Nama: Risma
Nim : 1955041026
Nim : 1955041026
1.puisi
Menyerah
Maaf,aku harus menyerah
Telah lama kucoba untuk bertahan
namun aku Semakin terluka
Telah lama kucoba untuk bertahan
namun aku Semakin terluka
Maaf,aku harus menyerah
Kuat inginku untuk bertahan
namun hati tak
Bisa lagi menerima
Kuat inginku untuk bertahan
namun hati tak
Bisa lagi menerima
Maaf,aku harus menyerah
Luka ini sudah terlalu dalam hingga membuat
Hatiku pecah bergemilang darah
Maaf,aku harus menyerah
Menghentikan langkah menutup semua lembar
Kisah mimpi indah sepasang anak manusia
Yang bercinta tentang cinta
Maaf,aku menyerah….
2.Perubahan fonem yang terdapat pada puisi Menyerah di atas tersebut
|
3.Contoh fonem dalam bahasa Makassar
1.Asimilasi dan Disimilasi
Keterangan:
a.Angngerang
Ang+Ngerang=Angngerang
b.Angnganre
Ang+Nganre=Angnganre
2.Netralisasi dan Arkifonem
Keterangan:
a.Sabtu na Saptu
Kedua bunyi itu tidak membedakan makna.
b.Paru na Beru
Kedua bunyi itu tidak membedakan makna.
3.Umlaut,Ablaut,dan Harmoni Vokal
Keterangan:
a.Sing
b.Sang
Kata Sing menjadi sang dan sung.
4.Kontraksi
Bentuk asli
|
Penghilangan yang terjadi
|
Bentuk hasil kontraks
|
Contoh kalimat
|
Angngura
|
Hilang suku kata{ Ang}
|
Ngura
|
Ngura tena nu mange sikola?
|
Sampekpa
|
Hilang kata {Pa}
|
Sampek
|
Mangeki angnganre juku sampe ri balla
|
5.Metatesis dan Epentetis
a.Jalur na Lajur
b.Kolar na Koral
Pada kata di atas bukan mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain,melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.
4.pengertian lima perubahan fonem
1.Asimilasi dan Desimilasi
1.Asimilasi
Asimilasi merupakan perubahan morfofonemik tempat sebuah fonem yang cenderung lebih banyak menyerupai fonem lingkungannya. Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, kata sabtu dalam bahasa indonesia sering diucapkan /saptu/, dimana terlihat bunyi /b/ berubah menjadi /p/ sebagai akibat pengaruh /t/, bunyi /b/ adalah bunyi hambat bersuara sedangkan bunyi /t/ adalah bunyi hambat tak bersuara. Oleh karena itu bunyi /b/ yang bersuara iru, karena pengaruh bunyi /t/ yang tak bersuara, berubah menjadi bunyi /p/ yang juga tidak bersuara.
Desimilasi adalah kalau dalam asimilasi fonem mengalami perubahan mendekati fonem lingkungannya, maka dalam disimilasi fonem tersebut seakan-akan menjauhi persamaan dengan fonem lingkungannya. Dengan kata lain terjadi pelainan bunyi demi kepentingan kelancaran ucapan.
Misalnya, dalam bahasa Sansekerta kata cipta dan cinta yang berasal dari bahasa Sansekerta citta. Kita lihat bunyi /tt/ pada kata citta berubah menjadi bunyi /pt/ pada kata cipta dan bunyi /nt/ pada kata cinta.
Contoh lainnya:
in + noble → ignoble
saj + jana (skt) → sarjana
sayur + sayur → sayur mayur
2..Netralisasi dan arkifonem
Netralisasi ialah hilangnya kontras antara dua buah fonem yang berbeda. Misalnya, bunyi [b] pada kata jawab bisa dilafalkan sebagai bunyi [p] dan juga sebagai [b], sehingga kata jawab itu bisa dilafalkan sebagai [jawab] dan [jawap]. Hal seperti ini di dalam kajian fonemik disebut arkifonem, yakni dua buah fonem yang kehilangan kontrasnya. Sebagai arkifonem kedua fonem itu dilambangkan sebagai fonem B ditulis huruf capital. Kenapa fonem B bukan p? karena apabila diberi proses afiksasi dengan sufiks {-an}, fonem bnya itu akan muncul kembali jadi {jawab} + {-an} → [ja.wa.ban].
3.Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal
Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.
Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.
4.Kontraksi
Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.
5.Metatesis dan Epetetis
Proses metatesis buka mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut variasi. Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakn di atas hanya terjadi pada bahas-bahasa tertentu, yang tidak harus terjadi pad bahasa lain.
Komentar
Posting Komentar