Tugas perubahan makna ,Nama ;Aditya purnama irwan,Kelas: PBSD (B), Nim: 1955042022.
NAMA: ADITYA PURNAMA IRWAN
KELAS : PBSD B (MAKASSAR)
NIM : 1955042022
A.JENIS MAKNA DAN CONTOHNYA.
1. Makna Leksikal.
Makna Leksikal
adalah makana yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun.
Sebagai conto
kata GELAS dan SAPI.
Contoh kalimat; 1.Gelas ini penuh air putih.
“ Anne
cantenga rassi je’ne kebok.”
2.Sapi itu
makan rumput gajah.
“ Anjo mae
sapi ngangre ruku gajah”.
2.Makna Grametikal.
Makna
Gerametikal adalah makna kalimat yang baru ada bila terjadi proses Grametikal ,
sebagai contoh pada kata MINUM menjadi PEMINUM dan
kata DEWASA menjadi
kata KEDEWASSAN.Beriku contoh kalimat;
1.Dias
adalah seorang peminum yang selalu membuat kerusuhan.
“ I
Dias antu painung tuli mappareka kabicarang.”
2.Adit adalah adek Radit tapi dia lebih
memiliki sifat kedewassan dari kakaknya .
“ I Adit andi’na Iradit iangka toangangi pikkiranna na
kakanna”.
3.Mkana Kontekstual.
Adalah makana
sebuah leksem atau kata yang berada di
dalam suatu konteks. Contoh pada kalimat PENCARI UANG bisa diartikan RENTENIR
atau penagi utang dan pada kata SERIBU bisa di artikan dalm konteks berjudi satu juta.
Cintoh kalimat; 1.Dila seorang pencari uang di rumah warga setiap waktu warga gajian.
“ I Dila paboya
doek ri ballakna taua punna narapi wattu
pannarimang gaji
2. Saya mau tarohan bola kalu di atasharga seribu..!
“ Iyapa naku sewa a’cinik cinik pagolok punna rateanna
harga si sa’bua”
4.Makna referensi.
Sebuah kata
atau leksem disebut bermakna referensi apabila ada referensnya, atau acuannya.
Contoh kata PULPEN
dan SANDAL.
Contoh kalimat; 1.Pulpen itu tintanya sudah habis..!
(Anne
pulupenga la’busukmi dawana).
2.Sandal ini
masih kuat walau sudah lama.
(Anne sandalaka sanna
inja kassa’na na sallomo).
5.Makna Non – referensial.
Adalah sebuah
kata yang tidak memiliki ajuan atau referensi.Contoh kata Non – referensi
yaitu, MUNGKIN dan Dia.
Cntoh kalimat; 1.” Mungkin sekarang dia sudah melupakanku” . Kata Amir sambil memegang
foto sahabatnya .
(Ri kamma
–kammaya anne Nakaluppaima kapang . Nakan I Amirik nampa
nata’galak tong
fotona agangna).
2. Saya tidak tahu , mungkin dia sudah lama pergi.
( Anu taku
asseng nakke, kulle kapang sannamo sallona lampanna).
6.Makna Donatif.
Makna Donatif
adalah makna asli, makna asal, atau makna yang
sebenarnya yang dimiliki
oleh sebuah leksem.Contoh kata yaitu CABE dan GEMUK.
Contoh kalimat ; 1.
Cabe merupakan rempah makanan yang panas dan dapat meningkatkan
selerah
makan.
( Antu
ladaya pa’bale kangre a’pasipaki angangrea nasabak bambanna).
2. Badanya
gemuk karna dia hoby makan.
( Lompoi
kalenna nasabak nangai ngangrea).
7.Makna konotatif.
Makna konotatif adalah makna lain ditambahkan
pada makna Donatif tadi, contoh kata
dalam kalimat konotatif yaitu CABE yang di gabung
dengan kata TIDAK dan BAGI, adapun
kata
GEMUK yang diganti kata GUMPAL.
Contoh kalimat ; 1.
Cabe tidak enak bagi orang yang punya penyakit mah.
(Antu ladaya
anu tena nasipak punna tau nia garring sakkak bolotinna).
2. Badannya
gumpal sekali akibat suka makan banyak.
(Kalenna
garonggongngi nasabak sanna nangaina ngangrea).
8.Makna Konsep tual .
Adalah makna
yang dimiliki sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh
kata yaitu
BUKU dan MOBIL.
Contoh kalimat; 1.
Buku paket bahasa Indonesiaku jatuh ke selokan.
(Bobok bahasa
Indonesiaku mattungi naung ri solonganga).
2.Mobil itu bannya bocor kena paku.
( Anno Otoa lammai
banna nasabak ni to’doki paku).
9.Makna Asosiatif.
Adalah makna yang memiliki leksem atau kata
perkenaan dengan adanya hubungan kata itu
dengan sesuatu yang
berada di luar bahasa. Contoh kata yaitu BUNGA dan Hitam.
Contoh kalimat ;
1. Hatiku terasa berbunga saat kau
terima cintaku…!
( A’bungai
–bungai atengku wattunna kuasseng angkana ni tarimai erokku).
2. Hatinya begitu hitam, selalu ingin mencelakai orang..!
(Tuli male’lenna pa’nyawanna ,
sanging erokku na pangraki).
10.Makna kata.
Contoh kata
yaitu kata LARI dan SAKIT.
Contoh kalimat ;
1.Dia lari karna dikejar anjing.
( I anu
lari ka ni ondangi kong- kong).
2. Dia sakit
demam akibat kehujanan.
(I anh
garringi bambangi nasabak a’bosi- bosi).
11.Makna Istilah.
Mempunyai makna
yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan meskipun tanpa
konteks kalimat.Contoh kata MATA dan RAMBUT.
Contoh kalimat; 1.
Matanya sakit kena debuh.
(Pa’risiki
matanna nitaba ri limbu’buk).
2. Rambutnya
panjang dan hitam sekali.
(U’na sannak
la’buna siagadang sannak le’lenna).
12.Makna Idiom.
Adalah satuan
ujaran yang maknanya tidak dapat “diramlkan” dari makna unsur- unsurnya, baik secara leksikal maupun
secara grametikal.Contoh kata yaitu MENCARI MUKA dan TINGGI HATI.
Contoh kalimat ; 1.Amir selalu mencari muka di depan umum.
( I
Amir tuli na kapak –kapalak rupanna punna jai tau..!)
2.Bintang seorang anak yang tinggi hati, yang menganggap dirinya yang
paling baik.
( I Bintang
anak tinggi langga ,naanggak kallenna paling kamma)
13.Makna peribahasa.
Perinahsa adalah memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari
makna dari unsur-unsurnya karena adanya “antara makna asli dengan maknanya”
sebagai peribahasa. Contoh kata GULA DAN KELAPA dan minyak dan air.
Contoh kalimat; 1. Uni dan
Adit bagaikan gula dan kelapa.
( I Adit
siagadang I Uni kamam tongi golla na kaluku)
2. Fahri dan Sidik bagaikan minyak dan air.
(I Fahri
siagadang I Sidik kamma tongi minnyak na jeknek)
B. Relasi makna dan contohnya.
1. Sinonim.
SInonim adalah
hubungan hubungan somantik yang menyatakan adanya kesamaan antara satu satuan
tujuan ujaran dengan satu ujaran yang lainnya. Contoh kata PINTR dan CERDIK,
dan kata BETUL dan BENAR.
Contoh kalimat; 1.Adit serang anak yang pintar di
sekolahnya.
“Di sekolahnya Adit seorang anak
yang cerdik”.
(I Dias anak cara’dek ri
passikolanna)
“ Ri sikolanna I
Dias tagolongi anak pore pikkirik”.
2.Betul perkataan anak itu..!
Perkataan Anak itu benar..!
( Angnabayai pakkananna anjo pung
Anak – anak..!)
“ Apa
nakannang anne punganak – anak anu kamma”.
2. Antonim.
Antonim adalah
hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau
kontras antara yang satu dengan yang lainnya.Contoh kata yaitu ,PANAS dan
DINGIN, dan kata MAJU dan MUNDUR.
Contoh kalimat; 1. Air ini sangat dingin seperti air dalam
kulkas.
“ Air ini
sangat panas seperti air yang baru
mendidi”.
(Anne je’neke
sanna dinginna kamma tongi je,ne lalang kulkas).
“ Anne je’neka sanna bambanna kamma tongi je’ne beru a’rere”.
2.Mobil itu maju saat lampu hijau dinyalakan.
“
Mobil itu berhenti dan mundur saat lampu merah menyalah”.
(
Anjo Otoa majui punna lampu monjong bulo a’rinra).
“
Anjo otoa ammantangi nampa munduruk watunna a,rinra lampu ejaya”.
3.polesemi.
Adalah kata atau
ujaran yang memiliki makna lebih dari satu.Contoh kata yaitu kata TANGAN dan
AYAM.
Contoh kalimat ; 1. Dia adalah tangan kanan bos.
“ Tangan
kanan bos luka kena pisau”.
( I minjo
mae lima kanangna bos kaa).
“ Lima
kananna boska bokkaki na taba lading”.
2.Sultan Hasanuddin adalah ayam
jantan dari Timur.
“ sultan punya
Ayam jantan yang setiap pagi berkokok
membangunkan tetangganya”.
( Karaeng
sultan Hasanuddin ia miantu Jangang laki battu ri Timoro).
“ I Sultan nia
Jangang lakinna pore tingkoko na pabangung ngaseng ampi
Ampi
ballakna”.
4.Homonimi.
Homonimi adalah dua
buah kata yang kebetulan bentuknya sama , tetapi maknanya berbeda.Contoh kata KANGRE
dan BAKKA dalam bahasa Makassar.
Contoh kalimat; 1.
Kangre biralle ni pasigadang jukuk bolu.
“ kangre
kattang ni pare pappak rukkukang pepek”.
2. Jangang bakkak napolong datokku.
“ Bakkak sua –
suai I Rani tolonna SMA”.
5.Hiponimi.
Hiponimi
adalahhubungan semantic antara sebuah ujaran yang maknanya tercakup dalam makna
bentuk ujaran yang lain.Contoh kata HEWAN ,karna hewan dapat berupa
sapi,burung,dll dan kata ALAM yang mencakup gunung,sawah, dll.
Contoh kalimat; 1. Hewan itu sangat menakutkan dengan gigi
tajamnya.
(Anjo
olok-oloka sannak pakamallakna tanjak giginna).
2.Alam Indonesia sangat indah.
( Alanna
Indonesia sanna ga’gana).
6.Ambiguti.
Ambigutu adalah
gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang
berbeda. Contokalimat; 1. Ibu guru wati sedang sakit. Dapat dibartikan Ibunya
Ibu guru wati yang sakit.
( Ibu guru wati garringi).
2.Kopi tumpah kena baju, dapat diartikan Kopinya tertumpah karna kena
baju.
(kopi ta’tumpa natabai
baju).
7. Redundansi.
Adalah hal yang berlebih –lebihan dalam
kalimat tersebut.
Contoh
kalimat; 1.Rani mengenakan celena panjang.
( I
rani ammakei saluarak la,bu).
2.
Balok itu di pikul pak Herman.
(
Anjo baloka Daeng hermang ang pisangi).
C. PERUBAHAN MAKNA DAN CONTOHNYA.
1.Perubahan makna
dalam perkembangan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Adanya
perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menywbabkan sebuah kata
yang pada mulanya bermakan A menjadi
bermakna B atau C.
Contoh kalimat ; 1.Mengairi sawah agar tanaman padi tidak
layu. Dapat berkembang mengjadi
” Memopa air
ke sawah agar tanaman padi tidak layu”.
( A’panaik
jekne ri tanayaa barang tena namate asea). Dapat berkembang
menjadi “ A’kompa je’nek naik rinayyabbarang tena
namate ASEA”.
2.Perubahn makna di bidang
social budaya.
Perkembangan dalam
social budaya , juga menyebabkan terjadinya perubahan
makna, contoh kata OM dan
TUAN.
Contoh kalimat; 1. Mau
kemana Om kok buru – buru sekali..!
( Nakimaii
purina angapa ni karo –karo kammantu).
2. Silakan naik tuan, kami sudah lama
menunggu kedatangan tuan.
( Irate ki mae karaeng, sannak mantongmo sallonaki nitayang karaeng).
3.
Perkembangan pemakaian kata.
Setiap bidang kegiatan
biasanya mempunyai sejumlah kosa kata yang berkenaan
dengan bidang
itu, contoh kata TEROR dalam bahasa Indonesia dan IMANG dalam
bahasa
Makassar, dan kata PERHIASAN DUNIA.
Contoh
kalimat: 1.Dia pasti selalu akan meneror keluargamu.
( salah sike’de nalle mako na imang I Citra).
2. Istriku adalah perhiasan dunia bagiku dan keluargaku.
( Binengku kurapangi bulaeng lino ri bija pammanakangku).
4.Pertukaran tanggapan inra.
Alat inra kita yang lima memounyai pungsi masing- masing untuk menangkap
gejala – gejala yang terjadi di dunia .
Contoh kalimat; 1. Cara bicaramu panas sekali membuat aku menjadi mara.
( Bambanna batenu pau cikali nupanaiki emosiku).
2. Tulangku terasa nilu melihat orang yang patah tulang.
( Malaki bukungku a,jinik tau tepo bukunna).
Komentar
Posting Komentar