tugas 8 (jenis jenis makna) (Muliati) (1955042014)(pbsd B)

PENGANTAR LINGUISTIK 
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Nama : Muliati
NIM  : 1955042014
Prodi : PBSD. B 

A. JENIS-JENIS MAKNA

  1. Makna leksikal 
    Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. 
Misalnya: 
  1. Kucing itu telah mencuri ikan yang ada di atas meja makan kami. (Ikan: binatang bertulang belakang yang hidup di dalam air, berdarah dingin, umumnya bernapas dengan insang, bersisik, dan mempunyai sirip yang berfungsi sebagai organ penggerak dan penyeimbang tubuhnya)
          
  • Anjo mionga nalukkaki jukuk niaka irate ri mejaya.
  1.    Perut Dila kekenyangan karena terlalu banyak makan. (Makan: kegiatan memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulut, yang kemudan dikunyah dan setelah itu ditelan.
  • Bassoroki battangna i Dila sabak jai dudui nakanre
                   
  1. Makna Gramatikal
        Makna gramatikal adalah kalimat yang makna katanya berubah-ubah karena mengalami proses pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut tata bahasa serta terikat dengan konteks pemakainya. 
              
Misalnya: 
  1. Pagi, siang, malam, kerjanya hanya duduk dan minum-minum saja.
  • barikbasak,tangnga tangnga alloa,bangngi,jama-jamanna ammempoji bawang siagang angnginung-nginungji.
              2.     Seluruh orang di kampung ini tahu, kalau ia seorang peminum.
  • iangaseng anne anrinni ri kamponga naisseng ngasengi kana tau painungi.
  1. Makna Kontekstual 
        Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Misalnya : 
      1.Fitri sedang belajar di kamar.
  •   Fitri appilajaraki ri kamarak
      2. Ayah memotong kaki meja di ruang belajar karena terlalu tinggi.
  • Bapak na polongi bangkeng mejaya ri ruangan pappilajaranga sabak sannak tinggina
  1. Makna Referensial 
        Makna referensial adalah makna yang berkaitan langsung dengan referensi atau acuan yang digunakan. 

Misalnya : 

  1. Tadi saya bertemu dengan Fitra. Maka kata ‘saya’ mangacu pada Ani.
  • Sumpaeng nakke sibuntulukka siagadang I Fitra.
  1. Saya ingin berjumpa dengan dia, kata Fita. Maka kata ‘saya’ mengacu pada budi. 
  •  Nakke erokka sibuntuluk siagadang I anu, nakana I Fita.
  1. Makna Non Referensial 
            Makna non referensial adalah makna yang tidak memiliki referensi atau acuan.  Atau kata yang termasuk dalam kata bermakna non referensial adalah kata sambung (kongjungsi) dan preposis. 

 Misalnya :
      1.Tadi dia duduk di sini.
  •   Risumpadeng ianu ammempoi anrinni.
     2.  Hujan terjadi hampir setiap hari di sini”, kata      walikota Bogor.
  • Nakbirimmi allo-alloi bosi anrinni      
        
  1. Makna Denotatif
              Makan denotative adalah makna asli, makna asal, atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sama dengan makna leksikal. 
              
Misalnya :

  1. Meja hijau itu merupakan meja belajar Alfi yang diberi cat berwarna hijau.
  • Anjo mejang moncongbuloa mejang pappilajarangna Alfi nisare cek warna moncongbulo.
           2. Cuci tanganlah dahulu sebelum menyantap makanan.
  •      Bissai limangta sebelumta annganre
  1. Makna Konotatif 
            Makna konotatif adalah makna yang “ditambahkan” pada masa denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. 
             
            Misalnya :

  1. Rita tidak memiliki teman karena sikapnya yang panjang tangan (Panjang tangan: suka mencuri)
  • tena agangna Rita sabak nangai aklukkaka (lakbu lima : nangai aklukkaka
  1. Persahabatan di antara mereka berdua berakhir karena Akram  merupakan serigala berbulu domba (Serigala berbulu domba: Orang jahat yang berpura-pura baik)
  • Ammarimi sipak agangngang anjo ruaya sabak i Akram sannak kodina sipakna mingka balle-ballei bajik . (serigala akbulu domba : tau kodi mingka balle-ballei bajik).

  1. Makna Konseptual 
            Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.

             Misalnya :

  1. Tangan Kakak saya terluka saat memperbaiki jendela.
  • Akbokkaki limanna kakangku wattunna na pabajiki anjo jendelayya.
  1. Kursi itu rusak. 
  • Anjo kaderaya panraki.
  1. Makna Asosiatif 
          Makana asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.

             Misalnya :
  1. semua warga turun tangan untuk memperbaiki jalanan itu
  • Iyangasenna anjo wargaya turung lima mange ambajiki anjo agadanga.  
  1. Banyak  orang terpukau dengan suara emas Erni. 
  • Jai tau angai anjo sakra bulaengna Erni. 

  1. Makna Kata                                                                                                                                                                                                                                                 Makna kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

            Misalnya

              1. Kakinya keseleoh karena jatuh.
  •  Taklekroki bangkena kasabak ammattungngi.
  1. Makna istilah 
                       Beda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyi makna yang pasti yang  jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat . oleh karena itu, sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangk kata tidak bebas konteks.

           Misalnya:
  1. Kami mengumpulkan dan menjual kotoran ayam ternak kami sebagai pupuk kandang kepada petani kampung sebelah. (pupuk kandang = pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan)  
  • katte ngaseng angngunpulukki siagang akbaluk tai jangang niparakaia untuk tai pupuk kandang mange ri pajama barak ri tetangga kampong .
  1.  Makna Idiom 
            Makna idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. 
               Misalnya

  1. Ani membawa buah tangan dari tanah Minangkabau.(buah tangan:oleh-oleh)
  • i Ani angngerangi ole-ole battu ri tana Minangkabau
  1.  Aldi memang memiliki watak kepala batu. (kepala batu :sulit dinasihati).
  • i Aldi memang sipakna okalaki ni sehati
  1.  Makna Pribahasa 
             Makna peribahasa atau pepatah adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan maksud, keadaan seseorang ataupun hal yang mengungkapkan tentang, perbuatan, kelakuan atau hal tentang seseorang. Peribahasa juga dapat diartikan sebagai ungkapan yang tidak  langsung, namun tersirat menyampaikan suatu hal yang dapat dipahami pembaca atau pendengar.
              Misalnya:

  1. tanaman orang yang dipelihara, sedangkan tanamannya sendiri ditelantarkan
  • Lamung-lamungna taua najagai nalamung-lamunna niak tonja na tanajampangia
                2.lihatlah air, ada saatnya pasang, ada saatnya surut
  • Jekneka ciniki ia tonja nanaik ia tonja nanaung
B.  RELASI MAKNA 

  1. Sinonim 
          Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang  menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan suatu ujaran lainnya. 
              Misalnya

  1. Realita = kenyataan 
               Tidak selamanya pemikiran kita sesuai dengan realita sehingga kita harus bersabar mengahadapinya. 
  • Tena nasakammanna anjo pikiranga siagadang realita jari katte mesti sakbarakki andalekangi anjo.
  1. Para penggemar sepak bola tidak menerima kenyataan bahwa tim kebanggan mereka 
              kalah.
  • Anjo tau nangaia pagoloka tena natarimai sitojengna kana nibetai anjo ting na karannuanga. 


  1. Antonim 
              Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya mnyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.
              Misalnya :

  1. Mahal >< murah 
                      Dipasar, semua barang dari harga yang           paling mahal hingga yang paling murah 
                      itu  ada.
  • Ripasaraka, iangasenna anjo apa-apaya battu ri paling kakjalaka sakgenna paling lammoroka niak asengi.
  1. Bahagia >< sedih 
               Kita harus bersyukur jika kita bahagia maupun sedih.
  • Katte masti sukkurukki manna rannuki iareka susaki.

  1. Polisemi
           Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu
               Misalnya :
  1. Saya masih punya hubungan darah dengan Adam. (darah=kesaudaraan).
  • Nakke niak inja pasisambungang cerak siagadang Adam.
  1. Tubuh Anto berlumuran darah. (darah=yang beradah dalam tubuh).
  • Kalenna I Anto aktalaka ceraki

  1. Homonimi 
                  Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
              Misalnya :

  1. Ular itu memiliki bisa yang sangat  berbahaya. (Bisa: racun).
  • Anjo ularaka ammallaki racung sannak bahayana. 
  1.  Aku bisa menyelesaikan pekerjaan dalam beberapa menit lagi. (Bisa: mampu)
  • Akkullea ampaklebaki jama-jamangku ilalang pirang manik anne.
  1. Hiponimi 
        Hiponimi adalah hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. 
       Misalnya :
  1. Rambutan dan buah, makna kata rambutan tercakup dalam makna buah, dapat dikatakan rambutan adalah buah tetapi buah bukan hanya rambutan, bisa saja mangga,kalapa, dan durian.

  1. Ambiguiti atau keteksaan 
        Ambiguisi atau keteksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbea ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. 
       Misalnya
  1. Semua pemain bola berlari mengejar bola.(Lari : melakukan kegiatan berlari).
  •  Iangasengna pakarena pagoloka lari naondangi anjo goloka.
  1. Karena tidak sanggup, Riri lari dari kenyataan. (lari : putus asa).
  •  Nasabak taena nasanguk I Riri lari  battu ri kaassanga.

  1. Redundasi 
            Istilah redundasi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. 
       Misalnya :
  1. petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan  petani sedang mencangkul kebunnya.  
  •  Anjo pakokoa nabingkungi kokonna, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan, pakokoa ammingkungi ri kokonna. 

C. PERUBAHAN MAKNA 
              Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah; tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relative lama ada kamungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, malainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh barbagai faktor.
                   Misalnya :  
  • Ibu dulu kata ibu sebutan orangtua wanita, sekarang sebutan ibu diperluas  dengan wanita yang lebih tua/dihormati. 
  • Guru dulu kata guru di gelarkan kepada seseorang yang mengajarkan sesuatu, sedangkan sekarang sudah dipersempit yaitu hanya untuk pengajar di sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus beserta contohnya dalam bahasa Makassar

ALAT UCAP PADA MANUSIA.

tugas ke 4 (Klasifikasi Bunyi)