TUGAS 3 SPEAKING NURSINTA (1955042023)
PENGANTAR LINGUISTIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
Nama : NURSINTA
Nim : 1955042023
Kelas : PBSD (B)
ARTI
PERSAHABATAN
Bintang yang setia pada malam, begitu
pula kesetiaan embun menemani pagi. Matahari yang tak pernah lelah terangi
dunia ini. Seperti itulah persahabatan, selalu setia tanpa diminta. Saling
mengerti tanpa harus memohon. Tak ada satupun orang di dunia ini yang hidup
tanpa persahabatan, persahabatan adalah kisah terindah yang tak terlupakan bagi
setiap insan yang pernah merasakannya.
Luna, Satrya, Olive, Bondan dan Meta
sedang duduk bergerombol bersama. Mereka mengobrol, bernyanyi sambil sesekali
tertawa lantang, saling menjahili satu sama lain. Sungguh seperti sebuah
keluarga yang harmonis.
Karena merasa iri hati, Lexa dan Tita
yang tak mempunyai banyak teman datang untuk mengacaukan suasana.
Lexa
: “Idih...!! suara pas-pasan aja sok mau nyanyi! Diem aja deh
mendingan,” (dengan wajah menghina)
Bondan : “Eh.. suka-suka dong! Kayak suara kamu aja
yang paling enak, KD kalah cempreng tuu!”
Semua anak di tempat itu tertawa keras,
kecuali Lexa dan Tita yang rautnya berubah menjadi tak karuan. Bondan dan
kawan-kawannya pun melanjutkan obrolan mereka lagi tanpa menghiraukan Lexa dan
Tita.
Lexa dan Tita : (pergi meninggalkn tempat dengan wajah
berlipat)
Bondan
: “Hmm.. sorry fren, aku balik duluan ya? Ada janji buat latihan, maklum
mau ada konser amal kecil-kecilan gitu..”
Meta
: “Duh, sibuknya! Ya udah buruan berangkat, ati-ati!” (sambil
melambai-lambaikan tangan)
Olive
: “Waduh.. panggilan alam nih, aku ke toilet dulu yah..? (buru-buru
meninggalkan anak-anak yang lain)
Luna
: “Hmm, dateng lagi deh ‘langganannya’! Dasar gak berubah..
haha..”(menggeleng-gelengkan kepala)
Meta
: “Hahaha, biasa lah, Na. Kalo nggak gitu, bukan Olive namanya,”
Luna: “Eh, haus nih.. minum es enak kali
ya??”
Satrya: “Iya juga ya. Oke kalo gitu aku
beli es dulu ya, tunggu di sini aja sama Meta,” (berlalu pergi meninggalkan
Luna dan Meta)
Meta: “Na.. sebenernya beberapa bulan
ini ada yang beda dari aku, aku udah nggak bisa nyembunyiin ini semua. Dan menurutku
cuma kamu yang bisa jaga rahasia ini.”
Luna: “Rahasia? Cerita aja, Ta.. kita
kan temenan udah lama. Lagian aku udah siap kok buat jadi pendengar yang baik,”
(berusaha meyakinkan Meta)
Tanpa mereka sadari, Satrya berdiri di
kejauhan dengan beberapa bungkus es di tangannya. Satrya melihat Luna dan Meta
sedang asyik bercerita, dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka.
Ia melamun. Dan saat tersadar dari
lamunannya, ia menuju Meta dan Luna, dan tersentak ia terkejut mendengar ucapan
Meta.
Meta: “Aku.. su—ka Bondan!!” (dengan
terbata-bata)
Satrya: “Hah..?! Meta suka Bondan??”
(berkata lirih)
Kebetulan Olive juga sudah datang.
Olive: “Hah?!” (datang tiba-tiba dan
mendengar ucapan Meta yang membuatnya kesal)
Di saat itu pula pertengkaran terjadi.
Luna: “Eh, kalian udah pada balik!”
(sambil tersenyum dengan sapaan halus)
Olive: “Ta.. serius kamu suka Bondan??”
Meta: “Hmm.. ngomong apa sih, kamu..?
(pura-pura tidak tahu)
Olive: “Halah..!! gak usah bo’ong deh..
aku denger kok!” (dengan nada agak tinggi)
Luna: “Kamu salah denger, kali?”
(berusaha menengahi)
Olive: “Ta, kayaknya kamu juga harus
tahu! Aku suka ama Bondan udah lama banget, kamu nggak boleh gitu dong!! Kayak
nggak ada yang lain aja?!” (marah-marah)
Satrya: “Heh udah diem semua!!”
(berusaha menandingi nada tinggi Olive dan Meta)
Meta: “Oh gitu ya?!Berarti kamu tuh yang
ngerebut gebetan temen sendiri, kamu aja yang naksir ama cowok laen, ngapain
pake nyuruh aku??” (balik marah)
Keadaan semakin parah karena tidak ada
yang mau mengalah.
Luna: “Udah, udah... jangan bertengkar
cuma gara-gara masalah cowok!” (berusaha melerai)
Satrya: “Kita udah temenan lama, jangan
sampai semua rusak cuma karena masalah sepele kayak gini!” (berkata paling
bijak)
Olive: (meninggalkan teman-temannya dan
pergi menyendiri)
Sialnya, dua orang yang sangat membenci
Bondan cs mengetahui perkara ini. Alexa memanfaatkan keadaan ini untuk
menghancurkan persahabatan mereka berlima. Dengan satu-satunya teman setia
yaitu Tita, mereka mempengaruhi Olive supaya memusuhi dan membenci semua
sahabatnya itu.
Olive: (duduk termenung, sendiri, dan
terdiam)
Alexa: “Ehm.. kok cemberut sih??”
(berusaha menarik simpati Olive)
Tita: “Ada masalah ya, Liv?”
Olive: “Katanya sahabat, masak harus
naksir cowok yang sama?! Bete banget, kan??” (berkata dengan nada ketus)
Lexa: “Sabar aja deh. Mending sementara
nggak usah temenan deh sama mereka. Nanti kan jadi saingan yang nggak sehat!”
(merayu)
Tita: “Iya, bener tuh,” (meyakinkan
Olive)
Olive: “Gitu, ya..?”
Lexa: “Gini aja, mending mulai sekarang
kamu gabung ama kita berdua. Nanti kita akan bantu kamu ngalahin si Meta
gingsul itu!”
Tita: “Iya, bener, Liv. Kita bela kamu
kok”
Olive: “Emang boleh..??”
Tita dan Lexa: “Ya boleh, lah!!”
Olive hanya tersenyum, entah benar atau
tidak keputusannya ini, dia tidak begitu peduli saat itu.
Di sisi lain, keadaan rumah tangga orang
tua Luna sedang dilanda pertengkaran hebat. Papanya yang selalu marah-marah
bersikap keras dan memukul Mama Luna. Sementara itu Aldo, adik Luna hanya bisa
diam tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Papa Pratama: “Kamu ini bisanya bikin
susah suami aja!!” (membentak-bentak Mama Mey)
Mama Mey: “Aku salah apa, Pa..??”
Papa Pratama: “Kerjaan kamu seharian
cuma shopping, arisan, ngumpul sama temen-temen. Nggak pernah ada di rumah.
Liat ni anak kamu jadi nggak keurus!”
Mama Mey: “Tapi Papa juga sibuk sendiri
sama klien-klien di kantor. Nggak peduli sama istri dan anak-anak!!” (menangis
dan memeluk Aldo)
Papa Pratama: (Plaak..!! tmparan keras
singgah di wajah Mama Mey)
Aldo: “Ma, Papa kok mukul-mukul Mama..?”
(dengan penuh kepolosan)
Mama Mey: (menangis)
Di saat itu pula Luna datang dan
terkejut melihat semua yang terjadi.
Luna: “Mama...?!” (datang memeluk Mama
Mey)
Keesokan harinya. Satrya menceritakan
semua yang terjadi kemarin antara Meta dan Olive. Sekejap terkejutlah Bondan
mendengar semua itu.
Satrya: “Menurutku kamu hrus cepet bikin
keputusan. Kasih kepastian buat mereka berdua. Aku nggak mau mereka bertengkar
terlalu lama.”
Bondan: “Oke, oke..! aku bakal berusaha
jelasin semuanya biar mereka nggak bertengkar sia-sia,”
Bondan pun berusaha menemui Meta dan
Olive hari itu juga. Namun sayang, hanya Meta yang mau menerima keputusan
Bondan, sedangkan Olive lebih memilih menghindarinya.
Bondan: “Ta, Satrya udah nyeritain semua
ke aku tentang yang kemarin. Bener kamu suka aku..?” (berusaha memastikan)
Meta: “Satrya nggak bohong kok soal yang
kemarin itu!”
Bondan: “Gini, Ta. Sebelumnya aku minta
maaf. Soalnya gara-gara aku kamu jadi tengkar ama Olive. Bukannya apa-apa, tapi
buat waktu dekat ini aku lagi nggak pengen mikirin cewek. Aku masih mau serius
di dunia musikku,” (menerangkan dengan bijaksana)
Meta: “Oke. Aku ngerti kok. Cuma
kayaknya sekarang Olive udah terlanjur terpengaruh sama Alexa. Kayaknya bakal
sulit buat ngembaliin dia kayak dulu lagi,” (sambil mendesah putus asa)
Olive, Lexa, dan Tita: (berjalan
melewati Bondan dan Meta, namun bersikap tak acuh dan sama sekali tak peduli)
Bondan: “Olive?”
Olive: (berjalan terus tanpa henti)
Mendekati Aldo adalah salah satu cara
yang dipakai Satrya untuk menarik perhatian Luna. Hari ini pun Satrya akan
mengunjungi rumah Luna. Dan di perjalanannya menuju rumah Luna, ia melihat Aldo
tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan. Sepertinya ia menjadi korban
tabrak lari. Cepat-cepat Satrya membawa Aldo ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit...
Satrya: “Halo, Luna? Adek kamu di RS.
Dia habis ketabrak kendaraan, cepetan kamu ke Rumah Sakit—mm, Cempaka Husada,”
(langsung berbicara begitu suara di seberang telepon menjawab)
Luna: “Hah, sekarang keadaannya
gimana?!” (panik)
Satrya: “Udah tenang aja, yang penting
kamu sekarang cepetan ke sini! Jangan lupa bilangin Mama dan Papamu!”
Dan tak lama kemudian Luna datang
terengah-engah, sambil berlari tergesa-gesa.
Luna: “Ya ampun.... Aldo!!” (begitu
melihat Aldo)
Satrya: “Dokter udah periksa dia,
katanya luka di kepalanya itu nggak terlalu parah, kok,” (berusaha menenangkn
Luna)
Luna: “Syukur deh kalo gitu..” (mendesah
lega)
Satrya: “Hmm.. aku ke toilet dulu ya.
Kamu di sini aja jagain Aldo sambil nunggu ortumu dateng,”
Luna: “Iya, tapi jangan lama-lama. Aku
takut sendirian di sini,”
Satrya: “Oke,”
Saat Satrya berada di toilet, dia ingat
akan teman-temannya yang pasti juga harus diberitahu tentang ini. Tanpa
menunggu lagi, Satrya segera menelepon Meta dan Bondan.
Setelah selesai memberitahu mereka,
Satrya keluar dari toilet dan hendak berjalan kembali ke ruang rawat. Saat ia
berjalan, tiba-tiba bahunya tertabrak dengan bahu seseorang. Betapa kagetnya
Satrya saat melihat ternyata bahu yang ia tabrak adalah bahu Olive.
Olive: “Aduuh...!” (sambil memegangi
bahunya)
Satrya: “Oh, maaf, maaf.. Nggak sengaja,
lagi buru-buru,”
Olive: “Iya, iya. Nggak apa-apa kok,”
Satrya: “.. lho? Olive?? Ngapain kamu di
sini..?”
Olive: “Eh, Satrya.. Iya, aku habis
nganterin Mama check up, tapi aku ada perlu, jadi Mamaku pulang duluan. Terus..
kamu sendiri nagapain di sini?”
Satrya: “Ini, Aldo adiknya Luna
ketabrak, sekarang lagi dirawat di kamar 555. Ini aku lagi nungguin Bondan ama
Meta dateng,”
Olive: “Oh...”
Satrya: “Kamu masih marah sama Meta?
Sama kita juga?”
Olive: “Ngg... nggak sih. Agak sebel
aja. Emang kenapa?”
Satrya: “Liv, aku cuma mau beritau,
Alexa itu bukan orang yang baik. Dia manfaatin keadaan kita yang lagi retak ini
dengan menghasut kamu. Inget Liv, kita udah lama sahabatan. Kita semua tau
siapa aja yang layak diajak temenan. Dan Alexa nggak termasuk dalam kategori
itu. Dia itu cuma mau ngehancurin kita aja..”
Olive: “Tapi si Meta itu lho..”
(memasang wajah kecut)
Satrya: “Bondan udah jelasin ke Meta dan
Meta ngerti, kok. Masa kamu nggak bisa ngerti??”
Olive: “Mmmh.. gimana ya?? Iya sih, aku
liat Alexa itu nggak baik. Mm..”
Satrya: (menunggu Olive sambil menatap
matanya tajam)
Olive:”.. mungkin aku pikir aku minta
maaf aja ya ama Meta...?”
Satrya: “Naah, gitu dong! Ya udah, kamu
ikut aku aja ke kamarnya Aldo. Nanti kita tunggu Meta ama Bondan dateng,”
Olive: “Ya udah deh, yuk. Eh.. tapi aku
ke toilet dulu ya. Kamu jalan aja duluan, ntar aku nyusul kok,”
Satrya: “Oke, cepetan ya!” (langsung
pergi)
Sementara itu...
Mama Mey: “Aldo!! Anakku sayang,”
Papa Pratama: “Liat ini! Ngurus anak aja
nggak becus!!” (menyalahkan Mama Mey atas apa yang terjadi)
Mama Mey: “Ini juga salah Papa! Selalu
sibuk sampai nggak punya waktu buat nemenin Aldo main!” (balik menyalahkan)
Luna: “Udah berhenti..!! Mama sama Papa
kelakuannya sama aja! Aldo lagi sakit masih aja bertengkar, Luna capek, Ma, Pa,
dengerinnya!! Masalah itu gak bakal selesai kalau nggak diselesaiin baik-baik..
Yang ada kejadian malah tambah berantakan, coba deh Papa sama Mama ngertiin aku
sama Aldo. Kita nggk pengen Papa-Mama tengkar terus! Luna mohon dong Pa, Ma!!”
(sedikit menangis)
Aldo: “Mama.. Papa.. Kak Luna..”
(tersadar dari pingsannya)
Papa Pratama: “Mama.. Aldo.. Luna.. Papa
minta maaf ya? Papa janji bakal nyediain waktu buat ngumpul bareng-bareng
kalian semua. Papa sadar selama ini Papa terlalu sibuk di kantor,” (berbicara
setelah termenung sejenak)
Aldo: “Iya.. kita semua maafin Papa!
Tapi Papa janji ya gak boleh mukul Mama lagi..?”
Papa Pratama: “Iya,” (memeluk istri dan
anak-anaknya)
Kemudian, Satrya telah kembali dari
toilet, bersamaan dengan Meta dan Bondan yang baru datang. Tak lama kemudian,
Olive mengetuk pintu..
Olive: “Ehm.. aku boleh masuk, kan?”
(sedikit ragu)
Aldo: “Eh, Kak Olive. Nggak papa masuk
aja, Kak!”
Olive: “Sebenernya.. selain mau jenguk
Aldo, aku dateng juga untuk minta maaf atas semua kesalahanku sama kalian
selama ini. Satrya udah jelasin semua ke aku. Kalian mau, kan, maafin aku..?”
Meta: Aku juga minta maaf, soalnya udah
ngomong kasar ke kamu. Maafin aku juga, ya?”
Bondan: “Nah, kalau gini kan lebih enak,
ya kan, Fren??”
Satrya: “Aku juga seneng kalo kita semua
akur lagi kayak dulu,” (sambil tersenyum)
Luna: “Makanya, laen kali kalo mau
naksir cowok nggak usah pake acara kompakan..!”
Semua: (tertawa bersama-sama)
Tita: “Eh, sorry kalo ganggu. Sebelumnya
aku mau minta maaf sama kalian. Selama ini aku salah pilih temen. Aku sadar
Lexa cuma manfaatin aku aja. Kalian mau, kan, nerima aku jadi teman kalian??”
(tiba-tiba muncul!)
Semua: “Ya boleh, lah!!”
Sesaat kemudian, handphone Tita
berdering nyaring, mengejutkan semua orang... Terkejutlah semua orang dalam
ruangan itu saat mendengar berita bahwa Alexa mengalami kecelakaan!
Meta: “Lho kok..?!”
Bondan: “Terus keadaannya gimana
sekarang..?”
Olive: “Di Rumah Sakit mana?”
Luna: “Parah apa nggak?”
Aldo: “Alexa itu siapa...?”
Tita: (hanya diam mendengarkan semua
pertanyaan itu)
Satrya: “Gini aja. Sekarang biar Tita
ceritain semua yang dia tahu tentang keadaan Alexa sekarang,”
Aldo: “Iya, ayo cerita. Aldo juga pengen
tahu!”
Tita hanya diam. Dia masih shock dengan
banjir pertanyaan barusan.
Olive: “Titaaa ??”
Tita: “Hmm.. jadi gini, sekitar satu jam
yang lalu Lexa ceritanya mau ke sini. Dan tadi berita dari rumah sakit bilang
kalo Lexa ditemuin jatuh di perempatan deket sini. Katanya keadaannya cukup
kritis sih,”
Meta: “Rumah Sakit mana?”
Tita: “Emm, Cempaka apaa gitu, lupa
aku—”
Bondan: “Cempaka Husada, Ta?”
Tita: “Nah itu! Bener!”
Bondan: “Ya ampun Taaa, itu kan Rumah
Sakit ini! Ayo ayo kita tanya ruangan mana!” (semua orang
menepuk jidat)
Olive: “Ya udah, sekarang kita
bareng-bareng buruan cari. Om, tante, kita semua permisi dulu yah!!”
Dan tak lama kemudian mereka semua tiba
di ruangan tempat Alexa dirawat.
Tita: “Lexa... kamu nggak apa-apa kan?”
(paling antusias)
Alexa: “Aku udah agak mendingan kok..
makasih ya kalian semua udah mau jenguk aku..”
Meta: “Ya.. walaupun kita masih agak
kesel ama kamu,” (sedikit ketus)
Bondan: “Udahlah.. yang kemaren nggak
usah diungkit-ungkit lagi!”
Alexa: “Hhm, aku minta maaf yah, selama
ini aku banyak banget salah ama kalian. Mau kan, maafin aku??”
Meta: “Iya, kita mau kok maafin kamu!
Tapi ada syaratnya, lho!”
Alexa: “Apa syaratnya?”
Meta: “Kalo kamu udah sembuh nanti,
traktir kita semua makan!!” (sambil tersenyum-senyum)
Luna: “Eitz.. satu lagi, adek aku juga
diajak yah?” (merayu)
Semua: (tertawa bersama-sama)
Tak ada satupun manusia di dunia ini
yang sempurna. Mereka semua tak pernah luput dari kesalahan. Oleh karna itu
meminta maaflah jika merasa bersalah. Dan maafkanlah bila ada yang bersalah.
Semua akan indah jika kita saling memaafkan satu sama lain.
Speaking
S : Setting
a). setting waktu : Pagi hari
b). Setting tempat : Kampus, rumah Luna, Jalan, dan Rumah sakit
c). setting suasana : Tegang, kesal, haru , dan bahagia
P : Participan
Luna, Sastya, Olive, Bondan, Meta, Lexa, Tita,
Papa Pratama, Mama Mey, dan Aldo
E : End atau Tujuan
Tujuan dari
drama tersebut mengajak kita untuk tetap memaafkan sesama karena tidak ada manusia
di dunia ini yang sempurna. Oleh karena itu memintamaaflah bila merasa
bersalah. Dan maafkanlah bila ada yang bersalah. Semua akan indah jika kita
saling memaafkan satu sama lain.
A
: Act
Orintasi : Pada suatau hari ada sekelompok sahabat
yang duduk berbincang, meraka berbincang
dengan dengan penuh kebahagiaan tetapi tidak terlalu lama keudiaan ada dua
orang musuh bubuyutan mereka yang menjadi pengacau keseruaan mereka yang
menjadi tegang.
Kompliksi : pada saat itu mereka merupakan sahabat yang
sangat lama tapi karena adanya kesalah pahaman yang terjadi terhadap Meta dan
Olive membuat persahabatan mereka menjadi renggang dan pada akhirnya mereka
berseteru tapi yang dengan berjalannya waktu mereka bisa akur karena tidak ada
keegoisa dalam diri mereka.
Klimaks : selama mereka menjadi sahabat mereka berahabat tidak ada yang terlalu egois jadi
apabila terjadi masalah terjadi terhadap mereka tidak akan lama mengalami
perseteruan mereka karena apabila ada masalah mereka saling memaafkan.
K
: Key
Cara penyampaian yang digunakan
yaitu tinggi, turun, mendesak, sopan saat berbicara dengan orang tua.
I
: Instrumen
Alat untuk menyampaikan pendapat
yaitu secara lisan dalam suatau percakapan.
N
: Norma
Kesusilahaan bahwa setiap manusia
harus saling memaafkan antara sesama.
G :
Genre
Jenis wacana yang di sampaikan
pengarang yaitu cerpen.
Komentar
Posting Komentar