Tugas Makna
TUGAS LINGUISTIK 8
Nama : Sinarwati
NIM : 1955041024
Prodi : PBSD. B
A. JENIS-JENIS MAKNA
1.Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun.
Misalnya:
Piring yang dipegang oleh Ana berisi nasi dan beberapa lauk yang ada di sampingnya. (piring : wadah berbentuk bundar pipih dan sedikit cekung yang terbuat dari perselen dan lazimnya digunakan sebagai tempat untuk meletakkan nasi beseta lauk pauknya).
-Panne anjo natikgalaka I Ana niak bonena kanre siagadang kakdokang niak ri biringnna.
-Perut Anri kekenyangan karena terlalu banyak makan. (Makan : kegiatan memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulut, yang kemudian dikunyah dan ditelan).
-Battanna Anri bassorok dudui ka sabak jai dudui na kanre.
2.Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah kalimat yang makna katanya berubah-ubah karena mengalami proses pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut tata bahasa serta terikat dengan konteks pemakainya.
Misalnya:
1.Adik saya menangkap kupu-kupu bersama teman-temannya.
Anjakkalaki andikku kupu-kupu siagadang agangna.
2. Ayah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Bapkku akpalari oto sanna gassingnna.
Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.
Misalnya :
Aku tidak tahu mengapa seluruh muka saya terasa sangat gatal.
Taena naku issengi kana ngapa na gatalak rupangku
Badan perahu itu telah di cat dengan warna merah.
Kale biseang lekbakki ni cek warna eja.
Makna Referensial
. Makna referensial adalah makna yang berkaitan langsung dengan referensi atau acuan yang digunakan.
Misalnya :
1.Tadi saya bertemu dengan Ani. Maka kata ‘saya’ mangacu pada Ani.
Sumpaeng nakke sibuntulukka siagadang I Ani.
2.Saya ingin berjumpa dengan dia, kata Budi. Maka kata ‘saya’ mengacu pada budi.
Nakke erokka sibuntuluk siagadang I anu, nakana I Budi.
Makna Non Referensial
. Makna non referensial adalah makna yang tidak memiliki referensi atau acuan. Atau kata yang termasuk dalam kata bermakna non referensial adalah kata sambung (kongjungsi) dan preposis.
Misalnya :
1.Aku dan dia tidak terlalu akrab.
Nakke siagadang ia taena naku sikalakju-lakju.
2.Aku tidak manyukai dia karena sikapnya yang terlalu menyebalkan.
Nakke taena naku ngai nasabak sikapna sanna akpaka ballik-balissikna.
Makna Denotatif
Makan denotative adalah makna asli, makna asal, atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sama dengan makna leksikal.
Misalnya :
1.Berwudulah sebelum melaksanakan shalat
angngalleki jekne sambayang punna nalaksanakanki sambayang
2.Ibu membelih benang merah di toko sebelah.
Ammalli ammakku bannang eja anjoeng ri gakde ibakleanga.
Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna yang “ditambahkan” pada masa denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Misalnya :
1.anak itu sepertinya belajar bertangan panjang. (tangan panjang yang dimaksud di sini yaitu pencuri).
Anjo anak-anakka pilajarakki aklakbu lima. ( aklakbu lima : palukkak).
2.Kakak saya dijadikan sebagai tangan kanan oleh kedua orang tuaku.( tangan kanan: orang kepercayaan).
Kakangku nipakjari lima kanang ri bapakku siagadang ammakku. ( lima kanang : tau nipatappak).
Makna Konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.
Misalnya :
1.Kaki ayah saya terluaka saat memperbaiki atap rumah.
Akbokkaki bangkengna bapakku attunna n bajiki anjo pattongkok ballakka.
2.Ayah memotong kaki kursi itu karena terlalu tinggi.
Napolongi bangkengna anjo kaderaya bapak ka sannak tinggina.
Makna Asosiatif
Makana asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
Misalnya :
1.Semua warga turun tangan untuk memperbaiki jalan.
Iyangasenna anjo wargaya turung lima mange ambajiki anjo agadanga.
2.Banyak orang tepukau dengan suarah emas lina.
Jai tau angai anjo sakra bulaengna lina.
Makna Kata Makna kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.
Misalnya :
1. Tangannya keseleoh karena jatuh.
Taklekroki limanna kasabak ammattungngi.
Makna istilah
Beda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyi makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat . oleh karena itu, sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangk kata tidak bebas konteks.
Misalnya:
1.Lengan dan tangan pada ilmu kedokteran, keduanya merupakan bagian tubuh tidak
berbeda.
2.Paling-paling siagadang lima ri pangisengang dottorok, ianjoruaya bageang kale teane nasisala.
Makna Idiom
Makna idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
Misalnya :
1.adam seorang anak yang sangat ringan tangan. (Ringan tangan: suka memukul)
iadam anak-anak sannak ringang limana.
2. Harum tertangkap tangan saat ingin mengambil ayam warga.( tertangkap tangan : tertangkap langsung saat kejadian).
Harum nigappai wattunna angalle janganna anjo wargaya.
Makna Pribahasa
Makna peribahasa atau pepatah adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan maksud, keadaan seseorang ataupun hal yang mengungkapkan tentang, perbuatan, kelakuan atau hal tentang seseorang. Peribahasa juga dapat diartikan sebagai ungkapan yang tidak langsung, namun tersirat menyampaikan suatu hal yang dapat dipahami pembaca atau pendengar.
Misalnya:
1. arya dan adam bagaikan bagai pinang dibelah dua. (pinang dibelah dua: kembar)
Arya siagadang adam sikammai pinang ripue rua
2. Hidup ini bagaikan daun kelor.( daun kelor: sempit).
Anne tallasaka kamma todongi lekok kelorok.
B. RELASI MAKNA
Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan suatu ujaran lainnya.
Misalnya :
Realita = kenyataan
1.Tidak selamanya pemikran kita sesuai dengan realita sehingga kita harus bersabar mengahadapinya.
Tena nasakammanna anjo pikiranga siagadang realita jari katte mesti sakbarakki andalekangi anjo.
2.Para penggemar sepak bola tidak menerima kenyataan bahwa tim kebanggan mereka kalah.
Anjo tau nangaia pagolokka tena natarimai assatojengna kana nibetai anjo ting na karannuanga.
Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya mnyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain
Misalnya :
1.Mahal >< murah
Dipasar, semua barang dari harga yang paling mahal hingga yang paling murah itu ada
Ripasaraka, iangasenna anjo apa-apaya battu ri paling kakjalaka sakgenna paling lammoroka niak asengi.
2.Bahagia >< sedih
Kita harus bersyukur jika kita bahagia maupun sedih.
Katte masti sukkurukki manna rannuku iareka susaki.
Polisemi
Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu
Misalnya :
1.Saya masih punya hubungan darah dengan Adam. (darah=kesaudaraan).
Nakke niak inja pasisambungang cerak siagadang Adam.
2.Tubuh Arya berlumuran darah. (darah=yang beradah dalam tubuh).
Kalenna I Arya aktalaka cerakki
Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Misalnya :
1.Ular itu memiliki bisa yang sangat berbahaya. (Bisa: racun).
Anjo ularaka ammallaki racung sannak bahayana.
2. Aku bisa menyelesaika pekerjaan dalam beberapa menit lagi. (Bisa: mampu)
Akkullea ampaklebaki jama-mangku ilalang pirang manik anne.
Hiponimi
Hiponimi adalh hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Misalnya :
1.singa dan hewan, makna kata singa tercakup dalam makna hewan, dapat dikatakan singa adalah hewan tetapi hewan bukan hanya rambutan, bisa saja sapi,kerbau, dan kelinci
Ambiguiti atau keteksaan
Ambiguisi atau keteksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbea ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat.
Misalnya :
1.Semua pemain bola berlari mengejar bola.(Lari : melakukan kegiatan berlari).
Iangasengna pakarena golokka lari naondangi anjo golokka.
2.Karena tidak sanggup, amal lari dari kenyataan. (lari : putus asa).
Nasabak taena nasanguk I Amal lari battu ri kaassanga.
Redundasi
Istilah redundasi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Misalnya :
1.petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan petani sedang mencangkul kebunnya.
2. Anjo pakokoa nabingkungi kokonna, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan, pakokoa ammingkungi ri kokonna.
C. PERUBAHAN MAKNA
Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah; tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relative lama ada kamungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, malainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, ya
Contohnya:
1.Ibu dulu sebutan orangtua wanita, sekarang sebutan ibu diperluas dengan wanita yang lebih tua/dihormati.
2.Guru dulu kata guru di gelarkan kepada seseorang yang mengajarkan sesuatu, sedangkan sekarang sudah dipersempit yaitu hanya untuk pengajar di sekolah.
Nama : Sinarwati
NIM : 1955041024
Prodi : PBSD. B
A. JENIS-JENIS MAKNA
1.Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun.
Misalnya:
Piring yang dipegang oleh Ana berisi nasi dan beberapa lauk yang ada di sampingnya. (piring : wadah berbentuk bundar pipih dan sedikit cekung yang terbuat dari perselen dan lazimnya digunakan sebagai tempat untuk meletakkan nasi beseta lauk pauknya).
-Panne anjo natikgalaka I Ana niak bonena kanre siagadang kakdokang niak ri biringnna.
-Perut Anri kekenyangan karena terlalu banyak makan. (Makan : kegiatan memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulut, yang kemudian dikunyah dan ditelan).
-Battanna Anri bassorok dudui ka sabak jai dudui na kanre.
2.Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah kalimat yang makna katanya berubah-ubah karena mengalami proses pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut tata bahasa serta terikat dengan konteks pemakainya.
Misalnya:
1.Adik saya menangkap kupu-kupu bersama teman-temannya.
Anjakkalaki andikku kupu-kupu siagadang agangna.
2. Ayah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Bapkku akpalari oto sanna gassingnna.
Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.
Misalnya :
Aku tidak tahu mengapa seluruh muka saya terasa sangat gatal.
Taena naku issengi kana ngapa na gatalak rupangku
Badan perahu itu telah di cat dengan warna merah.
Kale biseang lekbakki ni cek warna eja.
Makna Referensial
. Makna referensial adalah makna yang berkaitan langsung dengan referensi atau acuan yang digunakan.
Misalnya :
1.Tadi saya bertemu dengan Ani. Maka kata ‘saya’ mangacu pada Ani.
Sumpaeng nakke sibuntulukka siagadang I Ani.
2.Saya ingin berjumpa dengan dia, kata Budi. Maka kata ‘saya’ mengacu pada budi.
Nakke erokka sibuntuluk siagadang I anu, nakana I Budi.
Makna Non Referensial
. Makna non referensial adalah makna yang tidak memiliki referensi atau acuan. Atau kata yang termasuk dalam kata bermakna non referensial adalah kata sambung (kongjungsi) dan preposis.
Misalnya :
1.Aku dan dia tidak terlalu akrab.
Nakke siagadang ia taena naku sikalakju-lakju.
2.Aku tidak manyukai dia karena sikapnya yang terlalu menyebalkan.
Nakke taena naku ngai nasabak sikapna sanna akpaka ballik-balissikna.
Makna Denotatif
Makan denotative adalah makna asli, makna asal, atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sama dengan makna leksikal.
Misalnya :
1.Berwudulah sebelum melaksanakan shalat
angngalleki jekne sambayang punna nalaksanakanki sambayang
2.Ibu membelih benang merah di toko sebelah.
Ammalli ammakku bannang eja anjoeng ri gakde ibakleanga.
Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna yang “ditambahkan” pada masa denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Misalnya :
1.anak itu sepertinya belajar bertangan panjang. (tangan panjang yang dimaksud di sini yaitu pencuri).
Anjo anak-anakka pilajarakki aklakbu lima. ( aklakbu lima : palukkak).
2.Kakak saya dijadikan sebagai tangan kanan oleh kedua orang tuaku.( tangan kanan: orang kepercayaan).
Kakangku nipakjari lima kanang ri bapakku siagadang ammakku. ( lima kanang : tau nipatappak).
Makna Konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.
Misalnya :
1.Kaki ayah saya terluaka saat memperbaiki atap rumah.
Akbokkaki bangkengna bapakku attunna n bajiki anjo pattongkok ballakka.
2.Ayah memotong kaki kursi itu karena terlalu tinggi.
Napolongi bangkengna anjo kaderaya bapak ka sannak tinggina.
Makna Asosiatif
Makana asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
Misalnya :
1.Semua warga turun tangan untuk memperbaiki jalan.
Iyangasenna anjo wargaya turung lima mange ambajiki anjo agadanga.
2.Banyak orang tepukau dengan suarah emas lina.
Jai tau angai anjo sakra bulaengna lina.
Makna Kata Makna kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.
Misalnya :
1. Tangannya keseleoh karena jatuh.
Taklekroki limanna kasabak ammattungngi.
Makna istilah
Beda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyi makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat . oleh karena itu, sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangk kata tidak bebas konteks.
Misalnya:
1.Lengan dan tangan pada ilmu kedokteran, keduanya merupakan bagian tubuh tidak
berbeda.
2.Paling-paling siagadang lima ri pangisengang dottorok, ianjoruaya bageang kale teane nasisala.
Makna Idiom
Makna idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
Misalnya :
1.adam seorang anak yang sangat ringan tangan. (Ringan tangan: suka memukul)
iadam anak-anak sannak ringang limana.
2. Harum tertangkap tangan saat ingin mengambil ayam warga.( tertangkap tangan : tertangkap langsung saat kejadian).
Harum nigappai wattunna angalle janganna anjo wargaya.
Makna Pribahasa
Makna peribahasa atau pepatah adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan maksud, keadaan seseorang ataupun hal yang mengungkapkan tentang, perbuatan, kelakuan atau hal tentang seseorang. Peribahasa juga dapat diartikan sebagai ungkapan yang tidak langsung, namun tersirat menyampaikan suatu hal yang dapat dipahami pembaca atau pendengar.
Misalnya:
1. arya dan adam bagaikan bagai pinang dibelah dua. (pinang dibelah dua: kembar)
Arya siagadang adam sikammai pinang ripue rua
2. Hidup ini bagaikan daun kelor.( daun kelor: sempit).
Anne tallasaka kamma todongi lekok kelorok.
B. RELASI MAKNA
Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan suatu ujaran lainnya.
Misalnya :
Realita = kenyataan
1.Tidak selamanya pemikran kita sesuai dengan realita sehingga kita harus bersabar mengahadapinya.
Tena nasakammanna anjo pikiranga siagadang realita jari katte mesti sakbarakki andalekangi anjo.
2.Para penggemar sepak bola tidak menerima kenyataan bahwa tim kebanggan mereka kalah.
Anjo tau nangaia pagolokka tena natarimai assatojengna kana nibetai anjo ting na karannuanga.
Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya mnyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain
Misalnya :
1.Mahal >< murah
Dipasar, semua barang dari harga yang paling mahal hingga yang paling murah itu ada
Ripasaraka, iangasenna anjo apa-apaya battu ri paling kakjalaka sakgenna paling lammoroka niak asengi.
2.Bahagia >< sedih
Kita harus bersyukur jika kita bahagia maupun sedih.
Katte masti sukkurukki manna rannuku iareka susaki.
Polisemi
Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu
Misalnya :
1.Saya masih punya hubungan darah dengan Adam. (darah=kesaudaraan).
Nakke niak inja pasisambungang cerak siagadang Adam.
2.Tubuh Arya berlumuran darah. (darah=yang beradah dalam tubuh).
Kalenna I Arya aktalaka cerakki
Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Misalnya :
1.Ular itu memiliki bisa yang sangat berbahaya. (Bisa: racun).
Anjo ularaka ammallaki racung sannak bahayana.
2. Aku bisa menyelesaika pekerjaan dalam beberapa menit lagi. (Bisa: mampu)
Akkullea ampaklebaki jama-mangku ilalang pirang manik anne.
Hiponimi
Hiponimi adalh hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Misalnya :
1.singa dan hewan, makna kata singa tercakup dalam makna hewan, dapat dikatakan singa adalah hewan tetapi hewan bukan hanya rambutan, bisa saja sapi,kerbau, dan kelinci
Ambiguiti atau keteksaan
Ambiguisi atau keteksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbea ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat.
Misalnya :
1.Semua pemain bola berlari mengejar bola.(Lari : melakukan kegiatan berlari).
Iangasengna pakarena golokka lari naondangi anjo golokka.
2.Karena tidak sanggup, amal lari dari kenyataan. (lari : putus asa).
Nasabak taena nasanguk I Amal lari battu ri kaassanga.
Redundasi
Istilah redundasi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Misalnya :
1.petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan petani sedang mencangkul kebunnya.
2. Anjo pakokoa nabingkungi kokonna, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan, pakokoa ammingkungi ri kokonna.
C. PERUBAHAN MAKNA
Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah; tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relative lama ada kamungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, malainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, ya
Contohnya:
1.Ibu dulu sebutan orangtua wanita, sekarang sebutan ibu diperluas dengan wanita yang lebih tua/dihormati.
2.Guru dulu kata guru di gelarkan kepada seseorang yang mengajarkan sesuatu, sedangkan sekarang sudah dipersempit yaitu hanya untuk pengajar di sekolah.
Komentar
Posting Komentar