Nama  : Muhammad Fajar
NIM    : 1955042025
Prodi   : PBSD B

A. Jenis makna
1. Makna leksikal
  Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.  
-Contohnya:
a.Sejak kecil, ia sudah kehilangan sosok seorang ibu .
(Makna leksikal= Ibu)
(Ri caddi cadikkuji,nana bokoia ammakku)
Makna leksikal= Ammakku
 b. Ayah saya tidak kekantor tadi pagi, karena dia pergi beli mobil.
Makna leksikal= Mobil
( Ribarikbasaka bapakku tena na mange ri kantorokna,ka mangei malli oto).
Makna leksikal= Oto.
2. Makna gramatikal
Makna gramatikal adalah yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata didalam kalimat.
Contohnya:
a. Jangan membuang-buang makanan, banyak saudara kita yang kelaparan diluar sana.
Makna Gramatikal: Makanan
(Teaki ammela-melaki kanre, anjo mange jai tau kacipuran).
Makna Gramatikal: Kanre
b. Seluruh orang dikampung ini tahu, kalau ia seseorang peminum.
Makna Gramatikal: peminum
(Naisseng asengi sekre kampong, kana anjo mange tau painung)
Makna Gramatikal: Painung
3. Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.
Contohnya:
a. Tangan ibu terluka karena terkena pecahan gelas.
Makna Kontekstual= Tangan
(Limannaa ammakku akbokkaki nasaba natabai reppek kaca).
Makna kontekstual= Limanna
b. Ayah memotong kaki kursi karena terlalu tinggi.
Makna kontekstual= kaki
(I bapak na polonngi anjo bangkenna bangkoa nasaba tinggi dudui).
Makna kontekstual=Bangkeng
4. Makna Referensial
Makna referensial adalah sesuatu diluar bahasa yang di acu oleh kata itu Maka kata tersebut disebut kata makna referensial.
Contohnya:
a. Putri ni erangi mange ri ballak garringa ammake oto maya'
( Putri dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.)
Kata "Ambulans" termasuk kedalam kata bermakna referensial. Arti dari kata "Ambulans" adalah kendaraan yang digunakan untuk mengankut orang sakit atau korban kecelakaan, dan didalamnya dilengkapi peralatan medis.
b. Anjo polisia akraziai ri agadanga
(Polisi melakukan razia dijalan.)
Kata "Razia" termasuk ke dalam kata bermakna referensial. Arti dari kata "razia" adalah pemeriksaan serentak kata razia bermakna referensial.
5. Makna Non_referensial
Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak mempunyai referen (Acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya.
a. Angngallea keputusana angkana naku lanjuki sikolaku ri UNM.
(Aku mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan di UNM.)
Kata "Aku" mengacu pada santi, sedangkan kata "mereka" mengacu pada orang tua santi.
Kata "Aku" dan "Mereka" termasuk kedalam kata bermakna nonreferensial.
b. Pergilah kalian dari sini, jangan mengamen tempat ini lagi." Aku sangat tidak suka", ujar lilis.
Kata "kalian" pada kalimat (9) dan (10) berbeda awan. Oleh karena itu kata "Kalian" termasuk kedalam kata bermakna non referensial.
(Aklampa Ngasengki an rini, teaki appala-palaki anne ritampaka na saba tena kungai).
6. Makna denotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang memiliki oleh sebuah leksem.
Contohnya:
a. Benang hitam ditoko habis
(Anjo bannang lekleng lakbusukmi ri tokoa)
Makna denotatif=bannang lekleng
b. Saya lebih suka kucing hitam dibanding Kucing putih.
(Nakke lebih kungai miong leklenga na miong keboka).
Makna denotatif=mong lekleng
7. Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna lain yang "ditambahkan" pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Contohnya:
a. I Rifal lima kananna I Faldi
(Rifal adalah tangan kanan faldi.)
(Lima kanang=tau napatappaka)
(Tangan kanan=orang kepercayaan)
b.Anjo mange nituduhii iya ajjari bembe lekleng i lalang ri jamanga
 (Dia dituduh sebagai kambing hitam masalah proyek mangkrak tersebut.)
(Kambing hitam: orang yang disalahkan)
8. Makna konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.
Contohnya:
a. Pensil memiliki makna konseptual. Suatu alat tulis berupa kayu bulat berisi orang keras.
(Potolo ia mianjo alat pannulisi sikamma kayu boddong laklangnganna ammake cumi lekleng.
b. Gelas memiliki makna konseptual suatu tempat yang digunakan untuk minum, biasanya berbentuk tabung dan dapat terbuat dari plastik, kaca atau semacamnya.
(Kaca iya mi anjo canteng anjo biasayya ni pake nginung, biasana assing kamma tabung siagang akkullei nipare kaca plastik).
9. Makna Asosiatif
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata, berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa.
Contohnya:
a. Orang- orang yang menerima amplop dari pengusaha pada akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang.
Maksud dari "Amplop" adalah uang suap, berbeda dari makna denotasi dari kata "amplop" yang berarti tempat surat.
Sehingga arti sebenarnya dari kalimat tersebut adalah "orang-orang yang menerima uang suap dari pengusaha pada akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang.
(Anjo tau narimayya amplop battu ri pammarentahya, salleang rijakkalaki ri pihak berwenang)
b. Para calon kepala daerah seharusnya tidak memperebutkan kursi gubernur dengan saling fitnah.
Maksud dari " memperebutkan kursi" bukanlah suatu kegiatan yang benar-benar memperebutkan kursi, melainkan suatu kiasan yang menggambarkan aktivitas memperebutkan jabatan.
Sehingga arti sebenanrnya dari kalimat tersebut "para calon kepala daerah seharusnya tidak memperebutkan jabatan gubernur dengan saling fitnah.
(Anjo calon kepala daerahya seharusna tena pasirabbukanngi pammempoang gubernurka siagang ammake cara situduh-tuduh).
10. Makna kata dan makna istilah
Pembedaan adanya makna kata dan makna istilah berdasarkan ketepatan makna kata itu dalam penggunaannya secara umum dan secara khusus. Dalam peggunaan bahasa secara umum ucapkali kata-kata itu digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya bersifat umum. Tetapi dalam penggunaan secara khusus, dalam bidang tertentu kata-kata itu digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat.
11. Makna Idiom
Makna adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat "diramalkan" dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
Contohnya:
a. Ti= Sombong
(Tinggi atinna)= tinggi langga
b. Panjang tangan= suka mencuri
Lakbu lima= nangai lukka.
12. Peribahasa
Peribahasa yaitu memiliki makna yang masih dapat ditelurusi atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya "asosiasi" Antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.
Contohnya:
a. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam= tidak enak makan dan minum karena tengah sangat bersedih.
(Anjo jekne inunga rasa katinting, kanre nikanre rasa sekam= tena sipa nganreya siagang nginunnga nasaba sanna sedihna).
b. Bagai guna-guna alu sesudah menumbuk dicampakkan= dihargai sewaktu diperlukan, dibuang setelah tidak diperlukan lagi.
(Punna ni baca-bacai alu lekba nidengka nipelakmi= ni pakatau punna ni kaparalluang nipelami punna tenamo nipakei.


B. Relasi makna
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.
1. Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Contohnya:
a. Bohong= dusta (balle-ballei na dusta)
- Aku harap setelah sekian tahun aku mengenalmu, jangan ada dusta diantara kita.
- Ketika melakukan suatu kebohongan, makan akan diikuti oleh kebohongan selanjutnya.
(Nakke kusakring punna attaung-taung maki assiisseng, tea maki kulle balle-ballei)
(Punna katte appare sekra pakballeng-balleang, pastimi tuli la balle-ballena).
b. Senang= bahagia
-senang: dirinya sangat senang ketika diberi hadiah mobil baru oleh ayahnya.
-Bahagia: bahagia rasanya bisa bertemu kembali dengan teman lama.
(Rannu: kalengna sanna rannuna riwattungna disare hadiah oto beru ri bapakna)
(Bahagia: sanna rannuna kulle sibuntulu motere siagang agang sallona)
2. Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan.
Contohnya:
a. Besar= kecil (lompo=caddi)
-Besar: begitu luas dan besar negera indonesia kita ini.
-Kecil: Kecil bukan berarti lemah terhadap lawan.
(Lompo: sanna luarakna siagang lompoi anne negarayya indonesia).
(Caddi: manna caddi tena tongja nikana lammai mange ri musunna).
b. Sempit= Longgar (seppang= longgang)
-Sempit: Celana ini terlalu sempit untuk dipakai besok.
-Longgar: Gunakanlah waktu longgar dengan kegiatan positif.
(Seppang: Anjo saluwaraka sanna seppangna nampa na nipake anmuko)
(Longgang: Pake laloi wattunu longgang-longgang ri kegiatan anu bajika)
3. Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu.
Contohnya:
a. Darah (Cera')
- ibu dan pak ari memiliki hubungan darah, hanya saja mereka tidak saling tahu.
- Darah bercucuran dipertandingan taekwondo semalam.
Kata "darah" pada contoh kalimat pertama memiliki arti saudara, pada contoh kalimat kedua memiliki arti cairan tubuh.
(I ammak siagang bapak ari nia hubungan cerakna tapika tena na ji na issengi)
(Anjo cerakka assolong-solong ri pertandingan taekondo ri bangngia)
b. Api (Pepek)
-Tika melihat Nyala api yang berkobar-kobar dari atas gedung apartment.
- Kedua remaja itu, hatinya sedang terbakar api.
Kata "api" pada contoh kalimat pertama memiliki arti yang sesungguhnya yaitu api, pada contoh kalimat kedua memiliki arti rasa cinta.
(Tika naciniki rinra pepeka akkuwayang-kuwayang i rate ri apartment)
(Anjo ruaya anak muda, atinna akkanrei pepe).
4. Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya "kebetulan" sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Contohnya:
a. Saya masih punya hubungan darah dengan keluarga bu rani.
(Darah= kesaudaraan)
b. Tubuhnya berlumuran darah setelah kepalanya terbentur tiang listrik.
(Darah= yang berada dalam tubuh)
-I nakke nia inja hubungan cerakku siagang bija pammanakang na i ammak rani
(Cerak= Sakribattang)
- Anjo kalengna ni rassi ri cerak lekbakna takguntu ulungna ri tiangna sitoronnga
(Cerak= Anjo i lalang ri kalea)
5. Hiponimi
Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Contohnya:
a. Mengkonsumsi buah-buahan seperti mangga, jeruk, semangka, dan melon dapat mencukupi kebutuhan vitamin dalam tubuh.
-Hiponimi: Mangga, jeruk, semangka dan melon.
(Na konsumsi anjo kanre-kanreyannga ia miantu taipa, lemo, mandike siagang melon na kulle ganna vitamin i lalang ri kaleya)
-Hiponimi: Taipa, lemo, mandike, na melon.
b. Naluri hewan buasa seperti singa, harimau, ular, komodo dan beruang sangat tajam terutama dalam hal mencari makanan.
-Hiponimi: Singa, harimau, ular, komodo dan beruang.
(Anjo Pangngarakna olo'-olo' sannaka rewana iya miantu, singa, harimau, ulara, pudalle siagang beruang, sanna cidukna punna mange boya kanre)
-Hiponimi: Singa, harimau, Ulara, Pudalle, beruang.
6. Ambiguiti atau ketaksaan
Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya ke gandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contohnya:
a. Minggu lalu kami bertemu dengan pemimpin agama katolik yang berdomisili di roma.
b. Minggu lalu kami bertemu sejenis ikan besar yang disebut paus.
(Allo ahad para katte assibuntulu siagang pammarentana katolik anjo domisilia mange ri roma)
(Minggu riolo nakke assibuntulu sikamma juku lompo anjo biasaya nikana juku pangngiwang)
7. Redundansi
Redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contohnya:
a. Jagalah kebersihan lingkungan, agar supaya kita terbebas dari berbagai macam penyakit.
(Jagai anjo katangkasanga, na supaya kulleki bebasa ri jaina garring)
b. Kehidupan dikota jakarta begitu keras.
(Anjo pattallasanga ri kotana jakarta sanna susahna)
8. Perubahan makna
a. Perubahan makna dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
- Sastra rikamma kammayya anne sanna jai rupanna
(Sekarang,sastra mempunya banyak jenis)
Sebagai akibat perkembangan bidang keilmuan, kata sastra yang pada awalnya bermakna “tulisan”, lalu berubah menjadi bermakna “bacaan”, kemudian berubah lagi menjadi bermakna “buku yang baik isi dan bahasanya”. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi “karya bahasa yang bersifat imajinatif dan kreatif”.
- Anjo kappalak penumpanga simombala battu ri Jakarta mange ri Jawa
(Kapal penumpang itu berlayar dari Jakarta ke Makassar)
kata berlayar yang pada awalnya bermakna perjalanan di laut (air) dengan mengunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar sebagai akibat perkembangan teknologi kini berubah makna menjadi sebuah tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan menggunakan kapal bertenaga mesin, bahkan juga tenaga nuklir.
b. Perubahan makna Dalam bidang sosial budaya
-Ruang bulang mami na jari sarjanamo rifal
(Tinggal dua bulan rifal sudah jadi sarjana)
kata sarjana, dahulu dalam bahasa jawa kuno berarti orang pandai atau cendikiawan. Sekarang kata sarjana bermakna orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi.
-Nia Sakribattanna fadli ri kamponga
(Fadli memiliki saudara di kampung)
kata saudara dalam bahasa sansekerta bermakna seperut atau satu kandung, sekarang digunakan untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial sama.
c. Perubahan makna dalam bidang pemakaian
- Kamba tena namange assikola kamangei pajjeko ri tanayya
(kamba tidak pergi ke sekolah karena dia menggarap sawah)
kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian, seperti menggarap sawah, tanah garapan, petani penggarap sekarang banyak digunakan dalam bidang lain dengan makna mengerjakan seperti tampak dalam frasa menggarap skripsi, menggarap buku bahan ajar, dan menggarap lagu.
-kata membajak, yang berasal dari bidang pertanian juga sudah biasa kini digunakan dalam bidang lain dengan makna “mencari keuntungan yang besar secara tidak benar”, seperti dalam frasa membajak lagu, membajak buku, membajak pesawat terbang.
d.Perubahan makna dengan adanya asosiasi
- I Adit mangei ammalli amplok
(Adit pergi membeli amplop)
kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau surat-menyurat, makna asalnya adalah ‘sampul surat’.
- Angngerangi amplok mange ri tau pabbuntinga
(Dia membawa amplop ke tempat pernikahan)
Ke dalam amplop itu selain biasa dimasukkan surat, dapat juga dimasukkan benda lain, misalnya uang.
Asosiasi antara amplop dengan uang berkenaan dengan wadah. Yang disebut wadahnya yaitu amplop. Tetapi yang dimaksud isinya yaitu uang.
e. Perubahan makna dengan pertukaran tanggapan indera
 -Bambanna kana kananna
(kata katanya cukup pedas)
rasa pedas yang seharusnya ditanggap engan alat indera perasa pada lidah bertukar menjadi ditanggap oleh alat indera pendengaran seperti tampak dalam ujaran.
- Teknena kana kananna mange ri taua
(Manisnya kata katanya ke orang)
kata manis yang seharusnya diranggap dengan alat perasa lidah menjadi ditanggap dengan alat indera mata, seperti dalam ujaran.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT UCAP PADA MANUSIA.

Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus beserta contohnya dalam bahasa Makassar

tugas ke 4 (Klasifikasi Bunyi)