Riska (1955040016) JENIS-JENIS MAKNA
A.
Jenis-jenis
makna
1.
Makna
leksikal
Makna
Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki
manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa
adanya, dan terdapat dalam kamus (makna dalam kamus sering disebut dengan makna
dasar atau makna konkret).
Contohnya:
a.
Ikan
yang di pelihara oleh albi sangat indah dan mempunyai banyak anak.
(jukukk
injo na parakaia ialbi sannak gammarakna na loe pole anakna.)
Ikan аdаlаh hewan
bertulang bеlаkаng (vertebrata) уаng hidup dі air dan bernapas dеngаn insang.
Nah, dаrі definisinya aja udah keliatan kalo alat pernapasan ikan аdаlаh insang.
b.
Buku yang aku pakai sudah penuh karena aku selalu menulis setiap hari.
(bobok anjo kupakea rassimi ka tulu ku panngukiri allo-allo na)
Buku adalah alat tulis menulis yang di gunakan untuk menulis
sesuatu yang kita anggap penting dan perlu di tulis agar tidak dapat di lupa.
2.
Makna gramatikal
makna
gramatikal merupakan makna yang muncul akibat dari adanya proses gramatikal
atau proses tata bahasa. Proses gramatikal antara lain: proses kompisisi,
proses reduplikasi, proses afiksasi, serta proses komposisi atau
kalimatisasi.
Contohnya
a.
Alri sedang bermain
di belakang rumah bersama teman-temanya.
(akkare-karenai
Alri ri bokona ballaka siagang uranna.)
b.
Ibu sedang memasak
di dapur.
(appallui
ammakku ri pallua.)
3. Makna gramatikal
Makna
kontekstual merupakan makna dari sebuah kata atau leksem yang muncul berdasarkan
suatu konteks tertentu.
Contohnya:
a.
Aku tidak tahu mengapa kepalaku
menjadi sakit.
(tena kuassengi anngura
ulungku tulu pakrisik.)
b.
Aku selalu
memikirkan orang tuaku di rumah.
(tulu ku nawa-nawa
tau toaku ri ballak.)
4.
Makna referensial
Makna
referensial memiliki arti, yakni maka yang memiliki referensi atau acuannya
dalam dunia nyata.
Contohnya:
a.
“Tadi saya beremu dengan Ali”, kata Lia pada Ana.
(“assibuntulanga siagang iani sumpaeng”, nakna Lia mange ri
Ana)
Kata “saya” mengacu pada Ali.
b.
Kata Ihla dan teman-temanya, “Kami ingin menemuai ana di
rumahnya”.
(nakunggi Ihla siagang uran-uranna,”kitte eroki ammangei iana
ri ballakna”.
Makna kata ‘kita’ mengacu pada Ihla dan teman-temannya.
5.
Makna non-referensial
Makna
non-referensial merupakan lawan dari makna referensial. Makna non-referensial
merupakan makna pada kata yang tidak memiliki acuan di dunia nyata.
Contohnya:
a.
Saya dan adikku
tidak mirip.
(nakke siagang
andikku tena kussingtanjak)
6.
Makna denotatif
Makna
denotatif seperti yang telah kita ketahui merupakan makna asli, makna asal,
atau pun makna sebenarnya yang diimiliki sebuah kata dan tidak memiliki makna
tersembunyi lain di dalamnya. Hampir sama dengan makna leksial, makna denotatif
mengacu pada makna yang ada pada kamus atau literatur bahasa lain.
Contohnya:
a.
Buanglah sampah pada
tempatnya.
(pelaki loroa ri tampakna.)
b.
Laksanakanlah shalat 5 waktu.
(paentengi sambyang 5 wattunu)
7.
Makna
konotatif
Makna
konotatif merupakan kebalikan dari makna denotative. Makna konotatif merupakan
makna lain yang ditambahkan pada sebuah kata yang berhubungan dengan nilai rasa
seseorang atau kelompok yang menggunakan kata tersebut.
Contohnya:
a.
Risa menyapu bersih
semua lomba.
(Risa naalle kabusuki
anjo lombaya)
Kata ‘menyapu bersih’ artinya memenankan.
b.
Nina adalah anak yang keras kepala.
(nina iamiantu anak tea akpilanngeri)
Kata ‘keras kepala’ artinya susah di nasehati.
8.
Makna konseptual
Makna
konseptual merupakan makna yang dimiliki oleh sebuah kata yang terlepas dari
konteks maupun asosiasi apapun. Dengan kata lain makna konseptual merupakan
makna yang terkandung pada kata yang berdiri sendiri.
Contohnya:
a.
Alri sendang membajak sawah.
(anjamai galung
ialri)
Kata ‘sawah’ memiliki makna ladang
atau tempat untuk bercocok tanam padi
b.
Abi sedang menyankul di kebun kakek.
(akbingkungi abi ri kokona nenekku)
Kata ‘kebun’ memiliki makna tempat untk menanam
jangung, sayur-sayurang, dll.
9.
Makna asosiatif
Makna
asosiatif merupakan makna kata yang muncul karena adanya hubungan kata tersebut
dengan hal lain di luar bahasa.
Contohnya:
a.
Semua orang turun
tangan untuk membangun jembatan.
(iya kabusu tauwa naung
limai mange akbaung jambatang)
b.
Rara memiliki suara
emas yang indah.
(sakra bulaenna
rara sannak gammarakna)
10. Makna kata
Makna
kata merupakan makna yang bersifat umum, gambaran kasar, dan tidak jelas. Makna
ini menjelaskan beberapa kata sebagai kata yang bermakna lazim atau sama.
Contohnya:
a.
Kakinya
keseleo karena jatuh.
(essoi bangkenna
ka ammakbungi)
b.
Dadanya
sesak sebab di selalu lari.
(nasawalaki akmaika
ka tulu laria)
11. Makna
istilah
Makna
istilah merupakan kebalikan dari makna kata. Makna istilah bersifat jelas,
tidak meragukan, serta hanya digunakan pada suatu bidang keilmuan ataupun
kegiatan tertentu saja.
Contohnya:
a.
Lengan
dan tangan pada ilmu kedokteran keduanya
adalah bagian tubuh uang tidak berbeda.
(paling-paling siagang
lima ri panggissenan dottoroka
rua-ruana iamiantu batang kale tena passi salanna)
b.
Kaki dan betis adalah salah satu orang tubuh manusia.
(banking siangan bitisi iamiantu sala sekrenna ia niaka ri
batang kale taua)
12. Makna
idion
Makna
idiom atau makna idiomatic merupakan makna kata yang terdapat pada kelompok
kata tertentu, di mana makna yang terbentuk berbeda dengan makna asli dari kata
tersebut. Asal usul kemunculan makna kata tersebut atau frasa tersebut tidak
diketahui. Pengertian makna idiom hampir mirip dengan makna konotasi.
Contohnya:
a.
Bilqis adalah anak yang ringan tangan (ringan tangan adalah
memukul)
(bilqia iamiantu ana ringang lima)
b.
Ilham di juluki sebagai tiang listrik berjalan (tiang listrik
adalah orang yang sangat tinggi)
(Ilham biasai bi panngunggi tiang lampu akdakka)
13. Makna
pribahasa
Makna
peribahasa memiliki pengertian yang mirip dengan makna idiom, yakni makna yang
timbul karena pembentukan frasa atau kumpulan kata tertenu. Bedanya dengan
makna idiom, makna peribahasa memiliki asal usul yang masih dapat
ditelusuri.
Contohnya:
a.
Ika dan ina seperti burung yang merindukan sangkarnya. (merindukan
sangkarnya adalah saling merindukan satu sama lain)
(ika siagang ina sikammai jangang-jangang nakku ka mange ri
jakbakna)
b.
Kau dan dia bagaikan langit dan bumi. ( langit dan bumi
adalah beda jauh dari sisi ekonomi, social, derajat, dll)
(Ikau siangan ia singkamma langik na lino)
B.
Relasi
makna
1.Sinonimi
Sinonim sering disebut dengan persamaan
kata, maksudnya kata yang mempunyai makna sama atau hampir sama dengan kata
lain.
Contohnya:
a.
Cantik – indah ( gakga- gammarak)
Dia wanita yang cantik ( ia baine sannak gakgana)
b.
Mati—meninggal (mate- moterang)
Aku melihat burung mati ( aksinika
jangan-jangan mate)
2. Antonimi dan oposisi
Antonimi sering
disebut dengan lawan kata, maksudnya maknanya kebalikan dari makna ungkapan
lain.
Contohnya:
a.
Hitam
– putih ( lekleng-kebok)
Alri
memakai baju baru warna putih(
akbaju beru alri warna kebok)
b.
Panjang-
pendek ( lakbu-bodo)
Rambunya
sangat pendek ( bodona anjo uk na)
3. Polisemi
Polisemi adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contohnya:
a.
Saya memeiliki hubungan darah dengan ilham ( darah= saudarah)
(Inakke
niak passisambungan cerakku siagang
ilham)
b.
Inu berlumurang dengan darah ( darah
= kecelakaan)
(sanning
cerak mami ri kalenna inu)
4. Homonimi
Homonimi
adalah suatu kata yang memiliki makna berbeda, tetapi memiliki ejaan atau lafal
yang sama.
Contohnya:
a.
Keadaan sekarang sangat genting
( genting= kacau/darurat)
(kamma-kamma anne sannak
ricuna)
b.
Ular itu memiliki bisa
(bisa=racun)
(anjo ularaka niak
racunna)
5.
Hiponimi
Hiponimi
merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.
Contohnya:
a.
Bunga
itu sangat indah (bunga termasuk dalam kelompok tanaman hias)
(sannak gammarakna anjo bunga-bungaia)
b.
Pohon
manga yang memiliki banyak buah (pohon mangga termasuk jenis
pohon)
(anjo poko taipaia sannak loena buana)
6.
Ambiguiti
Ambiguiti
adalah gejalah dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contohnya:
a.
Yang gemuk adalah
pejabat (gemuk=korupsi)
(pajabaka cokmoki)
b.
Dia sudah putus asa
( putus asa=menyerah)
(teami ausaha)
7.
Redundasi
Redudansi
artinya sebagai berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk
ujaran.
Contohnya:
a.
Riska sedang
menulis di bukunya.
( annulisiski riska ri bokbokna)
b.
Bapakku sedang menyankul di kebun
(Akbingkungi bapakku ri kokoa)
C.
Perubahan
makna
Secara
singkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah. Tetapi secara
diakronis ada kemungkinan dapat berubah, maksudnya dalam makna yang relative
sigkat makna sebuah kata akan tetap sama tidak berubah. Tetapi dalam waktu yang
relative lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan dapat berubah.
Contohnya:
a.
Saudara(sianak)
dulu yang di maksud dengan saudara adalah saudara kandung sekarang semua orang
bias di katakana saudara.
b.
Bapak
dulu di ucapkan hanya untuk orang tua saja sekarang kata bapak di peruntuhkan
kepada siapa saja yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kita.
Komentar
Posting Komentar