Karmila (1955042026) Tugas alat ucap manusia
Proses Terjadinya Bunyi
Dan Alat Ucap
Seperti yang sudah disebutkan, bahwa fonetik (artikulatoris)
mengkaji cara membentuk bunyi-bunyi bahasa. Adapun sumber kakuatan utama untuk
membentuk bunyi bahasa yaitu udara yang keluar dari paru-paru. Udara tersebut
dihisap ke dalam paru-paru, kemudian dikeluarkan ketika bernafas. Ketika udara
keluar dari paru-paru melalui tenggorokan, ada yang mendapat hambatan ada yang
tidak mendapat hambatan.
Ø Proses membentuk dan mengucapkan bunyi berlangsung dalam
suatu kontinuum. Menurut analisis bunyi fungsional, arus bunyi yang
kontinuum tersebut bisa dikategorisasikan berdasarkan segmen tertentu. Walaupun
demikian,
ada pula bunyi yang tidak dapat dikategorisasikan menjadi segmen-segmen
tertentu yang disebut bunyi suprasegmental. Oleh sebab itu, bunyi bahasa dapat
dibagi menjadi :
1.
Bunyi segmental dan
2.
Bunyi suprasegmental.
Ø Proses terbentuknya bunyi bahasa secara garis besarnya terbagi
atas 4 macam, yakni:
1.
Proses keluarnya bunyi dari paru-paru,
2.
Proses fonasi, yaitu lewatnya bunyi dalam tenggorokan,
3.
Proses artikulasi yaitu proses terbentuknya bunyi oleh
artikulator dan,
4.
Proses oro-nasal, proses keluarnya bunyi melalui mulut atau
hidung (ladefoged, 1973: 2-3).
Terjadinya
Bunyi:
1.
Sumber energi utama
terjadinya bunyi bunyi bahasa adalah adanya udara dari paru-paru.
2.
Udara dihirup ke dalam
paru-paru kemudian dihembuskan keluar bersama-sama waktu sedang bernapas.
3.
Udara yang dihembuskan
(atau dihirup untuk sebagaian kecil bunyi bahasa) mendapat hambatan di berbagai
tempat alat-alat bicara dengan berbagai cara sehingga terjadi bunyi bahasa.
4.
Tempat atau alat bicara
yang dilewati diantaranya batang tenggorok, pangkal tenggorok,
kerongkongan, rongga mulut, rongga hidung.
5.
Pada waktu udara mengalir
keluar pita suara harus dalam keadaan terbuka.
6.
Jika udara tidak mengalami
hambatan pada alat bicara, bunyi bahasa tidak akan terjadi.
7.
Syarat terjadinya bunyi
bahasa secara garis besar.
Alat
ucap :
1.
Paru-paru (lungs)
2.
Batang tenggorok (trachea)
3.
Pangkal tenggorok (larynx)
4.
Pita-pita suara (vocal
cords)
5.
Krikoid (cricoid)
6.
Tiroid (thyroid/lekum)
7.
Aritenoid (arythenoids)
8.
Dinding rongga
kerongkongan (wall of pharynx)
9.
Epiglotis (epiglottis)
10. Akar lidah (root of the tongue)
11. Punggung lidah/ pangkal lidah (dorsum)
12. Tengah lidah (medium)
13. Daun lidah (lamina)
14. Ujung lidah (apex)
15. Anak tekak (uvula)
16. Langit-langit lunak (velum)
17. Langit-langit keras (palatum)
18. Gusi dalam/ ceruk gigi (alveolae)
19. Gigi atas (denta)
20. Gigi bawah (denta)
21. Bibir atas (labia)
22. Bibir bawah (labia)
23. Mulut
24. Rongga mulut (oral cavity)
25. Rongga hidung (nasal cavity)

Ø Paru-paru (Lungs)
Paru-paru berfungsi
untuk bernafas. Bernafas terdiri atas dua proses, yakni: (1) Proses menghisap
udara ke paru-paru, yang berupa oksigen (O2); dan (2) Proses mengeluarkan udara
dari paru-paru, yang berupa karbondioksida (CO2).
Selama hidup, manusia
senantiasa menghisap dan mengeluarkan uadara. Dengan demikian, paru-paru
berfungsi untuk mengeluarkan udara yang menjadi sumber terbentuk bunyi bahasa
(Pike, 1974).
Ø Pangkal Tenggorokan (Larynx)
Pangkal tenggorokan
adalah rongga di ujung saluran pernapasan. Pangkal tenggorokan ini terdiri atas
empat komponen, yakni: (1) tulang rawan krikoid, (2) tulang rawan Aritenoid,
(3) sepasang pita suara, dan (4) tulang rawan tiroid (Malmberg, 1963:22).
Tenggorokan (larynx),
rongga anak tekak (pharinx), pita suara (vokal cords), dan anak
tekak (uvula). Tenggorokan berfungsi untuk mengeluarkan udara
dari paru-paru, rongga tersebut dapat membuka atau menutup. Jika rongga tenggorokan
membuka akan membentuk bunyi vokal, sebaliknya jika rongga tenggorokan
menutup akan membentuk bunyi konsonan. Tentu saja, fungsi pita suara
sangat penting dalam menghasilkan bunyi. Uraian mengenai fungsi pita suara
dijelaskan di bawah ini.
Ø Rongga Anak Tekak (Pharynx)
Rongga anak tekak ada
di antara pangkal tenggorokan dan rongga mulut dan rongga hidung. Gunanya
sebagai saluran udara yang akan bergetar bersama sama dengan pita suara. Adapun
bunyi yang dihasilkannya disebut bunyi faringal.
Ø Pita suara (Vokal Cords)
Bunyi yang dihasilkan
pita suara diatur oleh sistem otot aritenoid. Pita suara bagian depan mengait
pada tulang rawan tiroid. Adapun pita suara bagian belakang mengait pada tulang
rawan Aritenoid. Pita suara dapat membuka luas atau menutup, fungsinya sebagai
katup yang ngatur jalannya udara dari paru-paru ketika melalui tenggorokan.
Akibat membuka dan
menutup pita suara, akan memunculkan rongga di antara pita suara yang disebut
glotis. Posisi glotis ada empat macam, yakni: membuka lebar, membuka, menutup,
dan menutup rapat. Proses bergetarnya pita suara tersebut disebut proses
fonasi. Proses teresebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Ø Proses membuka-Nutupnya Glotis:
Posisi Glotis akan
mempengaruhi pola terbentuknya bunyi bahasa. Jika posisi glotis membuka akan
menghasilkan bunyi tak bersuara. Sebaliknya, jika posisi glotis menutup akan
menghasilkan bunyi bersuara. Di bawah ini dijelaskan posisi pita suara ketika
membentuk bunyi bahasa.
1) Posisi pita suara ketika bernafas : Ketika bernafas, pita
suara membuka lebar sehingga udara yang keluar dari paru-paru melalui
tenggorokan tidak ada yang menghalangi. Posisi pita suara seperti ini umumnya
menghasilkan bunyi vokal, bunyi [h p,t,s k].
2) Posisi pita suara bergetar : Jika pita suara bergetar,
bagian atasnya membuka sedikit sehingga membentuk bunyi [b,d,g,m,r]. Jika
pita suara tidak bergetar, akan menghasilkan bunyi [p,t,c,k,f,h,s].
3) Posisi pita suara ketika ngengucapkan bunyi glottal
: Ketika ngucapkan konsonan glotal, pita suara menutup sehingga bunyi yang
melalui tenggorokanberhenti sejenak, dan menghasilkan bunyi hamzah [?].
4) Posisi pita suara ketika berbisik : Posisi pita suara
ketika berbisik, bagian bawahnya menutup sedikit, udara yang keluarnya pun
berkurang sehingga bunyi–bunyi bahasa tersebut tidak jelas terdengarnya.
Ø Langit-langit Lunak (Velum) dan Anak tekak (Uvula)
Langit-langit lunak (velum)
beserta bagian ujungnya yaitu anak tekak (uvula) dalam menghasilkan
bunyi bahasa, dapat turun atau naik. Ketika bernafas normal, langit-langit
lunak dan anak tekak tersebut turun, sehingga udara dapat leluasa melalui hidung,
termasuk ketika membentuk bunyi nasal. Ketika menghasilkan bunyi nonnasal,
langit-langit lunak dan anak tekak naik menutup rongga hidung. Bunyi bahasa
yang dihasilkan oleh langit-langit lunak disebut bunyi velar.
Adapun bunyi yang dihasilkan dengan hambatan anak tekak disebut bunyi
uvular.
Ø Langit-langit Keras (Palatum)
Langit-langit keras
merupakan susunan tulang-belulang. Bagian depannya mulai dari langit-langit
cekung ka atas, kemudian diikuti oleh bagian belakang yang lunak. Menghasilkan
bunyi bahasa, langit-langit keras menjadi artikulator pasif. Adapun artikulator
aktifnya ialah ujung lidah dan tengah lidah. Bunyi yang dihasilkan
oleh langit-langit keras disebut bunyi palatal, sedangkan bunyi yang dihasilkan
oleh ujung lidah (apex) disebut bunyi apical. Bunyi yang dihasilkan oleh tengah
lidah (medium) disebut bunyi medial. Bunyi-bunyi tersebut biasa digabungkan
menjadi apikopalatal dan medio-palatal (Bloch & Trager, 1942:15).
Ø Gusi (Alveolum)
Gusi merupakan tempat
tumbuhnya gigi. Gusi dapat disebut daerah kaki gigi. Dalam membentuk bunyi
bahasa, lidah merupakan titik artikulasi, sedangkan articulator aktifnya ialah
ujung lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh gusi disebut bunyi alveolar. Selain
itu, gusi dapat bersama-sama dengan daun lidah (lamina) membentuk bunyi bahasa,
sehingga menghasilkan bunyi laminal. Gabungan kedua bunyi tersebut disebut
bunyi lamino-alveolar.
Ø Gigi (Dentum)
Gigi terbagi dua,
yaitu gigi atas dan gigi bawah. Ketika membentuk bunyi bahasa, gigi yang
berperan penting yaitu gigi atas. Gigi atas biasanya bersama-sama dengan bibir
baeah atau ujung lidah. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh gigi atas dan gigi
bawah disebut bunyi dental, bunyi bahasa yang dihasilkan oleh gigi atas dan
bibir bawah disebut labio-dental. Adapun bunyi bahasa yang terbentuk oleh gigi
atas dan ujung lidah disebut bunyi apiko-dental.
Ø Bibir (labium)
Bibir dibagi menjadi dua bagian, yaitu
bibir atas dan bibir bawah. Ketika membentuk bunyi bahasa, bibir atas berfungsi
sebagai articulator pasif bersama-sama dengan bibir bawah yang menjadi
articulator aktif. Bunyi yang dihasilkan oleh dua bibir disebut bunyi bilabial.
Komentar
Posting Komentar