TUGAS-3 SPEAKING (MULIATI)
PENGANTAR LINGUISTIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
NAMA : MULIATI
NIM : 1955042014
PRODI : PBSD B
TUGAS : 3
LEGENDA MALIN KUNDANG
Di suatu desa hiduplah anak laki-laki bersama
dengan ibunya. Hidupnya sengsara dan miskin. Anak itu bernama Malin. Malin
sangat disayang ibunya karna sejak kecil, Malin sudah di tinggal mati oleh
ayahnya. Ketika Malin sudah tumbuh dewasa, ia mulai berpikir untuk merubah
kehidupan ekonomi keluarganya.
Ibu : Malin, datang ke sini nak. Bantu ibu membawa
kayu bakar ini.
Malin : Ya ibu, tunggu sebentar (Malin membantu ibunya). Ibu,
berapa lama kita akan bertahan dengan kondisi seperti ini? Aku ingin merubah
kehidupan ekonomi kita ini, Bu.
Ibu : Entahlah, ibu tidak tau Malin, kita harus bersabar dan
jangan berhenti berdoa kepada Tuhan.
Malin : Ibu, aku punya ide. Biarkan aku pergi untuk mengubah
nasib keluarga kita.
Ibu : Hah?! (terkejut). Pergi kemana Nak?
Malin : Tadi, ketika aku sedang dipasar, ada seorang saudagar
kaya yang menawariku pekerjaan. Dia berkata bahwa dia sudah memperhatikanku
sejak lama dan hatinya tergerak melihat diriku yang rajin bekerja. Ia pun
mengajakku untuk menjadi salah satu pekerjanya dan ikut bersamanya ke pulau
seberang.
Ibu : Apakah kau menerima tawaran itu Nak?
Malin : Iya bu, aku langsung menyetujuinya.
Ibu : Ibu pikir itu bukan ide yang baik anakku. Jika kamu pergi,
siapa yang akan menjagaku disini?
Malin : Sebenarnya, Malin juga tidak tega meninggalkan ibu
sendiri. Tapi, Malin tidak tahan dengan kondisi seperti ini. Malin berjanji
akan kembali dan menjadi orang yang sukses. Ibu tenang saja, aku akan berbicara
dengan Putri, supaya menengok Ibu setiap hari hingga aku kembali ke rumah.
Ibu Malin tidak bisa
melarang apa yang di inginkan Malin karena Malin sudah bertekad. Akhirnya, sang
ibu setuju dengan ide Malin.
Ibu : Baiklah, jika itu memang keinginanmu. Tapi, kamu harus
pegang janjimu untuk kembali ke sini. (Malin mengangguk)
Malin pun pergi
kerumah Putri untuk meminta bantuan Putri agar menjaga ibunya selama dia
merantau. Putri merupakan sahabat Malin yang selalu bersamanya dalam suka
maupun duka.
Putri : Mau kemana kamu, Malin?
Malin : Besok, aku akan pergi merantau.
Putri : Apa? (terkejut). Jika kamu pergi merantau, siapa yang
akan menjaga ibumu disini?
Malin : Karena itu, aku mendatangimu. Aku mau minta tolong
kepadamu untuk menjaga ibuku, tengoklah ia setiap hari hingga aku kembali.
Putri : Oh, baiklah kalau begitu. Ingatlah pesanku jangan
lupakan kita yang ada di sini, Malin.
Malin : Iya.
Keesokan harinya, sesuai
janjinya, Ibu Malin mengantarkan anaknya ke pelabuhan.
Ibu : Jaga dirimu baik-baik, Nak. Cepatlah pulang,
Malin : Ya bu, doakan Malin supaya Malin mendapat rejeki yang
banyak.
Ibu : Iya, hati-hati di jalan.
Malin pun memulai
perantauannya. Ia pergi berlayar bersama saudagar kaya. Saudagar itu memberikan
Malin pekerjaan sebagai karyawan. Saudagar tersebut mempunyai putri semata
wayang yang bernama Risa. Ketika Malin melihatnya, ia langsung jatuh hati.
Risalah yang membuat Malin untuk lebih semangat bekerja.
Di kampung halaman Malin, Ibu Malin sangat
gelisah dan khawatir dengan anaknya. Beliau takut jika Malin tidak pulang
kembali ke kampung halamannya dan melupakan sosok ibu yang melahirkannya.
Ibu : Putri.. aku rindu dengan Malin. Kira-kira kapankah Malin
kembali? Apa Malin baik-baik saja saat ini? Aku takut...
Putri : Jangan takut, Bu.. Malin pasti pulang, ia telah
berjanji. Sementara itu, biarkan aku yang menjaga Ibu.
Ibu : Ya, terima kasih Putri. Entah, apa jadinya aku tanpamu.
Putri : Jangan terlalu di pikirkan Bu..
Semakin hari, semakin
gigih semangat Malin untuk bekerja lebih giat. Sehingga pada suatu hari,
Saudagar memanggil Malin.
Teman Malin : Lin, kamu di cari sama Kapten di ruangannya.
Malin : Benarkah? Baiklah, terima kasih. (meninggalkan temannya)
Malin : (mengetuk pintu ruangan saudagar kaya)
Saudagar : Masuk..
Malin : Apakah anda memanggil saya?
Saudagar : Ya.. selamat Malin! Jabatanmu baru saja ku naikkan!
(tersenyum). Semoga kamu senang dengan jabatan barumu. Kamu bisa melihat
ruangan barumu.
Malin : terima kasih, ( nunduk kepala, meninggalkan ruangan
saudagar)
(Malin masuk keruangan
barunya, lalu duduk di kursi barunya dengan kaki terlipat di atas-tangannya
dilipat di depan dada, lalu tersenyum sinis)
Malin : Sekarang aku kaya raya. Aku dapat membeli semuanya
dengan uangku. Karena itu, Risa pasti mau menikah denganku.
Semakin hari ibu Malin
semakin merindukan anaknya, membuatnya semakin lelah di usia tuanya. Namun,
Putri selalu memberikan dukungan untuk Ibu Malin, bahwa Malin baik-baik saja
dan akan kembali ke kampung halamannya.
Putri : Jangan sedih Bu...
Ibu : Aku lelah Putri.. Kita telah menunggu Malin selama
berbulan-bulan, tetapi tidak pernah mendapatkan kabar sedikitpun dari Malin.
Putri : Percayalah bu, Malin pasti kembali dan menjadi orang
yang sukses.
Ibu : Terima kasih Putri, jika tidak ada kamu, aku pasti kesepian.
Putri : (mengangguk, tersenyum)
Karena kerja keras,
Malin berhasil menjadi orang kaya. Sesuai dengan keinginannya, Malin menikahi
Risa. Mereka hidup bahagia, dan menjadi pasangan yang romantis.
(Risa masuk keruangan
Malin-tanpa mengetuk pintu. Berjalan menuju meja kerja Malin, lalu duduk di
atas meja kerja Malin. Malin duduk di kursi-berhadapan dengan Risa, Malin
sedang sibuk dengan map yang dipegang dan dibukanya)
Malin : (megang map, melihat-lihat isi map-sambil melirik Risa.)
Ada apa dengan muka mu? Hm?
Risa : Malin...
Malin : hm? (melihat Risa)
Risa : Aku bosan... Bagaimana kalau kita pergi berlibur?
Malin : Sepertinya itu ide bagus. Bagaimana kalau pergi ke Pulau
Dua Bebek?
Risa : Wah, pulau itu sangat bagus, Aku setuju..
Malin : Baiklah, besok kita akan berangkat.
Seperti janji Malin, Malin dan Risa berlayar
ke Pulau Dua Bebek. Dalam perjalanannya mereka singgah ke kampung halaman
Malin, untuk mengisi berbagai perbekalan. Tapi, Malin tidak menemui Ibunya, ia
hanya berjalan-jalan di sekitar dermaga saja. Ketika itu, Putri – sahabatnya,
melihat Malin dan Istrinya – Risa.
Putri : Malin? Apakah dia benar Malin? Ya, pasti itu Malin. Aku
harus mengatakan itu pada Ibu! (berlari menuju rumah Ibu Malin).
Putri berlari menuju rumah
Ibu Malin. Mengatakan bahwa Malin sudah kembali dan menjadi orang kaya.
Putri : Bu~ Ibuu...
Ibu : Yaa~ ada apa Putri?
Putri : Ibu, Malin telah kembali. Ia ada di pelabuhan sekarang,
dan menjadi orang kaya!
Ibu : Hah? Benarkah? Apakah benar yang kamu lihat itu Malin?
Putri : (mengangguk) Ya, aku yakin Bu. Itu pasti Malin.
Ibu : Ayo, kita ke pelabuhan sekarang!
(Putri mendampingi Ibu
Malin untuk menemui Malin. Sesampainya di pelabuhan, Ibu Malin melihat Malin,
dan memanggil nama Malin dari kejauhan, kemudian mendekati Malin)
Ibu : Malin... Malin anakku!
Risa : Siapa wanita tua itu, Malin? (kepalanya terangkat,
menunjukkan ‘wanita tua’ yang di maksud)
Malin : (Tak menjawab pertanyaan Risa, menatap Ibunya dengan
sinis)
Risa : Jawab aku Malin! Siapa wanita tua itu? (menatap Ibu Malin
dengan tatapan jijik)
Ibu : Siapa wanita ini Malin? Apakah ia istrimu? Sungguh wanita
yang cantik... (membuka tangan untuk memeluk Risa)
Risa: (menepis tangan Ibu Malin) Jangan sentuh aku!
Malin : Jangan menyentuhnya! Dasar wanita kotor! Kulitmnu bisa
mengotori kulitnya!
(memegang dan
menjauhkan tangan Ibunya secara kasar)
Risa : Siapa wanita tua ini Malin? Ia sungguh sangat kotor!
Malin : Aku tidak tau! Aku tidak mengenal wanita ini.
Ibu : Malin anakku.. ada apa denganmu, Nak? Apa salah Ibu? Aku
ini Ibumu. Ibu yang melahirkanmu. Kamu telah berjanji untuk kembai ke kampung
ini untuk menemuiku! Apa kau lupa dengan janjimu sendiri?
Malin : Ibu? Janji? Mengaku-ngaku saja kau! Aku tidak pernah
mengatakan janji apapun dan tidak pernah mengenalmu, wanita tua!
Ibu : MALIN!!! Aku ibumu! Ibu yang melahirkanmu!
Risa : Dengar yang di katakan Malin kan? Dia tidak mengenalmu,
jadi pergi saja kau wanita tua!
Ibu : Malin... Malin anakku!!
Putri : MALIN! Lupakah kamu dengan Ibumu? Lupakah kamu dengan
janjimu untuk kembali? Celakalah kau, Malin!
Malin : Aku tidak pernah membuat janji kepada kalian. Kalian
hanya menghabiskan waktuku saja. Pengawal, bawa dua wanita ini pergi dari sini!
Pengawal : Baik Tuan.(Pengawal mendorong Putri dan Ibu Malin
hingga jatuh.)
Ibu : Malinn... Anakku!
Malin : Jangan panggil aku anakmu! Aku tidak mempunyai ibu kotor
sepertimu. Berhentilah membual! Ayo, kita pergi dari sini Risa!
Risa : Baiklah, ayo!
(Malin dan Risa pergi
ke kapalnya.)
Ibu : Malin... Malin...
Ibu : Jika kau tidak menganggap ibumu, aku tidak akan
segan-segan mengutukmu Malin! Anak DURHAKA!
Malin: (Berbalik, menghadap ibunya) Silahkan saja, aku tidak
merasa kau ibuku!
Ibu : benar-benar anak durhaka! Kamu berani menantangku? Jangan
sampai kau menyesal sudah berbuat itu padaku!
Malin : Buktikan saja!
Ibu : MALIN. TERKUTUKLAH KAU MENJADI BATU!
Suara gaib : Oh Malin, anak durhaka. Permohonan Ibumu
kukabulkan. Tubuhmu akan mati rasa, dan berubah menjadi batu.
Di tengah siang yang panas,
tiba-tiba muncullah suara petir menggelegar, dan langit menjadi gelap. (Suara
petir muncul)
Malin : aarrrggg!! (berbubah menjadi batu)
Malin pun berubah menjadi batu.Itulah akibat
dari anak yang tidak menghormati,tidak menuruti,dan tidak berbakti kepada orang
tuanya.Nah teman-teman,jaganlah kita menjadi seperti Malin.Hormatilah orang tua
kalian selagi masih ada....
SPEAKING
1)
Setting (S)
a)
Setting
Waktu
- Setelah berbulan-bulan
- Malam hari
b) Setting Tempat
- Di pesisir Pantai Sumatera
- Di Kapal
- Di sebuah Desa
- Di geladak Kapal
c) Setting Suasana
- Ramai
- Mencekam
2)
Participant (P)
- Malin Kundang
- Ibu
- Putri
- Risa
- Teman Malin
- Saudagar
3) End
(E):
Dalam
cerita ini,Maling sejak awal memiliki tujuan yang jels saat akan merantau,yakni
menjadi orang kaya untuk mengubah kehidupannya.Tujuan ini penting,karena Anda
dapat mengetahui langkah apa yang harus diambil agarvkeinginan terwujud.Dengan
kata lain,jika tidak ada tujuan maka tidak kesuksesan
4). Act
(A)
Peristiwa yang
terdapat pada cerita tersebut yaitu:
Orientasi
: Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatera.
Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi
nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat
memprihatinkan, maka ayah Malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.
Komplikasi: Besar harapan Malin dan ibunya, suatu hari nanti
ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli
keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah Malin tidak
kunjung datang, dan akhirnya putuslah harapan Malin Kundang dan ibunya. Setelah
Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri
seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah
menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama
dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Klimaks: Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak
belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Sampai dengan suatu hari di
tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang
dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Singkat cerita, setelah
bertahun-tahun Malin Kundang di kampung orang, ia sudah menjadi orang sukses. Dan
ketika ia kembali ke kampung halamannya, ia sudah lupa dengan ibunya. Dan
ketika ibu Malin Kundang menghampiri
Malin Kundang, Malin langsung mendorong ibunya hingga terjatuh. Dan
Malin pura-pura tidak mengenali ibunya lagi karena malu dengan ibunya yang
sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.Sehingga ibunya mengutuk Malin
menjadi batu karena kemarahan ibunya yang sudah memuncak.
Resolution: Janganlah
menjadi anak yang durhaka terhadap orang tua.Jika sukses jangan lupa asalnya dan selalu ingat jasa orang tua
yang telah membesarkan dengan kasih sayang
5) Key
(K)
Pertama: merendahkan
nada suara jika berbicara dengan kedua orang tua.Berbicara pada orangtua haruslah
dengan nada yang lebih rendah dari orang
tua.Fakta yang ada saat ini kita lihat anak-anak jauh lebih tinggi suaranya
ketimbang para orangtua.
Kedua: tidak
berkata\’ah\’jika diperintahkan melakukan sesuatu.\’Ah\’merupakan kata yang
tercantum dalam Al Quran yang berarti menunjukkan keengganan seorang anak
terhadap perintah dari kedua orangtuanya.Hal yang terjadi saat ini,banyak
sekali anak-anak yang jauh melebihi kata ah dalam menolak perintah kedua
orangtuanya.
Ketiga: mentaati kedua
orangtua setelah mentaati Allah dan Rasul Nya.Keridhaan Allah bergantung pada
keridhaan orangtua.Taat kepada orangtua meliputi semua hal yang tidak
bertentangan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul Nya.
6)
Instrument
Yaitu
menyampaikan pendapat secara lisan dalam suatu percakapan yang sedang
berlangsung di pesisir Pantai Sumatera, di Kapal, di sebuah desa, dan di
geladak kapal.
7).
Norma (N) : Norma yang digunakan yaitu
norma kesopanan karena malin kundang sangat durhaka kepada orangtuanya sehingga
malin kundang pura-pura tidak mengenali orang tuanya karena malu dengan ibunya
yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.
8).
Genre (G) : Jenis drama yaitu cerita legenda
Komentar
Posting Komentar