perubahan fonem
Nama : Ihsanul Amal
Nim :1955040001
Kelas :PBSD B Makassar
1.puisi
Menyerah
Maaf,aku harus menyerah
Telah lama kucoba untuk bertahan namun aku
Semakin terluka
Maaf,aku harus menyerah
Kuat inginku
untuk bertahan namun hati tak
Bisa lagi menerima
Maaf,aku harus menyerah
Luka ini sudah
terlalu dalam hingga membuat
Hatiku pecah bergemilang darah
Maaf,aku harus menyerah
Menghentikan langkah menutup semua
lembar
Kisah
mimpi indah sepasang anak manusia
Yang bercinta tentang cinta
Maaf,aku menyerah….
2.Perubahan fonem yang terdapat pada puisi Menyerah di atas tersebut
|
3.Contoh fonem dalam bahasa Makassar
1.Asimilasi dan Disimilasi
Keterangan:
a.Angngerang
Ang+Ngerang=Angngerang
b.Angnganre
Ang+Nganre=Angnganre
2.Netralisasi dan Arkifonem
Keterangan:
a.Sabtu
na Saptu
Kedua bunyi itu tidak membedakan
makna.
b.Paru na Beru
Kedua bunyi itu tidak membedakan
makna.
3.Umlaut,Ablaut,dan Harmoni Vokal
Keterangan:
a.Sing
b.Sang
Kata Sing menjadi sang dan sung.
4.Kontraksi
|
Bentuk asli
|
Penghilangan yang terjadi
|
Bentuk hasil kontraks
|
Contoh kalimat
|
|
Angngura
|
Hilang suku kata{ Ang}
|
Ngura
|
Ngura tena nu mange sikola?
|
|
Sampekpa
|
Hilang kata {Pa}
|
Sampek
|
Mangeki angnganre juku sampe ri balla
|
5.Metatesis dan Epentetis
a.Jalur na Lajur
b.Kolar na Koral
Pada kata di atas bukan mengubah
bentuk fonem menjadi fonem yang lain,melainkan mengubah urutan fonem yang
terdapat dalam suatu kata.
4.pengertian lima perubahan fonem
1.Asimilasi
dan Desimilasi
1.Asimilasi
Asimilasi
merupakan perubahan morfofonemik tempat sebuah fonem yang cenderung lebih
banyak menyerupai fonem lingkungannya. Asimilasi adalah peristiwa berubahnya
sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di
lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang
sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.
Misalnya, kata sabtu dalam bahasa indonesia sering diucapkan /saptu/,
dimana terlihat bunyi /b/ berubah menjadi /p/ sebagai akibat pengaruh /t/,
bunyi /b/ adalah bunyi hambat bersuara sedangkan bunyi /t/ adalah bunyi hambat
tak bersuara. Oleh karena itu bunyi /b/ yang bersuara iru, karena pengaruh
bunyi /t/ yang tak bersuara, berubah menjadi bunyi /p/ yang juga tidak
bersuara.
Desimilasi adalah kalau dalam asimilasi fonem mengalami
perubahan mendekati fonem lingkungannya, maka dalam disimilasi fonem tersebut
seakan-akan menjauhi persamaan dengan fonem lingkungannya. Dengan kata lain
terjadi pelainan bunyi demi kepentingan kelancaran ucapan.
Misalnya, dalam bahasa Sansekerta kata cipta dan cinta yang berasal dari
bahasa Sansekerta citta. Kita lihat bunyi /tt/ pada kata citta berubah menjadi
bunyi /pt/ pada kata cipta dan bunyi /nt/ pada kata cinta.
Contoh lainnya:
in + noble → ignoble
saj + jana
(skt) → sarjana
sayur + sayur → sayur mayur
2..Netralisasi dan arkifonem
Netralisasi
ialah hilangnya kontras antara dua buah fonem yang berbeda. Misalnya, bunyi [b]
pada kata jawab bisa dilafalkan sebagai bunyi [p] dan juga sebagai [b],
sehingga kata jawab itu bisa dilafalkan sebagai [jawab] dan [jawap]. Hal
seperti ini di dalam kajian fonemik disebut arkifonem, yakni dua buah fonem
yang kehilangan kontrasnya. Sebagai arkifonem kedua fonem itu dilambangkan
sebagai fonem B ditulis huruf capital. Kenapa fonem B bukan p? karena apabila
diberi proses afiksasi dengan sufiks {-an}, fonem bnya itu akan muncul kembali
jadi {jawab} + {-an} → [ja.wa.ban].
3.Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal
Kata
umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai
pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi
vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.
Ablaut
adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk
menandai berbagai fungsi gramatikal.
4.Kontraksi
Dalam
percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur
menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang
dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi.
Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya
sendiri-sendiri.
5.Metatesis dan Epetetis
Proses metatesis buka
mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem
yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya
sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut variasi. Perubahan bunyi atau fonem
yang dibicarakn di atas hanya terjadi pada bahas-bahasa tertentu, yang tidak
harus terjadi pad bahasa lain.
Komentar
Posting Komentar