Tugas 8 (Jenis Makna, Relasi Makna, dan Perubahan Makna) (NURFADILAH) (1955041029) (MAKASSAR)
PENGANTAR
LINGUISTIK
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
NAMA : NURFADILAH
NIM : 1955041029
PRODI : PBSD (B)
1). Jelaskan
jenis-jenis makna (makna leksikal, gramatikal, dan kontekstual), (makna
referensial dan non- referensial), (makna denotatif dan konotatif), (makna
konseptual dan asosiatif), ( makna kata dan makna istilah), (makna idiom dan
makna peribahasa), dan berikan masing-masing 2 contoh kalimat dalam bahasa
Makassar!
Ø Makna leksikal adalah makna yang bersifat tetap dan tidak terikat
dengan kata lainnya (berdiri sendiri) atau makna yang dimiliki atau ada pada
kata meski tanpa konteks apa pun.
Contoh:
1)
Pak Andi melihat
pengemis di jalan dengan memakai baju yang
kotor.
ð Acciniki papalak-palak Pak Andi ri agadanga ammake baju rakmasak.
(Jalan
: tempat untuk lalu lintas orang, kendaraan dsb).
2)
Rido mengendarai
motor dengan sangat kencang.
ð Appalari motorok
i Rido sanna gassingna.
(Motor : adalah kendaraan roda dua yang dapat mengubah
energi panas menjadi energi gerak).
Ø Makna gramatikal adalah makna yang
berubah-ubah sesuai dengan konteks pemakainya.
Contoh:
1)
Alif ingin
membeli mobil-mobilan di toko.
ð Eroki ammalli oto-oto
i Alif ri tokoa.
(Kata mobil-mobilan pada kalimat di atas bermakna
mainan)
2)
Pak Darto
meninggal dunia karena ditabrak mobil truk
kemarin.
ð Ammoterangi Pak Darto kanilappoi ri oto terek subangngi.
(Kata mobil di
atas bermakna suatu kendaraan untuk mengantar barang)
Ø Makna kontekstual adalah makna dari sebuah
kata yang penggunaannya tergantung konteks kalimat tertentu atau makna sebuah
leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.
Contoh:
1)
Rika jatuh
sehingga kaki kanannya terluka.
ð Tukguruki i Rika na bangkeng
kananna akbokka.
2)
Anto melempar kursi itu sehingga kaki kursi
itu patah.
ð Annyambilai kadera i Anto natepok bangkeng kaderana.
(Kedua
kalimat di atas menggunakan satu kata yang sama yaitu kata “kaki”. Tetapi,
berdasarkan konteks dari masing-masing kalimat, kata “kaki” akan memiliki makna
yang berbeda. Pada kalimat (1), kata “kaki” bermakna alat gerak sedangkan pada
kalimat (2), kata “kaki” bermakna bagian bawah dari sebuah benda).
Ø Makna
referensial adalah makna yang
berhubungan langsung dengan kenyataan atau memiliki referen (acuan).
Contoh:
1) Rifki menaruh
pulpen di atas meja.
ð Ammoliki pulupeng i Rifki irate ri mejanga.
2)
Nisa membaca buku di perpustakaan.
ð Ammacai bobbok i Nisa ri perpustakaanga.
(Pada kalimat di
atas kata yang bermakna referensial yaitu pada kalimat (1), pada kata “meja”
yaitu sejenis perabot rumah tangga. Sedangkan pada kalimat (2), pada kata “perpustakaan”
yaitu tempat atau ruangan yang didalamnya terdapat koleksi buku).
Ø Makna non
referensial adalah makna sebuah
kata yang tidak mempuyai referen (acuan).
Contoh:
1)
Kemarin dia
jatuh di sini.
ð Risubangngi ammattungi anrinni.
2)
Di sini, banyak
orang bekerja.
ð Anrinni, jai tau anjama.
(Pada kalimat (1), kata “di sini” menunjukkan tempat
tertentu yang maknanya sempit atau tidak diketahui acuannya. Sedangkan pada
kalimat (2), kata “di sini” merujuk pada suatu daerah yang tidak diketahui
daerah yang dimaksud).
Ø Makna denotatif adalah makna sebenarnya, makna asli, makna asal.
Contoh:
1)
Mahasiswa baru
memakai baju putih.
ð Ammakei baju kebok mahasiswa berua.
2)
Citra membeli buku di toko Pelangi Ilmu.
ð Ammalli bobbok i Citra ri toko Pelangi Ilmu.
Ø Makna konotatif adalah bukan makna
sebenarnya. Dengan kata lain, merupakan makna kias atau makna tambahan.
Contoh:
1) Ari yang tangan panjang itu telah ditangkap polisi.
ð Lakbu limai i
Ari na nijakkalak ri polisi.
(Tangan panjang : artinya
pencuri)
2)
Rini bersikap cuci
tangan terhadap tugas yang didapatkannya.
ð Assipak bissa limai i Rini mange ri jama-jamang anjo nagappayya.
(Cuci tangan : artinya
seseorang tidak mau peduli dan bertanggung jawab atas suatu permasalahan).
Ø Makna konseptual adalah makna yang sesuai
dengan konsepnya atau berhubungan erat dengan konsep-konsep yang ada.
Contoh:
1) Baju adalah pakaian penutup badan.
ð Baju iamintu
pakeang pannongkok kale.
(Kalimat di atas pada
kata”baju” sesuai dengan konsepnya).
2)
Pulpen
adalah alat untuk menulis yang berisi tinta.
ð Pulupeng iamintu pakakasak annulisik anjo niaka
dawak bonena.
(Kalimat di atas pada
kata”pulpen” sesuai dengan konsepnya).
Ø Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki
sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan luar
bahasa.
Contoh:
1) Mila tidak
menyadari bahwa temannya seperti parasit
dalam hidupnya.
ð Tena nasakringi
i Mila angkana aganna sangkamma tau parugi-rugi ilalang ri tallasakna.
(Parasit : artinya orang yang merugikan)
2)
Pelajaran yang diberikan Nurul hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
ð
Pappilajarang nisareangi i Nurul napantamai ri toli
kananna napasuluki ri toli kirinna.
(Masuk telinga
kanan keluar telinga kiri : artinya didengarkan dengan tidak sungguh-sungguh).
Ø Makna kata merupakan satuan terkecil
dari bahasa yang dapat berdiri sendiri. Kata dapat memiliki makna yang berbeda
jika konteksnya berubah.
Contoh:
1) Telinga Mia luka karena ditarik oleh Adiknya.
ð Tolinna i Mia akbokkaki kanibesoki ri Andikna.
2) Kuping Mia luka karena ditarik oleh Adiknya.
ð Tolinna i Mia akbokkaki kanibesoki ri Andikna.
(Kata telinga dan kuping pada kedua kalimat di atas
bermakna sama).
Ø Makna istilah adalah makna yang tetap atau
khusus dalam bidang tertentu dan juga sebagai kata maupun gabungan kata yang
menunjukkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat khas dalam bidang tertentu
dan juga makna yang pasti, jelas, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks
kalimat.
Contoh:
1)
Edi mengumpulkan
pupuk kandang untuk diberikan kepada
Ayahnya.
ð Appaknassai paccammak i Edi poro assareangi
manggena.
(Pupuk
kandang : artinya pupuk organik berasal dari kotoran hewan).
2) Putri selalu
bahagia meskipun dia hidup mandiri.
ð Sa rannu-rannunaja i Putri manna poe tallasak
kale-kalenna.
(Mandiri : artinya perilaku yang mampu dilakukan
tanpa bantuan orang lain).
Ø Makna idiom adalah ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase)
yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur yang
membentuknya atau satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari
makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal.
Contoh:
1) Kepintaran yang
diraih Dira membuatnya lupa daratan.
ð Kacaraddekang
anjo nagappayya i Dira akjari tampomi.
(Lupa daratan : artinya
sombong)
2)
Nisma tidak akan angkat
tangan meskipun dia gagal.
ð Tena nappanaik lima i Nisma manna gagalaki.
(Angkat tangan : artinya
menyerah)
Ø Makna peribahasa adalah makna yang masih
dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya
“asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.
Contoh:
1) Masalah yang
terjadi itu pasti ada asap pada api.
ð Kapakrisang
anjaria anjo nia ambu nia pepek.
(Ada asap ada api : artinya pasti ada penyebab dari
suatu masalah yang timbul)
2)
Sifa memiliki
sifat cepat kaki ringan tangan.
ð Ammallaki Sifa sipak intak
bangkeng ringang lima.
(Cepat kaki
ringan tangan : artinya suka menolong sesame umat)
2). Jelaskan macam-macam relasi makna (sinonim,
antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiguiti atau ketaksaan dan redunansi),
dan berikan masing-masing 2 contoh kalimat dalam bahasa Makassar!
Ø Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya
kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Contoh:
·
Memiliki = Mempunyai
1) Alif memiliki dua baju putih.
ð Ammallaki i Alif rua baju kebok.
2) Salwa mempunyai
keinginan untuk membeli mobil.
ð Nia pangngerokanna I Salwa poro ammalli oto.
·
Pintar = Pandai
1) Dini sangat pintar
dalam pembelajaran Matematika.
ð Sanna caraddekna I Dini ilalang pappilajarang
Matematika.
2) Risna sangat pandai
dalam memberikan pendapat.
ð Sanna caraddekna i Risna ilalang assare panggappang.
Ø Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan
ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara
yang satu dengan yang lain.
Contoh:
·
Mahal > Murah
1)
Emas harganya
sangat mahal dibandingkan dengan perak yang harganya murah.
ð Sanna kakjalakna ballinna bulaenga nipasianggarak
siagang perak anjo lammoroka ballinna.
·
Baru > Lama
2)
Diki membeli
buku baru untuk menggantikan bukunya yang
sudah lama hilang.
ð Ammalli bobbok beru i Diki poro annyambei bobbokna
anjo salloamo tappelak.
Ø Polisemi adalah sebuah kata yang mempunyai makna lebih dari
satu.
Contoh:
1) Kepala Nina
terbentur di tembok.
ð Takgantuki ulunna
i Nina ri temboka.
2) Kepala sekolah
memberikan pembelajaran kepada murid-muridnya.
ð Assarei pappilajarang Kapala Sikolaya mange ri anak
gurunna.
(Kata
“kepala” pada kalimat (1) bagian tubuh paling atas yang ditumbuhi rambut.
Sedangkan kata “kepala” pada kalimat (2) bermakna pimpinan suatu sekolah).
Ø Homonimi adalah dua buah kata atau susunan ujaran yang
bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing
merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Contoh:
1) Pada bulan
Januari akan ada pesta pernikahan.
ð Ri bulang
Januari na niak tempo pakbuntingang.
2) Malam ini bulan
bersinar dengan terang.
ð Anne bangngia sanna
singarakna bulanga.
(Pada kalimat di atas arti kata “bulan” ada dua yaitu
bulan=dalam kalender dan bulan= nama satelit).
Ø Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran
yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Contoh:
1)
Warna yang
paling disukai Santi adalah warna hijau, biru, hitam dan kuning.
ð Anjo warna sannaka nangaina I Santi iamintu warna
moncongbulo, gauk, lekleng siagang kunyik.
2)
Di rumahku
banyak serangga seperti nyamuk, lalat dan semut.
ð Jai kusissilik ri ballakku sangkamma lamuk,
katingngalo siagang kaluara.
Ø Ambiguiti atau
ketaksaan adalah gejala dapat
terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh:
1)
Teman Sara yang
baik dan cantik itu sedang sakit di rumah sakit.
(Kalimat di atas diperbaiki menjadi:
Teman dari Sara yang baik dan cantik itu sedang sakit di rumah sakit).
ð Aganna i Sara anjo bajika siagang gakgaya garringi
ri ballak garringa.
2)
Diki membaca
buku sejarah patung yang baru.
(Kalimat di atas diperbaiki menjadi: Diki
membaca buku sejarah tentang patung yang baru).
ð Ammacai bobbok sajara i Diki tentang patong anjo
berua.
Ø Redunansi adalah berlebih –lebihanya penggunaan unsur
segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contoh:
1) Rido minum obat
dengan tujuan agar cepat sembuh.
(Kalimat
tersebut akan lebih efektif jika: Rido minum obat agar cepat sembuh).
ð Angnginungi pakballe i Rido sollanna na intak
gassing.
2)
Fitri mengenakan
celana berwarna hijau.
(Kalimat
tersebut akan lebih efektif jika: Fitri bercelana hijau).
ð Assaluarak moncongbuloi i Fitri.
3). Buatkan contoh perubahan makna (perkembangan dalam
ilmu teknologi, sosial budaya, pemakaian kata, pertukaran tanggapan indra dan
adanya asosiasi)!
Ø Perkembangan dalam bidang ilmu teknologi
Contoh:
1) Kata “jurusan” yang awalnya bermakna tujuan
atau arah. Namun telah terjadi perkembangan makna, kata “jurusan” memiliki
makna yaitu bagian dari pengkajian ilmu di suatu sekolah maupun di perguruan
tinggi.
2) Kata “motor” yang semula bermakna alat
penggerak yang ada di semua jenis mesin. Namun telah terjadi perkembangan
makna, kata “motor” mempunyai makna yang khusus, yaitu kendaraan yang beroda
dua yang mempunyai alat penggerak di dalamnya.
Ø Perkembangan
sosial budaya
Contoh:
·
Kata “kitab”
yang memiliki makna umum yaitu buku. Namun setelah dispesialisasi, makna kata
“kitab” berubah menjadi wahyu Tuhan yang dibukukan.
Ø Perkembangan
pemakain kata
Contoh:
·
Kata “bunga”
yang memiliki makna umum yaitu bagian tumbuhan yang aromanya harum. Adapun
makna spesialisasi kata “bunga” tersebut adalah pendapatan atas setiap
investasi. Dan jika ditambahkan dengan kata tertentu, maka kata “bunga”
mempunyai makna khusus seperti: bunga hati yang bermakna kekasih dan bunga desa
yang bermakna gadis desa yang cantik.
Ø Pertukaran
tanggapan indra
Contoh:
·
Alat indra kita yang lima mempunyai fungsi
masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Namun,
dalam perkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukaran pemakaian alat
indra untuk menangkap gejala yang terjadi di sekitar manusia itu. Contohnya rasanya pahit yang seharusnya ditanggap
oleh indra perasa lidah menjadi ditanggap oleh alat penglihatan mata, seperti
dalam ujaran tomat itu kelihatannya
mentah sehingga rasanya pahit.
Ø Adanya asosiasi
Contoh:
1) Pak Andi gulung tikar karena pegawainya melakukan
korupsi.
ð Akkakrangi
tapperek Pak Andi ka anjo pagawena appanggaukang korupsi.
(Maksud dari “gulung
tikar” bukanlah kegiatan menggulung tikar, tetapi merupakan makna kiasan
dari keadaan bangkrut. Sehingga arti sebenarnya dari kalimat tersebut adalah “Pak Andi bangkrut karena pegawainya
melakukan korupsi”).
2)
Calon Bupati memperebutkan kursi untuk menang.
ð Parekang Bupatia amparebbokkangi pammoneang poro
ammeta.
(Maksud dari “memperebutkan kursi” bukanlah suatu
kegiatan yang benar-benar memperebutkan kursi dengan sebenarnya, melainkan
suatu kiasan yang menggambarkan aktivitas memperebutkan jabatan. Sehingga arti
sebenarnya dari kalimat tersebut adalah “Calon
Bupati memperebutkan jabatan untuk menang”).
Komentar
Posting Komentar