jenis jenis makna
Nama : Ihsanul amal
Nim : 1955040001
Prodi : Pbsd. B
A. Jenis-Jenis Makna
1. Makna leksikal
Makna Leksikal merupakan makna yang
sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki manusia, sehingga makna yang
tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus
(makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasar atau makna konkret).
Contohnya:
a.
Ikan
yang di pelihara oleh albi sangat indah dan mempunyai banyak anak.
(jukukk injo na parakaia ialbi sannak
gammarakna na loe pole anakna.)
Ikan аdаlаh hewan bertulang bеlаkаng
(vertebrata) уаng hidup dі air dan bernapas dеngаn insang. Nah, dаrі
definisinya aja udah keliatan kalo alat pernapasan ikan аdаlаh insang.
b.
Buku
yang aku pakai sudah penuh karena aku selalumenulis setiap hari.
(bobok anjo kupakea rassimi ka tulu
ku panngukiri allo-allo na)
Buku adalah alat tulis menulis yang
di gunakan untuk menulis sesuatu yang kita anggap penting dan perlu di tulis
agar tidak dapat di lupa.
2. Makna
gramatikal
Makna gramatikal merupakan makna yang
muncul akibat dari adanya proses gramatikal atau proses tata bahasa. Proses
gramatikal antara lain: proses kompisisi, proses reduplikasi, proses afiksasi,
serta proses komposisi atau kalimatisasi.
Contohnya
a.
Alri
sedang bermain di belakang rumah bersama teman-temanya.
(akkare-karenai Alri ri bokona
ballaka siagang uranna.)
b.
Ibu
sedang memasak di dapur.
(appallui ammakku ri pallua.)
3. Makna
gramatikal
Makna kontekstual merupakan makna
dari sebuah kata atau leksem yang muncul berdasarkan suatu konteks tertentu.
Contohnya:
a.
Aku
tidak tahu mengapakepalaku menjadi sakit.
(tena kuassengi annguraulungku tulu
pakrisik.)
b.
Aku
selalu memikirkan orang tuaku di rumah.
(tulu ku nawa-nawa tau toaku ri
ballak.)
4. Makna
referensial
Makna referensial memiliki arti,
yakni maka yang memiliki referensi atau acuannya dalam dunia nyata.
Contohnya:
a.
“Tadi
saya beremu dengan Ali”, kata Lia pada Ana.
(“assibuntulanga siagang iani
sumpaeng”, nakna Lia mange ri Ana)
Kata “saya” mengacu pada Ali.
b.
Kata
Ihla dan teman-temanya, “Kami ingin menemuai ana di rumahnya”.
(nakunggi Ihla siagang
uran-uranna,”kitte eroki ammangei iana ri ballakna”.
Makna kata ‘kita’ mengacu pada Ihla
dan teman-temannya.
5. Makna
non-referensial
Makna non-referensial merupakan lawan
dari makna referensial. Makna non-referensial merupakan makna pada kata yang
tidak memiliki acuan di dunia nyata.
Contohnya:
a.
Saya
dan adikku tidak mirip.
(nakke siagang andikku tena
kussingtanjak)
6. Makna denotatif
Makna denotatif seperti yang telah
kita ketahui merupakan makna asli, makna asal, atau pun makna sebenarnya yang
diimiliki sebuah kata dan tidak memiliki makna tersembunyi lain di dalamnya.
Hampir sama dengan makna leksial, makna denotatif mengacu pada makna yang ada
pada kamus atau literatur bahasa lain.
Contohnya:
a.
Buanglah
sampah pada tempatnya.
(pelaki loroa ri tampakna.)
b.
Laksanakanlah
shalat 5 waktu.
(paentengi sambyang 5 wattunu)
7. Makna konotatif
Makna konotatif merupakan kebalikan
dari makna denotative. Makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan
pada sebuah kata yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok
yang menggunakan kata tersebut.
Contohnya:
a.
Risa
menyapu bersih semua lomba.
(Risa naalle kabusuki anjo lombaya)
Kata ‘menyapu bersih’ artinya
memenankan.
b.
Nina
adalah anak yang keras kepala.
(nina iamiantu anak tea akpilanngeri)
Kata ‘keras kepala’ artinya susah di
nasehati.
8. Makna
konseptual
Makna konseptual merupakan makna yang
dimiliki oleh sebuah kata yang terlepas dari konteks maupun asosiasi apapun.
Dengan kata lain makna konseptual merupakan makna yang terkandung pada kata
yang berdiri sendiri.
Contohnya:
a. Alri sendang
membajak sawah.
(anjamai galung ialri)
Kata ‘sawah’ memiliki makna ladang atau tempat untuk bercocok
tanam padi
b. Abi sedang
menyankul di kebun kakek.
(akbingkungi abi ri kokona nenekku)
Kata ‘kebun’ memiliki makna tempat untk menanam jangung,
sayur-sayurang, dll.
9. Makna asosiatif
Makna asosiatif merupakan makna kata yang muncul karena
adanya hubungan kata tersebut dengan hal lain di luar bahasa.
Contohnya:
a. Semua orang
turun tanganuntuk membangun jembatan.
(iya kabusu tauwa naung limaimange akbaung jambatang)
b. Rara memiliki
suara emas yang indah.
(sakra bulaenna rara sannak gammarakna)
10. Makna kata
Makna kata merupakan makna yang bersifat umum, gambaran
kasar, dan tidak jelas. Makna ini menjelaskan beberapa kata sebagai kata yang
bermakna lazim atau sama.
Contohnya:
a. Reppeki ulungna
na tuju btu
(kepalanya pecah tertimpa batu)
b. Dadanya sesak
sebab dia terlalu lelah
(nasawalaki akmaika ka tulu ttujui)
11. Makna istilah
Makna istilah merupakan kebalikan dari makna kata. Makna
istilah bersifat jelas, tidak meragukan, serta hanya digunakan pada suatu
bidang keilmuan ataupun kegiatan tertentu saja.
Contohnya:
a. kuping dan
telinga pada ilmu kedokteran keduanya
adalah bagian tubuh yang tidak berbeda.
(paling-paling siagang lima
ri panggissenan dottoroka rua-ruana iamiantu batang kale tena passi
salanna)
b. Kaki dan betis
adalah salah satu orang tubuh manusia.
(banking siangan bitisi iamiantu sala sekrenna ia niaka ri
batang kale taua)
12. Makna idion
Makna idiom atau makna idiomatic merupakan makna kata yang
terdapat pada kelompok kata tertentu, di mana makna yang terbentuk berbeda
dengan makna asli dari kata tersebut. Asal usul kemunculan makna kata tersebut
atau frasa tersebut tidak diketahui. Pengertian makna idiom hampir mirip dengan
makna konotasi.
Contohnya:
a. Baso tau sanna
labona (labo yaitu orang yang murah hatil)
(baso iamiantu anak labo)
b. Ilham di juluki
sebagai tiang listrik berjalan (tiang listrik adalah orang yang sangat tinggi)
(Ilham biasai bi panngunggi tiang lampu akdakka)
13. Makna pribahasa
Makna peribahasa memiliki pengertian yang mirip dengan makna
idiom, yakni makna yang timbul karena pembentukan frasa atau kumpulan kata
tertenu. Bedanya dengan makna idiom, makna peribahasa memiliki asal usul yang masih dapat
ditelusuri.
Contohnya:
a. Ika dan ina
seperti burung yang merindukan sangkarnya. (merindukan sangkarnya adalah saling
merindukan satu sama lain)
(ika siagang ina sikammai jangang-jangang nakku ka mange ri
jakbakna)
b. Kau dan dia
bagaikan langit dan bumi. ( langit dan bumi adalah beda jauh dari sisi ekonomi,
social, derajat, dll)
(Ikau siangan ia singkamma langik na lino)
B. Relasi makna
1.Sinonimi
Sinonim sering disebut dengan persamaan kata, maksudnya kata
yang mempunyai makna sama atau hampir sama dengan kata lain.
Contohnya:
a. Cantik – indah
( gakga- gammarak)
Dia wanita yang cantik ( ia baine sannak gakgana)
b. Mati—meninggal
(mate- moterang)
Saya melihat orang meninnggal ( accinika tau mat)
2. Antonimi dan oposisi
Antonimi sering disebut dengan lawan kata, maksudnya maknanya
kebalikan dari makna ungkapan lain.
Contohnya:
a. Hitam – putih
( lekleng-kebok)
basse memakai baju baru warnaputih( akbaju beru alri
warnakebok)
b. Panjang- pendek
( lakbu-bodo)
Rambunya sangat pendek (bodona anjo uk na)
3. Polisemi
Polisemi
adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contohnya:
a. Saya memeiliki
hubungandarah dengan abid ( darah= saudarah)
(Inakke niak passisambungancerakku siagang abid)
b. Inu berlumurang
dengan darah ( darah = kecelakaan)
(sanning cerak mami ri kalenna inu)
4. Homonimi
Homonimi adalah suatu
kata yang memiliki makna berbeda, tetapi memiliki ejaan atau lafal yang sama.
Contohnya:
a. Keadaan
sekarang sangatgenting ( genting= kacau/darurat)
(kamma-kamma anne sannakricuna)
b. Lipan itu
memiliki bisa(bisa=racun)
(anjo lipanga niak racunna)
5. Hiponimi
Hiponimi merupakan
bagian dari makna suatu ungkapan lain.
Contohnya:
a. Bunga itu
sangat indah (bunga termasuk dalam kelompok tanaman hias)
(sannak gammarakna anjobunga-bungaia)
b. Pohon manga
yang memiliki banyak buah (pohon mangga termasuk jenis pohon)
(anjo poko taipaia sannak loena buana)
6. Ambiguiti
Ambiguiti adalah gejalah dapat terjadinya kegandaan makna
akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contohnya:
a. Yang gemuk
adalah pejabat (gemuk=korupsi)
(pajabaka cokmoki)
b. Dia sudah putus
asa ( putus asa=menyerah)
(teami ausaha)
7. Redundasi
Redudansi artinya
sebagai berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contohnya:
a.
Riska
sedang menulis di bukunya.
( annulisiski riska ri bokbokna)
b. Bapakku sedang
menyankul di sawah
(Akbingkungi bapakku ri galunga)
C. Perubahan makna
Secara singkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan
berubah. Tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah, maksudnya dalam
makna yang relative sigkat makna sebuah kata akan tetap sama tidak berubah.
Tetapi dalam waktu yang relative lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan
dapat berubah.
Contohnya:
a.
Saudara(sianak) dulu yang di maksud dengan saudara adalah saudara
kandung sekarang semua orang bias di katakana saudara.
b. Bapak dulu di
ucapkan hanya untuk orang tua saja sekarang kata bapak di peruntuhkan kepada
siapa saja yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kita.
Komentar
Posting Komentar