Tugas ke-4 MK Pengantar Linguistik (klasifikasi bunyi bahasa)
NAMA : MUH. ALI SAPUTRA
NIM : 1955041030
3. Semivokal
NIM : 1955041030
KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
1. Vokal
Bunyi vokal adalah
bunyi yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal
tidak ada artikulasi. Hambatan untuk bunyi vokal hanya pada pita suara saja.
Hambatan pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi. Karena vokal
dihasilkan dengan hambatan pita suara maka pita suara bergetar. Posisi glotis
dalam keadaan tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Dengan demikian, semua vokal
termasuk bunyi bersuara.
BAGAN VOKAL BAHASA INDONESIA
BAGAN VOKAL BAHASA INDONESIA
hampar
|
bulat
|
hampar
|
bulat
|
|||||
tinggi
|
t
|
i
|
Ǖ
|
֗ǝ
|
і
|
u
|
||
k
|
i
|
U
|
||||||
tengah
|
t
|
e
|
ö
|
ǝ
|
ë
|
o
|
||
k
|
є
|
ɔ̈
|
ᶺ
|
ɔ
|
||||
rendah
|
ӕ
|
a
|
||||||
depan
|
pusat
|
belakang
|
||||||
2. Konsonan
Konsonan adalah
bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat
ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi. Proses hambatan atau artikulasi ini dapat
disertai dengan bergetarnya pita suara, sehingga terbentuk bunyi konsonan
bersuara. Jika artikulasi itu tidak disertai bergetarnya pita suara, glotis
dalam keadaan terbuka akan menghasilkan konsonan tak bersuara.
BAGAN KONSONAN BAHASA INDONESIA
posisiarti-kulasi
cara
artikulasi
|
bilabial
|
labiodental
|
dental
|
alveolar
|
palatal
|
sentrodomal
|
dorsovelar
|
uvular
|
faringal
|
glotal
|
|
hambat
|
tb
|
p
|
t
|
ṭ
|
k
˂
|
k
|
q
|
?
|
|||
b
|
b
|
d
|
d
|
g
˂
|
g
|
g
ˑ
|
|||||
frikatif
|
tb
|
f
|
θ
|
s
|
ś
|
x
˂
|
x
|
x
ˑ
|
ħ
|
ħ
|
|
b
|
β
|
v
|
ό
|
z
|
ẑ
|
ϓ
˂
|
ϓ
|
ϓ
ˑ
|
h
|
||
afrikat
|
tb
|
c
|
ḉ
|
||||||||
b
|
z
|
ˇ
J
|
|||||||||
lateral
|
tb
|
t
|
ṭ
|
Iᵞ
|
|||||||
b
|
I
|
ḹ
|
Iᵞ
|
||||||||
nassal
|
m
|
n
|
ṇ
|
ṅ
|
η
˂
|
η
|
|||||
luncuran
|
w
|
y
|
|||||||||
getar
|
r
|
R
|
|||||||||
3. Semivokal
Bunyi semi-vokal adalah
bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada saat
diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Bunyi semivokal dapat disebut
semikonsonan, namun istilah ini jarang dipakai.
Ø Bunyi Nasal dan Oral
· Bunyi
nasal atau sengau dibedakan dari bunyi oral berdasarkan jalan
· Keluarnya
arus udara. Bunyi nasal dihasilkan dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut, tetapi membuka jalan agar dapat keluar melalui rongga hidung. Penutupan
arus udara luar rongga mulut dapat terjadi :
- antara kedua bibir, hasilnya bunyi [m];
- antara ujung lidah dan ceruk, hasilnya bunyi [n];
- antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, hasilnya bunyi [h]; dan
- antara ujung lidah dan langit-langit keras, hasilnya bunyi [ň].
· Bunyi
oral dihasilkan dengan jalan mengangkut ujung anak tekak
· Mendekati
langkit-langkit lunak untuk menutupi rongga hidung sehingga arus udara dari
paru-paru keluar melalui mulut. Selain bunyi nasal, semua bunyi vokal dan
konsonan bahsa Indonesia termasuk bunyi oral.
Ø Bunyi Keras dan Lunak
Kategorisasi bunyi
keras (fortis) dan bunyi lunak (lenis) dibedakan
berdasarkan ada
tidaknya ketegangan arus udara pada waktu bunyi itu
diartikulasikan
(Malmberg, 1963:51-52). Bunyi bahasa disebut keras apabila pada waktu
diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan arus udara. Sebaliknya, apabila
pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketengan kekuatan arus udara, bunyi
itu disebut lunak.
Bunyi keras mencakupi
beberapa jenis bunyi seperti :
1) bunyi letup tak
bersuara: [p, t, c, k],
2) bunyi geseran tak
bersuara: [s],
3) bunyi vokal:
[ı]
Bunyi lunak mencakupi
beberapa jenis seperti:
1) bunyi letup
bersuara: [b, d, j, g],
2) bunyi geseran
bersuara: [Z],
3) bunyi nasal: [m, n, ñ,h],
4) bunyi likuida: [r,
l],
5) bunyi semi-vokal:
[w, y],
6) bunyi vokal: [i, e,
o, u].
Ø Bunyi Panjang dan Pendek
Bunyi panjang dibedakan
dari bunyi pendek berdasarkan lamanya bunyi tersebut diucapkan atau
diartikulasikan. Vokal dan konsonan dapat dibedakan atas bunyi panjang dan
bunyi pendek (Jones, 1958:136). Tanda bunyi panjang biasanya menggunakan tanda
garis pendek di atas suatu bunyi; atau menggunakan tanda titik dua di sebelah
kanannya, contohnya: [a] panjang ditulis [ā] atau [a: ].
Ø Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Bunyi nyaring dibedakan
dari bunyi tak nyaring berdasarkan kenyaringan bunyi pada waktu terdengar oleh
telinga. Pembedaan bunyi berdasarkan derajat kenyaringan itu merupakan tinjauan
fonetik auditoris. Derajat kenyaringan itu sendiri ditentukan oleh luas
sempitnya atau besar kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu ducapkan.
Makin luas ruang resonansinya, makin rendah derajat kenyaringannya.
Ø Bunyi Tunggal dan Rangkap
Bunyi tunggal dibedakan
dari bunyi rangkap berdasarkan perwujudannya dalam suku kata. Bunyi tunggal
adalah sebuah bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata, sedangkan bunyi
rangkap adalah dua bunyi atau lebih yang bergabung dalam satu suku kata. Semua
bunyi vokal dan konsonan adalah bunyi tunggal. Bunyi tunggal vokal disebut juga
monoftong. Bunyi rangkap dapat berupa diftong maupun klaster. Diftong, yang
lazim disebut vokal rangkap, dibentuk apabila keadaan posisi lidah sewaktu
mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan bunyi vokal yang lainnya saling
berbeda (Jones, 1958:22). Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat diftong
[oi], [aI], dan [aU].
Klaster, yang lazim
disebut gugus konsonan, dibentuk apabila cara artikulasi atau tempat artikulasi
dari kedua konsonan yang diucapkan saling berbeda. Misalnya, dalam bahasa
Indonesia terdapat gugus [pr], [str], dan [dr].
Ø Bunyi Egresif dan Ingresif
Bunyi egresif dan
ingresif dibedakan berdasarkan arus udara. Bunyi
egresif dibentuk dengan
cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru, sedangkan bunyi ingresif
dibentuk dengan cara mengisap udara ke dalam paruparu. Kebanyakan bunyi bahasa
Indonesia merupakan bunyi egresif.
Bunyi egresif
dibedakan lagi atas bunyi egresif pulmonik dan bunyi egresif glotalik.
(1) Egresif
pulmonik dibentuk dengan cara mengecilkan rongga paru-paru oleh otot paru-paru,
otot perut, dan rongga dada. Hampir semua bunyi bahasa Indonesia dibentuk
melalui egresif pulmonik.
(2) Egresif
glotalik dibentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glotis dalam
keadaan tertutup sama sekali. Bunyi egresif glotalik disebut juga bunyi
ejektif, yang ditandai dengan tanda apostrof, contohnya [p’, t’, k’, s’], contohnya
bunyi-bunyi dalam bahasa-bahasa Kaukasus, Indian, dan Afrika (Ladefoged,
1973:25).
Bunyi
ingresif dibedakan atas bunyi ingresif glotalik dan bunyi ingresif velarik.
(1)
Ingresif glotalik memiliki kemiripan
dengan cara pembentukan bunyi egresif
glotalik, hanya arus
udara yang berbeda. Dibentuk dengan cara menghisap
udara dan merapatkan
pita suara sehingga glotis menutup. Adapun bunyi yang dihasilkannya disebut
implosif, yang ditandai dengan tanda melengkung ke sebelah kanan, contohnya [b,
d, g]. Contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa
Sindhi, Swahili,
Marwari, Ngadha, dan Sawu (Ladefoged, 1973:26).
(2) Ingresif
velarik dibentuk dengan cara menghisap udara
dan menaikkan
pangkal lidah dalam langit-langit
lunak; bersama-sama dengan merapatkan bibir; begitu pula, ujung lidah
dirapatkan ke dalam gigi/gusi. Contohnya
bunyi-bunyi dalam
bahasa Khoisa, Xhosa, dan Zulu (Ladefoged, 1973:28-30).
Ø Geminat dan Homorgan
Geminat yaitu rentetan
artikulasi yang sama (identik), sehingga menimbulkan ucapan panjang dalam bunyi
tersebut, contohnya: Allah dan assalamualaikum. Adapun yang
disebut Homorgan yaitu bunyi-bunyi bahasa yang terbentuk oleh alat dan daerah
artikulasi yang sama. Contohnya, konsonan alveolar: [t], [d], dan [n];
konsonan bilabial [p], [b], dan [m]; konsonan palatal [c],
[j], [n] (Robins, 1980, Bab 8).
Komentar
Posting Komentar