Klasifikasi bunyi bahasa (Karmila(1955042026)
Bunyi bahasa dapat dikategorisasikan menjadi :
1. Vokal,
konsonan, dan semivokal
2.
Nasal dan oral
3.
Panjang dan pendek
4.
Keras dan lunak
5.
Tunggal dan rangkap
6.
Egresif dan ingresif
7.
Geminate dan homorgan
Penjelasan :
1. Vokal,
Konsonan, dan Semivokal
Menurut Jones (1958: 12) bunyi bahasa
terbagi atas tiga macam, yaitu vokal, konsonan dan semivokal. Pembagian ini
berdasar pada ada tidaknya hambatan (proses artikulasi) dalam alat ucap.
Hambatan dalam pita suara tidak pernah disebut artikulasi.
Vokal, konsonan, dan semivokal
merupakan jenis bunyi yang dibedakan berdasarkan ada tidaknya rintangan
terhadap arus udara dalam saluran suara. Semivokal biasa dimasukkan ke dalam
konsonan. Karena itu, bunyi bunyi segmental lazim dibedakan atas bunyi vokal
dan bunyi konsonan.
Bunyi vokal adalah bunyi yang arus
udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada
artikulasi. Hambatan untuk bunyi vokal hanya pada pita suara saja. Hambatan
pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi. Karena vokal dihasilkan dengan
hambatan pita suara maka pita suara bergetar. Posisi glotis dalam keadaan
tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Dengan demikian, semua vokal termasuk
bunyi bersuara.
Konsonan adalah bunyi bahasa yang
dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini
terjadi artikulasi. Proses hambatan atau artikulasi ini dapat disertai dengan
bergetarnya pita suara, sehingga terbentuk bunyi konsonan bersuara. Jika
artikulasi itu tidak disertai dengan bergetarnya pita suara, glotis dalam dalam
keadaan terbuka akan menghasilkan konsonan tak bersuara.
Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang
secara praktis termasuk konsonan, tapi karena pada saat diartikulasikan belum
membentuk konsonan murni. Bunyi semivokal dapat disebut semikonsonan, namun
istilah ini jarang dipakai.
2.
Bunyi Nasal dan Oral
Bunyi nasal atau sengau dibedakan dari
bunyi oral berdasarkan jalan keluarnya arus udara. Bunyi nasal dihasilkan
dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut, tetapi membuka jalan
agar dapat keluar melalui rongga hidung. Penutupan arus udara ke luar rongga
mulut dapat terjadi :
a. Antara
kedua bibir, misalnya bunyi (m)
b.
Antara ujung lidah dan ceruk, hasilnya bunyi (n)
c.
Antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, hasilnya bunyi
(ŋ)
d. Antara
ujung lidah dan langt-langit keras, hasilnya bunyi (ň)
Bunyi oral dihasilkan dengan jalan
mengangkut ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga
hidung sehingga arus udara dari paru-paru keluar melalui mulut. Selain bunyi
nasal, semua bunyi vokal dan konsonan bahasa Indonesia termasuk bunyi oral.
3.
Bunyi Keras dan Lunak
Kategorisasi bunyi keras (fortis) dan
bunyi lunak (lenis) dobedakan berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara
pada waktu bunyi itu diartikulasikan (Malmberg, 1963:51-52). Bunyi bahasa
disebut keras apabila pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan
arus udara. Sebaliknya, apabila pada waktu diartikulasikan tidak disertai
ketgangan kekuatan arus udara, bunyi itu disebut lunak.
Dalam bahasa Indonesia terdapat kedua
jenis bunyi tersebut. Baik bunyi keras maupun bunyi lunak dapat berupa vokal
dan konsonan seperti diuraikan berikut ini :
Ø Bunyi
keras :
1) Bunyi
letup tak bersuara : (p, t, c, k)
2) Bunyi
geseran tak bersuara : (s)
3) Bunyi
vokal : (Ə)
Ø Bunyi
lunak :
1) Bunyi
letup bersuara : (b, d, j, g)
2) Bunyi
geseran bersuara : (Z)
3) Bunyi
nasal : (m, n, ň, ŋ)
4) Bunyi
likuida : (r, l)
5) Bunyi
semi-vokal : (w, y)
6) Bunyi
vokal : (i, e, o, u)
4. Bunyi
Panjang dan Pendek
Bunyi panjang dibedakan dari bunyi
pendek berdasarkan lamanya bunyi tersebut diucapkan atau diartikulasikan. Vokal
dan konsonan dapat dibedakan atas bunyi panjangdan pendek (Jones, 1958:136).
Tanda bunyi panjang biasanya menggunakan tanda garis pendek di atas suatu bunyi
atau menggunakan tanda titik dia disebelah kanannya, contohnya : (a) panjang
ditulis (ă) atau (a:).
5.
Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Bunyi nyaring dibedakan dari bunyi tak
nyaring berdasarkan kenyaringan bunyi pada waktu terdengar oleh telinga.
Pembedaan bunyi berdasarkan derajat kenyaringan itu merupakan tinjauan fonetik
auditoris. Derajat kenyaringan itu sendiri ditentukan oleh luas sempitnya atau
besar kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan. Makin luas ruang
resonansinya, makin rendah derajat kenyaringannya.
6. Bunyi
Tunggal dan Rangkap
Bunyi tunggal
dibedakan dari bunyi rangkap berdasarkan perwujudannya dalam suku kata. Bunyi
tunggal adalah sebuah bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata,
sedangkan bunyi rangkap adalah dua bunyi atau lebih yang bergabung dalam satu
suku kata. Semua bunyi vokal dan konsonan adalah bunyi vokal. Bunyi vokal
disebut juga munoftong.
Bunyi rangkap dapat berupa diftong
maupun klaster. Diftong, yang lazim disebut vokal rangkap, dibentuk apabila
keadaan posisi lidah sewaktu mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan bunyi
vokal yang lainnya saling berbeda (Jones, 1958:22). Misalnya, dalam bahasa
Indonesia terdapat diftong (oi), (al), dan (aU).
Klaster, yang lazim disebut gugus
konsonan, dibentuk apabila cara artikulasi atau tempat artikulasi dari kedua
konsonan yang diucapkan saling berbeda. Misalnya, dalam bahasa Indonesia
terdapat gugus (pr), (str), dan (dr).
7.
Bunyi Egresif dan Ingresif
Bunyi egresif dan ingresif dibedakan
berdasarkan arus udara. Bunyi egresif dibentuk dengan cara mengeluarkan arus
udara dari dalam paru-paru, sedangkan bunyi ingresif dibentuk dengan cara
menghisap udara kedalam paru-paru. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan
bunyi egresif.
Ø Bunyi
egresif dibedakan lagi atas bunyi egresif pulmonik dan bunyi egresif glotalik.
a. Egresif
pulmonik dibentuk dengan cara mengecilkan rongga paru-paru oleh otot paru-paru,
otot perut, dan rongga dada. Hampir semua bunyi bahasa Indonesia dibentuk
melalui egresif pulmonik.
b. Egresif
glotalik dibentuk dengan cara merapatkan pitas suara sehingga gloatis dalam
keadaan tertutup sama sekali. Bunyi egresif glotalik disebut juga bunyi
ejektif, yang ditandai dengan tanda apostrof, contohnya (p’,t’,k’,s’),
contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa-bahasa Kaukasus, Indian, dan Afrika
(Ladefoged, 1973:25).
Ø Bunyi
ingresif dibedakan atas bunyi ingresif glotalik dan bunyi ingresif velarik.
a. Ingresif
glotalik memiliki kemiripan dengan cara pembentukan bunyi egresif glotalik,
hanya arus udara yang berbeda. Dibentuk dengan cara menghisap udara dan
merapatkan pita suara sehingga glotis menutup. Adapun bunyi yang dihasilkan
disebut implosive, yang ditandai dengan tanda melengkung ke sebelah kanan,
contohnya (b,d,g). Contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa Sindhi, Swahili, Marwari,
Ngadha, dan Sawu (Ladefoged, 1973:26).
b. Ingresif
velarik dibentuk dengan cara menghisap udara dan menaikkan pangkal lidah dalam
langit-langit lunak; bersama-sama dengan merapatkan bibir; begitu pula, ujung
lidah dirapatkan ke dalam gigi/gusi. Contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa Khoisa,
Xhosa, dan Zulu (Ladefoged, 1973:28-30).
8. Geminatn
dan Homorgan
Germinat
yaitu rentetan artikulasi yang sama (identik), sehingga menimbulkan ucapan
panjang dalam bunyi tersebut, contohnya: Allah dan Assalamualaikum. Adapun yang
disebut Homorgan yaitu bunyi-bunyi bahasa yang terbentuk oleh alat dan daerah
artikulasi yang sama. Contohnya, konsonan alveolar: (t), (d), dan (n): konsonan
bilabial (p), (b), dan (m): konsonan palatal (c), (j), (n) (band. Robins, 1980,
bab 8)
Pembentukan
dan Klasifikasi Bunyi Bahasa
1.
Vokal, Konsonan, dan Semivokal
Vokal adalah bunyi bahasa yang arus
udaranya tidak mengalami rintangan. Pada
pembentukan vokal tidak ada artikulasi. Hambatan
untuk bunyi vokal hanya pada pita suara saja. Hambatan
pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi. Kosonan
adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian
alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi. Bunyi
semivokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena
pada waktu diartikulasikn belum membentuk konsonan murni.
2.
Bunyi Nasal dan Oral
Bunyi nasal atau sengau dibedakan dari
bunyi oral berdasarkan jalan keluarnyaarus udara. Bunyi
nasal dihasilkan dengan menutup arus udara keluar melalui rongga mulut, membuka
jalan agar dapt keluar melalui hidung. Bunyi
oral dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati
langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung sehingga arus udara dari
paru-paru keluar melalui mulut. Selain bunyi nasal, semua
bunyi vokal dan konsonan bahasa Indonesia termasuk bunyi oral.
3.
Bunyi Keras dan Lunak
Bunyi keras dibedakan dari bunyi lunak
berdasarkan ada tidak adanya ketegangan arus udara pada waktu bunyi itu di
artikulasikan.Bunyi bahasa disebut keras apabila pada waktu diartikulasikan
disertai ketegangan kekuatan arus udara.Sebaliknya, apabila pada waktu di
artikulasikan tidak di sertai ketegangan kekuatan arus udara, bunyi itu disebut
lunak.
ü Bunyi
keras mencakupi beberapa jenis bunyi seperti :
a.
Bunyi letup tak bersuara (p, t, c, k).
b.
Bunyi geseran tak bersuara (s).
c.
Bunyi vokal.
ü Bunyi
lunak mencakupi beberapa jenis seperti :
a.
Bunyi letup bersuara (b, d, j, g).
b. Bunyi geseran bersuara (z).
c.
Bunyi nasal (m, n, ng, ny).
d.
Bunyi likuida (r, l).
e.
Bunyi semivokal (w, y)
f.
Bunyi vokal (a, i, u, e, o)
4. Bunyi
Panjang dan Pendek
Bunyi panjang dibedakan dari bunyi
pendek berdasarkan lamanya bunyi tersebut diucapkn atau diartikulasikan.Vocal
dan konsonan dapat dibedakan atas bunyi panjang dan bunyi pendek.
5.
Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Pembedaan bunyi berdasarkan derajat
penyaringan itu merupakan tinjauan fonetik auditoris.Derajat penyaringanitu sendiri
ditentukan oleh luas sempitnya atau besar kecilnya ruang resonansi pada waktu
bunyi itu diucapkan.
6.
Bunyi Tunggal dan Rangkap
Bunyi tunggal dibedakan dari bunyi
rangkap berdasarkan perwujudannya.Bunyi tunggal adalah sebuah bunyi yang
berdiri sendiri dalam satu suku kata, sedangkan bunyi rangkap adalah dua bunyi
atau lebih yang bergabung alam satu suku kata.Semua bunyi vocal dan konsonan
adalah bunyi tunggal.Bunyi tunggal vocal disebut juga monoftong.
Bunyi rangkap dapat berupa diftong
maupun klaster.Diftong, yang lazim disebut vokal rangkap, dibentuk apabila
keadaan posisi lidah sewaktu mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan bunyi
vocal yang lainnya saling berbeda.
Klater, yang lazim disebut gugus
konsonan, dibentuk apabila cara artikulasi atau tempat artikulaksi dari
konsonan yang di ucapkan saling berbeda.
7.
Bunyi Egresif dan Ingresif
Bunyi egresif dan ingresif dibedakan
berdasrkan arus udara. Bunyi egresif dibentuk dengan cara mengeluarkan arus
udara dari dalam paru-paru, sedangkan bunyi ingresif dibentuk dengan cara
mengisap udara ke dalam paru-paru. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan
bunyi egresif.
Bunyi egresif dibedakan lagi atas
bunyi egresif pulmonic dan bunyi egresif glotalik, bunyi egresif pulmonic
dibentuk dengan cara mengecilkan ruangan paru-paru oleh otot paru-paru, otot
perut, dan rongga dada. Hampir semua bunyi bahasa Indonesia dibentuk melalui
egresif pulmonic. Bunyi egresif glotalik terbentuk dengan cara merapatkan pita
suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup sama sekali. Bunyi egresif
glotalik disebut juga bunyi ejektif.
Bunyi Ingresif dibedakan ata bunyi ingresif glotalik dan bunyi
ingresif velarik. Bunyi ingresif glotalik memiliki kemiripan dengan cara
pembentukan bunyi egresif glotalik, hanya arus udara yang berbeda, bunyi
ingresif velarik dibentuk dengan menaikkan pangkal lidah ditempatkan pada
langit-langit lunak.
Bagan Konsonan Bahasa Makassar
Posisi
Artikulasi
Cara
Artikulasi
|
Bilabial
|
Labio-dental
|
Dental
|
Alveolar
|
Palatal
|
Sentrodomal
|
Dorso
Velar
|
Uvular
|
Faringal
|
Glotal
|
|
Hambat
|
tb
|
p
|
t
|
k
|
?
|
||||||
b
|
b
|
d
|
g
|
||||||||
Frikatif
|
tb
|
s
|
|||||||||
b
|
y
|
h
|
|||||||||
Afrikat
|
tb
|
c
|
|||||||||
b
|
j
|
||||||||||
Lateral
|
tb
|
||||||||||
b
|
|||||||||||
Nasal
|
m
|
n
|
n
|
n
|
|||||||
Luncuran
|
w
|
y
|
|||||||||
getar
|
r
|
||||||||||
Bagan
Konsonan Bahasa Makassar
Keterangan:
·
p : Hambat bilabial tak bersuara
·
t : Hambat dental tak bersuara
·
k : Hambat dorso velar tak bersuara
·
? : Hambat glotal tak bersuara
·
b : Hambat bilabial bersuara
·
d : Hambat dental bersuara
·
g : Hambat dorso velar bersuara
·
s : Frikstif dorso velar tak bersuara
·
y : Frikatif dorso velar bersuara
·
h : Frikatif glotal bersuara
·
m : Nasal bilabial bersuara
·
n : Nasal dental bersuara
·
c : Afrikat alveolar tak bersuara
·
j : Afrikat palatal bersuara
·
n : Nasal dorso velar bersuara
·
n : Nasal dorso velar bersuara
·
w : Luncuran bilabial bersuara
·
y : Luncuran palatal bersuara
·
r : getar alveolar bersuara
Komentar
Posting Komentar