Tugas linguistik ( Jenis makna, relasi makna dan perubahan makna)

Nama: Risnawati
Nim: 1955040007
Kelas: PBSD. B (Yg belajar dibugis)

A. Jenis makna
1. Makna leksikal
  Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.
-Contohnya:
a. Setiap bangun tidur, ibu menyuruhku minum segelas air putih hangat.
(Makna leksikal= minum)
(Punna an baunga attinro ammakku na suroa an nginung sikaca jekne kammu)
Makna leksikal= An Nginung
 b. Ayah terlambat tiba dikantor pagi tadi, karena mobilnya mogok.
Makna leksikal= Mobil
(I bapak lambaki mange ri kantorokna ri barikbasaka na saba ammogoki otona).
Makna leksikal= Oto.
2. Makna gramatikal
Makna gramatikal adalah yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata didalam kalimat.
Contohnya:
a. Jangan membuang-buang makanan, banyak saudara kita yang kelaparan diluar sana.
Makna Gramatikal: Makanan
(Teaki ammela-melaki kanre, anjo mange jai tau kacipuran).
Makna Gramatikal: Kanre
b. Seluruh orang dikampung ini tahu, kalau ia seseorang peminum.
Makna Gramatikal: peminum
(Naisseng asengi sekre kampong, kana anjo mange tau painung)
Makna Gramatikal: Painung
3. Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.
Contohnya:
a. Kaki ibu terluka karena tidak sengaja menginjak pecahan gelas.
Makna Kontekstual= Kaki
(Bangkenna ammakku akbokkaki nasaba tena na sengajaki angonjok reppek kaca).
Makna kontekstual= Bangkeng
b. Ayah memotong kaki meja diruang belajar karena terlalu tinggi.
Makna kontekstual= kaki
(I bapak na polonngi anjo bangkenna mejannga ri tampakna pappilajarannga na saba tinggi dudui).
4. Makna Referensial
Makna referensial adalah sesuatu diluar bahasa yang di acu oleh kata itu Maka kata tersebut disebut kata makna referensial.
Contohnya:
a. Putri dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.
Kata "Ambulans" termasuk kedalam kata bermakna referensial. Arti dari kata "Ambulans" adalah kendaraan yang digunakan untuk mengankut orang sakit atau korban kecelakaan, dan didalamnya dilengkapi peralatan medis.
(Putri ni erangi mange ri ballak garringa ammake oto maya')
b. Polisi semakin meningkatkan intensitas razia sajam menjelang pemilu.
Kata "Razia" termasuk ke dalam kata bermakna referensial. Arti dari kata "razia" adalah pemeriksaan serentak kata razia bermakna referensial.
(Anjo polisia tambah meningkaki intensitasna pak sogokannga nakbiring pemilu)
5. Makna Non_referensial
Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak mempunyai referen (Acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya.
a. Aku mengambil keputusan menikah untuk menyenangkan hati mereka, kedua orang tuaku. Ucap santi lirih.
Kata "Aku" mengacu pada santi, sedangkan kata "mereka" mengacu pada orang tua santi.
Kata "Aku" dan "Mereka" termasuk kedalam kata bermakna nonreferensial.
(Nakke anngellaya keputusan akbunting na supaya akkullei rannu atinna tau toaku.
b. Pergilah kalian dari sini, jangan mengamen tempat ini lagi." Aku sangat tidak suka", ujar lilis.
Kata "kalian" pada kalimat (9) dan (10) berbeda awan. Oleh karena itu kata "Kalian" termasuk kedalam kata bermakna non referensial.
(Aklampa Ngasengki an rini, teaki appala-palaki anne ritampaka na saba tena kungai).
6. Makna denotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang memiliki oleh sebuah leksem.
Contohnya:
a. Benang merah ditoko habis
(Anjo bannang ejaya lakbusukmi ri tokoa)
b. Saya lebih suka kambing hitam dibanding kambing putih.
(Nakke lebih kungai bembe leklenga na bembe keboka).
7. Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna lain yang "ditambahkan" pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Contohnya:
a. Sudah terlihat benang merah dari masalah ini.
(Benang merah pokok masalah)
(Kacinikanngi bannang ejaya jari pokok masalahya).
b. Dia dituduh sebagai kambing hitam masalah proyek mangkrak tersebut.
(Kambing hitam: orang yang disalahkan)
(Anjo mange nituduhii iya ajjari bembe lekleng i lalang ri jamanga).
8. Makna konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.
Contohnya:
a. Pensil memiliki makna konseptual. Suatu alat tulis berupa kayu bulat berisi orang keras.
(Potolo ia mianjo alat pannulisi sikamma kayu boddong laklangnganna ammake cumi lekleng.
b. Gelas memiliki makna konseptual suatu tempat yang digunakan untuk minum, biasanya berbentuk tabung dan dapat terbuat dari plastik, kaca atau semacamnya.
(Kaca iya mi anjo canteng anjo biasayya ni pake nginung, biasana assing kamma tabung siagang akkullei nipare kaca plastik).
9. Makna Asosiatif
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata, berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa.
Contohnya:
a. Orang- orang yang menerima amplop dari pengusaha pada akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang.
Maksud dari "Amplop" adalah uang suap, berbeda dari makna denotasi dari kata "amplop" yang berarti tempat surat.
Sehingga arti sebenarnya dari kalimat tersebut adalah "orang-orang yang menerima uang suap dari pengusaha pada akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang.
(Anjo tau narimayya amplop battu ri pammarentahya, salleang rijakkalaki ri pihak berwenang)
b. Para calon kepala daerah seharusnya tidak memperebutkan kursi gubernur dengan saling fitnah.
Maksud dari " memperebutkan kursi" bukanlah suatu kegiatan yang benar-benar memperebutkan kursi, melainkan suatu kiasan yang menggambarkan aktivitas memperebutkan jabatan.
Sehingga arti sebenanrnya dari kalimat tersebut "para calon kepala daerah seharusnya tidak memperebutkan jabatan gubernur dengan saling fitnah.
(Anjo calon kepala daerahya seharusna tena pasirabbukanngi pammempoang gubernurka siagang ammake cara situduh-tuduh).
10. Makna kata dan makna istilah
Pembedaan adanya makna kata dan makna istilah berdasarkan ketepatan makna kata itu dalam penggunaannya secara umum dan secara khusus. Dalam peggunaan bahasa secara umum ucapkali kata-kata itu digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya bersifat umum. Tetapi dalam penggunaan secara khusus, dalam bidang tertentu kata-kata itu digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat.
11. Makna Idiom
Makna adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat "diramalkan" dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
Contohnya:
a. Tinggi hati= Sombong
(Tinggi atinna)= tinggi langga
b. Panjang tangan= suka mencuri
Lakbu lima= nangai lukka.
12. Peribahasa
Peribahasa yaitu memiliki makna yang masih dapat ditelurusi atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya "asosiasi" Antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.
Contohnya:
a. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam= tidak enak makan dan minum karena tengah sangat bersedih.
(Anjo jekne inunga rasa katinting, kanre nikanre rasa sekam= tena sipa nganreya siagang nginunnga nasaba sanna sedihna).
b. Bagai guna-guna alu sesudah menumbuk dicampakkan= dihargai sewaktu diperlukan, dibuang setelah tidak diperlukan lagi.
(Punna ni baca-bacai alu lekba nidengka nipelakmi= ni pakatau punna ni kaparalluang nipelami punna tenamo nipakei.
B. Relasi makna
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.
1. Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Contohnya:
a. Bohong= dusta (balle-ballei na dusta)
- Aku harap setelah sekian tahun aku mengenalmu, jangan ada dusta diantara kita.
- Ketika melakukan suatu kebohongan, makan akan diikuti oleh kebohongan selanjutnya.
(Nakke kusakring punna attaung-taung maki assiisseng, tea maki kulle balle-ballei)
(Punna katte appare sekra pakballeng-balleang, pastimi tuli la balle-ballena).
b. Senang= bahagia
-senang: dirinya sangat senang ketika diberi hadiah mobil baru oleh ayahnya.
-Bahagia: bahagia rasanya bisa bertemu kembali dengan teman lama.
(Rannu: kalengna sanna rannuna riwattungna disare hadiah oto beru ri bapakna)
(Bahagia: sanna rannuna kulle sibuntulu motere siagang agang sallona)
2. Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan.
Contohnya:
a. Besar= kecil (lompo=caddi)
-Besar: begitu luas dan besar negera indonesia kita ini.
-Kecil: Kecil bukan berarti lemah terhadap lawan.
(Lompo: sanna luarakna siagang lompoi anne negarayya indonesia).
(Caddi: manna caddi tena tongja nikana lammai mange ri musunna).
b. Sempit= Longgar (seppang= longgang)
-Sempit: Celana ini terlalu sempit untuk dipakai besok.
-Longgar: Gunakanlah waktu longgar dengan kegiatan positif.
(Seppang: Anjo saluwaraka sanna seppangna nampa na nipake anmuko)
(Longgang: Pake laloi wattunu longgang-longgang ri kegiatan anu bajika)
3. Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu.
Contohnya:
a. Darah (Cera')
- ibu dan pak ari memiliki hubungan darah, hanya saja mereka tidak saling tahu.
- Darah bercucuran dipertandingan taekwondo semalam.
Kata "darah" pada contoh kalimat pertama memiliki arti saudara, pada contoh kalimat kedua memiliki arti cairan tubuh.
(I ammak siagang bapak ari nia hubungan cerakna tapika tena na ji na issengi)
(Anjo cerakka assolong-solong ri pertandingan taekondo ri bangngia)
b. Api (Pepek)
-Tika melihat Nyala api yang berkobar-kobar dari atas gedung apartment.
- Kedua remaja itu, hatinya sedang terbakar api.
Kata "api" pada contoh kalimat pertama memiliki arti yang sesungguhnya yaitu api, pada contoh kalimat kedua memiliki arti rasa cinta.
(Tika naciniki rinra pepeka akkuwayang-kuwayang i rate ri apartment)
(Anjo ruaya anak muda, atinna akkanrei pepe).
4. Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya "kebetulan" sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Contohnya:
a. Saya masih punya hubungan darah dengan keluarga bu rani.
(Darah= kesaudaraan)
b. Tubuhnya berlumuran darah setelah kepalanya terbentur tiang listrik.
(Darah= yang berada dalam tubuh)
-I nakke nia inja hubungan cerakku siagang bija pammanakang na i ammak rani
(Cerak= Sakribattang)
- Anjo kalengna ni rassi ri cerak lekbakna takguntu ulungna ri tiangna sitoronnga
(Cerak= Anjo i lalang ri kalea)
5. Hiponimi
Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Contohnya:
a. Mengkonsumsi buah-buahan seperti mangga, jeruk, semangka, dan melon dapat mencukupi kebutuhan vitamin dalam tubuh.
-Hiponimi: Mangga, jeruk, semangka dan melon.
(Na konsumsi anjo kanre-kanreyannga ia miantu taipa, lemo, mandike siagang melon na kulle ganna vitamin i lalang ri kaleya)
-Hiponimi: Taipa, lemo, mandike, na melon.
b. Naluri hewan buasa seperti singa, harimau, ular, komodo dan beruang sangat tajam terutama dalam hal mencari makanan.
-Hiponimi: Singa, harimau, ular, komodo dan beruang.
(Anjo Pangngarakna olo'-olo' sannaka rewana iya miantu, singa, harimau, ulara, pudalle siagang beruang, sanna cidukna punna mange boya kanre)
-Hiponimi: Singa, harimau, Ulara, Pudalle, beruang.
6. Ambiguiti atau ketaksaan
Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya ke gandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contohnya:
a. Minggu lalu kami bertemu dengan pemimpin agama katolik yang berdomisili di roma.
b. Minggu lalu kami bertemu sejenis ikan besar yang disebut paus.
(Allo ahad para katte assibuntulu siagang pammarentana katolik anjo domisilia mange ri roma)
(Minggu riolo nakke assibuntulu sikamma juku lompo anjo biasaya nikana juku pangngiwang)
7. Redundansi
Redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contohnya:
a. Jagalah kebersihan lingkungan, agar supaya kita terbebas dari berbagai macam penyakit.
(Jagai anjo katangkasanga, na supaya kulleki bebasa ri jaina garring)
b. Kehidupan dikota jakarta begitu keras.
(Anjo pattallasanga ri kotana jakarta sanna susahna)
8. Perubahan makna dengan pertukaran tanggapan indera.
a. Bambanna kana-kanna
(Kata-katanya cukup pedas)
Rasa pedas seharusnya tangkap enggang alat indera perasa pada lidah bertukar menjadi ditangkap oleh alat indra pendengaran seperti tampak dalam ujaran.

(Teknena kana-kannana mange ritawwa)
-Manisnya kata-katanya ke orang

Kata manis yang seharusnya di ranggap denga alat perasa lidah menjadi ditanggap dengan alat indra mata seperti dalam ujaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT UCAP PADA MANUSIA.

Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus beserta contohnya dalam bahasa Makassar

tugas ke 4 (Klasifikasi Bunyi)