Klasifikasi vokal :
Berdasarkan bentuk bibir
· Vokal bulat → a, o, u
· Vokal lonjong → i, e
· Berdasarkan tinggi rendah lidah
· Tinggi → i
· Tengah → e
· Bawah → a
· Berdasarkan maju mundurnya lidah
· Depan → i, a
· Tengah → e
· Belakang → o
Untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat bagan di bawah ini:
Bagan vokal
hampar
|
bulat
|
hampar
|
bulat
| |||||
tinggi
|
t
|
i
|
Ǖ
|
֗ǝ
|
і
|
u
| ||
k
|
i
|
U
| ||||||
tengah
|
t
|
e
|
ö
|
ǝ
|
ë
|
o
| ||
k
|
є
|
ɔ̈
|
ᶺ
|
ɔ
| ||||
rendah
|
ӕ
|
a
| ||||||
depan
|
pusat
|
belakang
| ||||||
Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut itulah kemudian kita memberi nama akan vokal-vokal tersebut,misalnya:
[ i ] adalah vokal depan tinggi tak bundar
[ e ] adalah vokal depan tengah tak bundar
[ ô ] adalah vokal pusaat tengah tak bundar
[ o ] adalah vokal belakang tengah bundar
[ a ] adalah vokal pusat rendah tak bundar
2. Bagan Konsonan Makassar
posisi arti-kulasi
cara
artikulasi
|
bilabial
|
labiodental
|
dental
|
alveolar
|
palatal
|
sentrodomal
|
dorsovelar
|
Uvular
|
faringal
|
glotal
| |
hambat
|
tb
|
p
|
t
|
k
|
?
| ||||||
b
|
b
|
d
|
g
| ||||||||
frikatif
|
tb
|
s
| |||||||||
b
|
h
| ||||||||||
afrikat
|
tb
|
c
| |||||||||
b
|
j
| ||||||||||
lateral
|
tb
|
i
| |||||||||
b
| |||||||||||
nassal
|
m
|
n
|
n
|
n
| |||||||
luncuran
|
w
|
y
| |||||||||
getar
|
r
| ||||||||||
Bunyi-bunyi Konsonan dapat dibedakan menjadi tiga kriteria, yaitu :
1. Berdasarkan Posisi Pita Suara.
a. Bunyi bersuara terjadi jika pita suara terbuka sedikit lalu terjadi getaran pada pita suara itu. b, d, g, dan c termasuk bunyi bersuara.
b. Bunyi tidak bersuara terjadi jika pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Bunyi s, k, p, dan t termasuk bunyi tidak bersuara.
2. Berdasarkan Tempat Artikulasi.
a. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Bunyi yang termasuk konsonan bilabial adalah b dan p (bunyi oral) serta m (bunyi nasal).
b. Labiodental adalah konsonan yang terjadi pada gigi bawah yang merapat pada bibir atas. Bunyi f dan v termasuk bunyi konsonan labiodental.
c. Laminoalveolar yakni konsonan terjadi pada daun lidah yang menempel pada gusi. Bunyi konsonan laminoalveolar adalah t dan d.
d. Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Bunyinya adalah k dan g .
3. Berdasarkan Cara Artikulasi
a. Hambat ( letupan, plosive, stop). Artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat dibelakang tempat penutupan. Kemudian penutupan dibuka secara tiba-tiba kemudian menyebabkan letupan. Bunyinya, yaitu p, b, t, d, k, dan g.
b. Geseran atau Frikatif. Artikulator aktif medekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Bunyinya f, s, dan z.
c. Paduan. Artikulator aktif menghambat semua aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Bunyinya adalah c dan j.
d. Sengauan atau Nasal. Artikulator menghambat semua aliran udara melalui mulut. Tetapi membiarkannya keluar dengan bebas melalui rongga hidung. Bunyinya, m, n, dan ƞ
e. Getaran ( Trill). Artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi terjadi berulang-ulang. Contohnya konsonan r.
f. Sampingan (lateral). Artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contonya l.
g. Hampiran (Aproksiman). Artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka (semi vocal). Konsonan bunyinya w dan y
Cara pelafalan konsonan pada alat ucap
1. Konsonan [p] dan [b] dilafalkan dengan bibir atas dan bibir bawah terkatup rapat sehingga udara dari paru-paru tertahan untuk sementara waktu sebelum katupan itu dilepaskan.
2. Konsonan [t] dan [d] umumnya dilafalkan dengan ujung lidah ditempelkan pada gusi. Udara dari paru-paru sebelum dilepaskan .
3. Konsonan [k] dan [g] dihasilkan dengan menempelkan belakang lidah pada langit-langit lunak. Udara dihambat di sini kemudian dilepaskan.
4. Konsonan [f], artinya konsonan itu dibuat dengan bibir bawah didekatkan pada bagian bawah gigi atas sehingga udara dari paru-paru dapat melewati lubang yang sempit antara gigi dan bibir dan menimbulkan bunyi desis.
5. Konsonan [s] dihasilkan dengan menempelkan ujung lidah pada gusi atas sambil melepaskan udara lewat samping lidah sehingga menimbulkan bunyi desis.
6. Konsonan [z] dibentuk dengan cara pembentukan [s], tetapi dengan pita suara yang bergetar.
7. Konsonan [ʃ] dibentuk dengan menempelkan depan lidah pada langit-langit keras, tetapi udara dapat melewati samping lidah dan menimbulkan bunyi desis.
8. Konsonan [x] dibentuk dengan mendekatkan punggung lidah ke langit-langit lunak yang dinaikkan agar udara tidak keluar melalui hidung. Udara dilewatkan celah yang sempit keluar rongga mulut.
9. Konsonan [h] dibentuk dengan melewatkan arus udara di antara pita suara yang menyempit sehingga menimbulkan bunyi desis, tanpa dihambat di tempat lain.
10. Konsonan [c] dilafalkan dengan daun lidah ditempelkan pada langit-langit keras dan kemudian dilepas secara perlahan sehingga udara dapat lewat dengan menimbulkan bunyi desis. Sementara itu, pita suara dalam keadaan tidak bergetar.
11. Konsonan [j] dibentuk dengan cara yang sama dengan pembentukan [c], tetapi pita suara dalam keadaan bergetar.
12. Konsonan [m] dibuat dengan kedua bibir dikatupkan, kemudian udara dilepas melalui rongga hidung.
13. Konsonan [n] dihasilkan dengan cara menempelkan ujung lidah pada gusi untuk menghambat udara dari paru-paru. Udara itu kemudian dikeluarkan lewat rongga hidung.
14. Konsonan [ñ] dibentuk dengan menempelkan depan lidah pada langit-langit keras untuk menahan udara dari paru-paru. Udara yang terhambat ini kemudian dikeluarkan melalui rongga hidung sehingga terjadi persengauan.
15. Konsonan [ŋ] dibentuk dengan menempelkan belakang lidah pada langit-langit lunak dan udara kemudian dilepas melalui hidung.
16. Konsonan [r] dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada gusi, kemudian menghembuskan udara sehingga lidah tersebut secara berulang-ulang menempel pada dan lepas dari gusi. Sementara itu, pita suara dalam keadaan bergetar.
17. Konsonan [l] dihasilkan dengan menempelkan daun lidah pada gusi dan mengeluarkan udara melewati samping lidah. Sementara itu, pita suara dalam keadaan bergetar.
18. Semivokal [w] dilafalkan dengan mendekatkan kedua bibir tanpa menghalangi udara yang dihembuskan dari paru-paru.
19. Semivokal [y] dihasilkan dengan mendekatkan depan lidah pada langit-langit keras, tetapi tidak sampai menghambat udara yang keluar dari paru-paru.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
.
Komentar
Posting Komentar