Tugas ke empat pengantar linguistik
Nama: Herawati. S
Nim: 1955040013
Prodi: PBSD (B)
Klasifikasi
Bunyi Bahasa
Bunyi bahasa dapat dikategorisasikan menjadi :
1.
Vokal, konsonan, dan semivokal
2.
Nasal dan oral
3.
Panjang dan pendek
4.
Keras dan lunak
5.
Tunggal dan rangkap
6.
Egresif dan ingresif
7.
Geminate dan homorgan
Penjelasan :
1. Vokal, Konsonan, dan
Semivokal
Menurut Jones (1958: 12) bunyi bahasa terbagi atas tiga macam,
yaitu vokal, konsonan dan semivokal. Pembagian ini berdasar pada ada tidaknya
hambatan (proses artikulasi) dalam alat ucap. Hambatan dalam pita suara tidak
pernah disebut artikulasi.
Vokal, konsonan, dan semivokal merupakan jenis bunyi yang
dibedakan berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran
suara. Semivokal biasa dimasukkan ke dalam konsonan. Karena itu, bunyi bunyi
segmental lazim dibedakan atas bunyi vokal dan bunyi konsonan.
Bunyi vokal adalah bunyi yang arus udaranya tidak mengalami
rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi. Hambatan untuk bunyi
vokal hanya pada pita suara saja. Hambatan pada pita suara tidak lazim disebut
artikulasi. Karena vokal dihasilkan dengan hambatan pita suara maka pita suara
bergetar. Posisi glotis dalam keadaan tertutup, tetapi tidak rapat sekali.
Dengan demikian, semua vokal termasuk bunyi bersuara.
Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat
arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi. Proses
hambatan atau artikulasi ini dapat disertai dengan bergetarnya pita suara,
sehingga terbentuk bunyi konsonan bersuara. Jika artikulasi itu tidak disertai
dengan bergetarnya pita suara, glotis dalam dalam keadaan terbuka akan
menghasilkan konsonan tak bersuara.
Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk
konsonan, tapi karena pada saat diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.
Bunyi semivokal dapat disebut semikonsonan, namun istilah ini jarang dipakai.
2.
Bunyi Nasal dan Oral
Bunyi nasal atau sengau dibedakan dari bunyi oral berdasarkan
jalan keluarnya arus udara. Bunyi nasal dihasilkan dengan menutup arus udara ke
luar melalui rongga mulut, tetapi membuka jalan agar dapat keluar melalui
rongga hidung. Penutupan arus udara ke luar rongga mulut dapat terjadi :
a.
Antara kedua bibir, misalnya bunyi (m)
b.
Antara ujung lidah dan ceruk, hasilnya bunyi (n)
c.
Antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, hasilnya bunyi (ŋ)
d.
Antara ujung lidah dan langt-langit keras, hasilnya bunyi (ň)
Bunyi oral dihasilkan dengan jalan mengangkut ujung anak tekak
mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung sehingga arus udara
dari paru-paru keluar melalui mulut. Selain bunyi nasal, semua bunyi vokal dan
konsonan bahasa Indonesia termasuk bunyi oral.
3.
Bunyi Keras dan Lunak
Kategorisasi bunyi keras (fortis) dan bunyi lunak (lenis)
dobedakan berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara pada waktu bunyi itu
diartikulasikan (Malmberg, 1963:51-52). Bunyi bahasa disebut keras apabila pada
waktu diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan arus udara. Sebaliknya,
apabila pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketgangan kekuatan arus
udara, bunyi itu disebut lunak.
Dalam bahasa Indonesia terdapat kedua jenis bunyi tersebut. Baik
bunyi keras maupun bunyi lunak dapat berupa vokal dan konsonan seperti
diuraikan berikut ini :
Ø Bunyi keras :
1)
Bunyi letup tak bersuara : (p, t, c, k)
2)
Bunyi geseran tak bersuara : (s)
3)
Bunyi vokal : (Ə)
Ø Bunyi
lunak :
1)
Bunyi letup bersuara : (b, d, j, g)
2)
Bunyi geseran bersuara : (Z)
3)
Bunyi nasal : (m, n, ň, ŋ)
4)
Bunyi likuida : (r, l)
5)
Bunyi semi-vokal : (w, y)
6) Bunyi vokal : (i, e,
o, u)
4.
Bunyi Panjang dan Pendek
Bunyi panjang dibedakan dari bunyi pendek berdasarkan lamanya
bunyi tersebut diucapkan atau diartikulasikan. Vokal dan konsonan dapat
dibedakan atas bunyi panjangdan pendek (Jones, 1958:136). Tanda bunyi panjang
biasanya menggunakan tanda garis pendek di atas suatu bunyi atau menggunakan
tanda titik dia disebelah kanannya, contohnya : (a) panjang ditulis (ă) atau
(a:).
5.
Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Bunyi nyaring dibedakan dari bunyi tak nyaring berdasarkan
kenyaringan bunyi pada waktu terdengar oleh telinga. Pembedaan bunyi
berdasarkan derajat kenyaringan itu merupakan tinjauan fonetik auditoris.
Derajat kenyaringan itu sendiri ditentukan oleh luas sempitnya atau besar
kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan. Makin luas ruang
resonansinya, makin rendah derajat kenyaringannya.
6.
Bunyi Tunggal dan Rangkap
Bunyi tunggal
dibedakan dari bunyi rangkap berdasarkan perwujudannya dalam suku kata. Bunyi
tunggal adalah sebuah bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata,
sedangkan bunyi rangkap adalah dua bunyi atau lebih yang bergabung dalam satu
suku kata. Semua bunyi vokal dan konsonan adalah bunyi vokal. Bunyi vokal
disebut juga munoftong.
Bunyi rangkap dapat berupa diftong maupun klaster. Diftong, yang
lazim disebut vokal rangkap, dibentuk apabila keadaan posisi lidah sewaktu
mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan bunyi vokal yang lainnya saling
berbeda (Jones, 1958:22). Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat diftong
(oi), (al), dan (aU).
Klaster, yang lazim disebut gugus konsonan, dibentuk apabila
cara artikulasi atau tempat artikulasi dari kedua konsonan yang diucapkan
saling berbeda. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat gugus (pr), (str),
dan (dr).
7.
Bunyi Egresif dan Ingresif
Bunyi egresif dan ingresif dibedakan berdasarkan arus udara.
Bunyi egresif dibentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam
paru-paru, sedangkan bunyi ingresif dibentuk dengan cara menghisap udara
kedalam paru-paru. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif.
Ø Bunyi
egresif dibedakan lagi atas bunyi egresif pulmonik dan bunyi egresif glotalik.
a.
Egresif pulmonik dibentuk dengan cara mengecilkan rongga
paru-paru oleh otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada. Hampir semua bunyi
bahasa Indonesia dibentuk melalui egresif pulmonik.
b.
Egresif glotalik dibentuk dengan cara merapatkan pitas suara
sehingga gloatis dalam keadaan tertutup sama sekali. Bunyi egresif glotalik
disebut juga bunyi ejektif, yang ditandai dengan tanda apostrof, contohnya
(p’,t’,k’,s’), contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa-bahasa Kaukasus, Indian, dan Afrika
(Ladefoged, 1973:25).
Ø Bunyi
ingresif dibedakan atas bunyi ingresif glotalik dan bunyi ingresif velarik.
a.
Ingresif glotalik memiliki kemiripan dengan cara pembentukan
bunyi egresif glotalik, hanya arus udara yang berbeda. Dibentuk dengan cara
menghisap udara dan merapatkan pita suara sehingga glotis menutup. Adapun bunyi
yang dihasilkan disebut implosive, yang ditandai dengan tanda melengkung ke
sebelah kanan, contohnya (b,d,g). Contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa Sindhi,
Swahili, Marwari, Ngadha, dan Sawu (Ladefoged, 1973:26).
b.
Ingresif velarik dibentuk dengan cara menghisap udara dan
menaikkan pangkal lidah dalam langit-langit lunak; bersama-sama dengan
merapatkan bibir; begitu pula, ujung lidah dirapatkan ke dalam gigi/gusi.
Contohnya bunyi-bunyi dalam bahasa Khoisa, Xhosa, dan Zulu (Ladefoged,
1973:28-30).
8.
Geminatn dan Homorgan
Germinat yaitu
rentetan artikulasi yang sama (identik), sehingga menimbulkan ucapan panjang
dalam bunyi tersebut, contohnya: Allah dan Assalamualaikum. Adapun yang disebut
Homorgan yaitu bunyi-bunyi bahasa yang terbentuk oleh alat dan daerah
artikulasi yang sama. Contohnya, konsonan alveolar: (t), (d), dan (n): konsonan
bilabial (p), (b), dan (m): konsonan palatal (c), (j), (n) (band. Robins, 1980,
bab 8)
Pembentukan dan Klasifikasi Bunyi Bahasa
1.
Vokal, Konsonan, dan Semivokal
Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami
rintangan. Pada pembentukan vokal
tidak ada artikulasi. Hambatan untuk bunyi vokal hanya pada pita suara saja. Hambatan pada pita
suara tidak lazim disebut artikulasi. Kosonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus
udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi. Bunyi semivokal adalah bunyi yang secara
praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada waktu diartikulasikn belum
membentuk konsonan murni.
2.
Bunyi Nasal dan Oral
Bunyi nasal atau sengau dibedakan dari bunyi oral berdasarkan
jalan keluarnyaarus udara. Bunyi nasal dihasilkan dengan menutup arus udara keluar melalui
rongga mulut, membuka jalan agar dapt keluar melalui hidung. Bunyi oral dihasilkan
dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk
menutupi rongga hidung sehingga arus udara dari paru-paru keluar melalui mulut. Selain bunyi nasal,
semua bunyi vokal dan konsonan bahasa Indonesia termasuk bunyi oral.
3.
Bunyi Keras dan Lunak
Bunyi keras dibedakan dari bunyi lunak berdasarkan ada tidak
adanya ketegangan arus udara pada waktu bunyi itu di artikulasikan.Bunyi bahasa
disebut keras apabila pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan
arus udara.Sebaliknya, apabila pada waktu di artikulasikan tidak di sertai
ketegangan kekuatan arus udara, bunyi itu disebut lunak.
ü Bunyi keras mencakupi
beberapa jenis bunyi seperti :
a. Bunyi letup tak
bersuara (p, t, c, k).
b. Bunyi geseran tak
bersuara (s).
c. Bunyi vokal.
ü Bunyi lunak mencakupi
beberapa jenis seperti :
a. Bunyi letup
bersuara (b, d, j, g).
b. Bunyi geseran
bersuara (z).
c. Bunyi nasal (m, n,
ng, ny).
d. Bunyi likuida (r,
l).
e. Bunyi semivokal (w,
y)
f. Bunyi vokal (a, i,
u, e, o)
4. Bunyi Panjang dan
Pendek
Bunyi panjang dibedakan dari bunyi pendek berdasarkan lamanya
bunyi tersebut diucapkn atau diartikulasikan.Vocal dan konsonan dapat dibedakan
atas bunyi panjang dan bunyi pendek.
5.
Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Pembedaan bunyi berdasarkan derajat penyaringan itu merupakan
tinjauan fonetik auditoris.Derajat penyaringanitu sendiri ditentukan oleh luas
sempitnya atau besar kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan.
6.
Bunyi Tunggal dan Rangkap
Bunyi tunggal dibedakan dari bunyi rangkap berdasarkan
perwujudannya.Bunyi tunggal adalah sebuah bunyi yang berdiri sendiri dalam satu
suku kata, sedangkan bunyi rangkap adalah dua bunyi atau lebih yang bergabung
alam satu suku kata.Semua bunyi vocal dan konsonan adalah bunyi tunggal.Bunyi
tunggal vocal disebut juga monoftong.
Bunyi rangkap dapat berupa diftong maupun klaster.Diftong, yang
lazim disebut vokal rangkap, dibentuk apabila keadaan posisi lidah sewaktu
mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan bunyi vocal yang lainnya saling
berbeda.
Klater, yang lazim disebut gugus konsonan, dibentuk apabila cara
artikulasi atau tempat artikulaksi dari konsonan yang di ucapkan saling
berbeda.
7.
Bunyi Egresif dan Ingresif
Bunyi egresif dan ingresif dibedakan berdasrkan arus udara.
Bunyi egresif dibentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam
paru-paru, sedangkan bunyi ingresif dibentuk dengan cara mengisap udara ke
dalam paru-paru. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif.
Bunyi egresif dibedakan lagi atas bunyi egresif pulmonic dan
bunyi egresif glotalik, bunyi egresif pulmonic dibentuk dengan cara mengecilkan
ruangan paru-paru oleh otot paru-paru, otot perut, dan rongga dada. Hampir
semua bunyi bahasa Indonesia dibentuk melalui egresif pulmonic. Bunyi egresif
glotalik terbentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glotis dalam
keadaan tertutup sama sekali. Bunyi egresif glotalik disebut juga bunyi
ejektif.
Bunyi Ingresif dibedakan
ata bunyi ingresif glotalik dan bunyi ingresif velarik. Bunyi ingresif glotalik
memiliki kemiripan dengan cara pembentukan bunyi egresif glotalik, hanya arus
udara yang berbeda, bunyi ingresif velarik dibentuk dengan menaikkan pangkal
lidah ditempatkan pada langit-langit lunak
Komentar
Posting Komentar